Beranda Kutai Timur Puncak Karhutla Diprediksi Juli dan Agustus – Pemkab Bahas Langkah Antisipasi Sejak...

Puncak Karhutla Diprediksi Juli dan Agustus – Pemkab Bahas Langkah Antisipasi Sejak Dini

367 views
0

Saat Bupati Kutim duduk bersama Kepala KPHP Shahar Al-Haqq membahas langkah-langkah antisipasi karhutla. (Dok Pro Kutim)

SANGATTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini masih menjadi ancaman nyata. Ancaman semakin mengkhawatirkan manakala karhutla berpotensi menjadi “bencana ganda” bersama pandemi virus Corona. Apalagi karhutla yang menimbulkan asap dan virus Corona sama-sama memberi dampak negatif pada pernafasan.

Dengan latar belakang dimaksud, Bupati Kutim H Ismunandar mengajak semua pihak untuk tak meremehkan karhutla. Dengan mempersiapkan sejak dini penanganan Karhutla. Dirumah Jabatannya, Jum’at (5/6/2020), Ismunandar bersama Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau Shahar Al-Haqq dan jajarannya, didampingi Muhammad Naim selaku kepala bidang kedaruratan logistik dan peralatan (kadalog) BPBD Kutim duduk bersama. Membahas persiapan penanganan karhutla di tanah “Tuah Bumi Untung Benua” ini.

Kepada Bupati, Kepala KPHP Shahar Al-Haqq menyampaikan, upaya mempersiapkan rencana-rencana penanganan Karhutla kedepan perlu dilalukan sejak dini. Hal itu penting dilakukan jika melihat prediksi puncak karhutla kemungkinan terjadi sekitar Juli dan Agustus 2020. Dengan begitu, semua pihak bisa mempersiapkan upaya antisipasi. Memberi masukan kepada seluruh stakeholder, untuk menentukan siaga satu, dua, tiga sampai dengan tanggap darurat. 

“Karena setiap status siaga itu, ada tindakan-tindakan yang harus dilakukan dalam kegiatan kehutanan. Misalnya patroli, penyuluhan dan sebagainya. Sampai dengan status tanggap darurat yang pasti dikeluarkan oleh pihak BPBD,” jelasnya. 

Selanjutnya ada arahan melalui rapat. Kemudian barulah kepala daerah menerbitkan surat keputusan tanggap darurat. Namun demikian, untuk tahun ini menurut pantaunnya,  potensi karhutla di Kutim cenderung menurun. Sangat berbeda dengan tahun lalu yang terjadi lebih cepat. Karhutla saat itu lebih dipengaruhi faktor siklus lima tahunan dan letak geografi daerah bersuhu panas. 

“Jadi perkiraan puncak karhutla di Kaltim adalah bulan Agustus dan bulan selanjutnya betahap turun. Untuk saat ini, status Karhutla masih warna hijau. Makanya selagi hijau kita punya waktu untuk merancang (antisipasi) itu. Jadi ketika sudah masuk siaga, kita sudah memiliki langkah-langkah (pencegahan)-nya,” jelas dia. 

Mendengar penjelasan tersebut, Bupati Kutim H Ismunandar menyatakan siap mendukung penanganan pencegahan Karhutla sejak dini. Karena selaku kepala daerah, dirinya tentu bukan hanya fokus pada penganggulangan pandemi Corona. Tetapi juga persoalan karhutla. Sebab karhutla juga bisa memberikan dampak negatif yang luar biasa, jika tidak ditangani serius. 

“Kita siap memberikan dukungan terhadap penanganan karhutla yang ada. Karena hal itu adalah tanggung jawab kita semua,” ujarnya. (hms7/hms3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here