Pemandangan alam nan hijau di sekitar Gunung Beriun tampak eksotis. Foto: ist

SANGATTA – Kegiatan petualangan alam bebas di tengah pandemi COVID-19 yang belum kunjung usai memang secara tak langsung melemahkan sektor apa pun. Tidak terkecuali di bidang pariwisata petualangan. Namun banyak cara menyalurkan minat penjelajahan dengan tetap aman menerapkan protokol kesehatan. 

Berbicara Agustus, tentunya pemandangan warna-warni merah putih sudah terasa di lingkungan sekitar, jelang HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Kelompok Pecinta Alam (PA) Sangatta Backpacker menggagas ekspedisi pendakian ke Gunung Beriun jilid dua, dalam misi mengibarkan bendera merah putih di detik-detik proklamasi pada Senin (17/8/2020) mendatang.

Sebelumnya pada jilid pertama, Kelompok PA Sangatta Backpacker sudah melakukan kegiatan pendakian Gunung Beriun pada Februari lalu mendampingi salah seorang pendaki gunung, sekaligus penyanyi Fiersa Besari untuk menyukseskan program pendakian 33 gunung di Indonesia. Khusus di Kaltim sendiri, pelantun lagu “April” itu memilih Gunung Beriun, Kecamatan Karangan. 

Ketua Panitia pendakian Gunung Beriun jilid dua yaitu Wahyudin mengatakan, tim pendakian yang akan berangkat menuju Kecamatan Karangan pada 15-18 Agustus 2020 dibatasi hanya 20 orang pendaki. Ditambah 10 panitia, termasuk guide dari penduduk lokal. Mengantisipasi membludaknya pendaftaran jelajah di jajaran Pegunungan Sangkulirang Mangkalihat di Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Khususnya dimasa-masa pandemi.

Tim ekspedisi pendakian Gunung Beriun jilid pertama. Foto: ist

“Kita mempersiapkan 20 slot kuota pendaki saja yang berminat untuk menyemarakkan upacara bendera di puncak Gunung Beriun. Hingga kini sudah tercatat pendaki yang mendaftar di kesekretariatan ada 16 orang, masih ada 4 slot tersisa. Bagi siapa saja yang ingin ikut terlibat dalam ekspedisi ini (harus) dalam keadaan sehat,” bebernya.

Wahyudin menambahkan, di puncak Gunung Beriun, seluruh peserta akan membentangkan bendera merah putih sepanjang 7×2 meter. Kemudian mengumandangkan lagu Indonesia Raya dengan standar protokol kesehatan yang dijalankan.

“Kami tetap menggunakan masker penutup mulut, membawa hand sanitizer dan sarung tangan. Hal ini kita wajibkan untuk seluruh peserta pendakian, selain SOP peralatan pendakian dan logistik,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Pendakian Gunung Beriun jilid dua yaitu Akbar Sastra menjelaskan, nama ekspedisi “Merdeka Dalam Jiwa” ini adalah sebuah bahan bakar rangkaian dialektika perjalanan. Romantika kehidupan, motivasi dan cakrawala pemikiran yang dibungkus secara harmoni dengan balutan daun cinta serta tali kasih sayang. Terhadap kekayaan alam pegunungan karst di Gunung Beriun. Hal inilah yang memotivasi tim PA Sangatta Backpacker memeriahkan HUT ke-75 sebagai kado kemerdekaan RI tahun ini di atap tertinggi Kutim.

“H-12 menuju pendakian Gunung Beriun, sejauh ini persiapan sudah mencapai 70 persen. Sebelum keberangkatan peserta akan dikumpulkan untuk technical meeting (TM) di basecamp PA Sangatta Backpacker di kawasan Assadiyah, Sangatta Utara,” jelasnya.

Seluruh peserta wajib mempersiapkan fisik dan mental. Walaupun dengan ketinggian di atas 1.000 meter, dirinya meminta peserta waspada terhadap medan berat di lokasi. Pasalnya selain hutan basah dan lembab banyak memiliki hewan pengisap darah (pacet) dan trek yang masih tertutup lebatnya tumbuhan.

Tim ekspedisi pendakian Gunung Beriun jilid pertama. Foto: ist

“Bisa dikatakan Beriun hutannya masih alami dan belum terjamah dan sifatnya liar mirip seperti hutan amazon di Brasil. Persiapkan seluruh peralatan pendakian dengan seksama,” katanya.

Lebih jauh menurut Akbar, Gunung Beriun dipilih karena dikenal dikelilingi hutan basah dengan ekosistem hayati beraneka ragam. Dengan ketinggian puncaknya 1.261 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Potensi Gunung Beriun bisa dibilang masih alami. 

“Kami harap ke depan penjelajahan ini dapat terekspose di media, untuk lebih mengenalkan Gunung Beriun di Kutim (ternyata) tidak kalah mentereng dengan jajaran pegunungan tersohor di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Sehingga menjadi daya tarik tersendiri,” jelasnya.

Karakter gunung ini memiliki keunikan dalam bentangan Sangkulirang-Mangkalihat yang dikenal dengan gua telapak tangan. Menyimpan jutaan liter air untuk mengairi kehidupan sekitarnya. (hms13/hms3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here