SANGATTA- Di bawah langit Sangkimah yang teduh, denting sape’ bersahut-sahutan dengan tarian perang dan tepuk tangan hadirin. Dalam suasana yang sarat makna dan kebanggaan budaya, Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) Mahyunadi, membuka perhelatan Pakenoq Tawai. Sebuah pertemuan adat dua tahunan keluarga besar Dayak Kenyah Lepoq Bem yang berlangsung mulai 9 hingga 12 Juli 2025 di Desa Sangkimah, Kilometer 17 Poros Sangatta-Bontang.
Dalam sambutannya, Mahyunadi menyampaikan pesan yang tak sekadar normatif. Di hadapan ratusan warga adat, tokoh masyarakat, dan tetua Dayak, ia menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar kata, tetapi harga diri peradaban.

“Perdamaian itu sangat mahal. Tak ternilai harganya. Karena dengan perdamaian, kita bisa membangun, merencanakan masa depan, dan menyelesaikan persoalan,” ujar Mahyunadi tegas, Rabu (8/7/2025).
Pernyataan Mahyunadi tak lahir dari ruang hampa. Ia menyitir sejarah dunia, mengingatkan bahwa kehancuran bangsa kerap bermula dari kegagalan merawat harmoni sosial.
“Lihat Yugoslavia, yang pecah karena konflik etnis. Atau Cekoslowakia, yang meski damai, tetap berpisah karena ketidakmampuan menyatukan pandangan. Kita tidak ingin seperti itu,” katanya.

Menurut Mahyunadi, merawat perdamaian di tengah keberagaman seperti yang dimiliki Kutim, dengan puluhan etnis dan subetnis, harus dimulai dari budaya dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap kearifan lokal. Dan Pakenoq Tawai adalah contoh nyata nilai itu masih hidup.
Di luar pesan damai dan pelestarian budaya, momen ini juga menjadi panggung penyampaian aspirasi warga. Mahyunadi menerima langsung permintaan terkait kejelasan status lahan warga Dayak Kenyah di wilayah enclave Taman Nasional Kutai (TNK), khususnya di Dusun Mari Bangun dan Mekar Baru.
“Kami memahami situasi ini dan akan memperjuangkan perluasan enclave agar warga memperoleh kepastian hukum atas lahan yang mereka tempati dan kelola,” kata Mahyunadi.
Lebih dari itu, Mahyunadi juga menyampaikan komitmen Pemkab Kutim untuk menyempurnakan bangunan Lamin di Desa Sangkimah agar menjadi ikon budaya yang representatif dan layak menjadi simbol peradaban Dayak Kenyah di gerbang utama Kutim.

“Lamin ini akan kita finishing dengan baik. Sangkimah adalah pintu masuk Kutai Timur. Lamin yang kuat akan merepresentasikan kekuatan sosial, potensi wisata, dan daya saing daerah kita,” ujarnya.
Pakenoq Tawai bukan sekadar acara tahunan, melainkan ritual kolektif yang merekatkan identitas dan komitmen budaya Dayak Kenyah Lepoq Bem.
Ketua Adat, Nansen Yehuda, menggambarkan pertemuan ini sebagai ruang refleksi sekaligus regenerasi nilai-nilai.
“IKN sudah di depan mata. Pendatang bukan musuh, mereka saudara sebangsa. Yang harus kita lakukan adalah memperkuat kualitas SDM agar mampu bersaing,” ujarnya.
Yehuda menyebut, Pakenoq Tawai adalah momentum strategis untuk mempertegas posisi masyarakat adat di tengah arus transformasi. Dia menyebut warganya ingin menjadi masyarakat Dayak Kenyah yang modern, harmonis, dan berlandaskan Pancasila.

“Tapi itu hanya bisa dicapai bila kami tetap menjaga akar budaya kami,” tegasnya.
Ia menambahkan, setiap kegiatan dalam Pakenoq Tawai adalah bagian dari doa dan rasa syukur, yang tak terlepas dari restu leluhur dan alam. Pakenoq Tawai bukan hanya ajang evaluasi program kerja, tetapi juga selebrasi budaya yang semarak. Dimulai dengan prosesi adat penyambutan Wakil Bupati, termasuk pengalungan dan pemberian topi khas Dayak oleh tetua adat, suasana perayaan terasa penuh khidmat.
Rangkaian acara diisi dengan pertunjukan Tari Perang, musik sape’, hingga pameran kerajinan tangan seperti anyaman, manik-manik, dan perlengkapan adat. Lomba olahraga tradisional seperti sumpit, gasing, dan belogo turut memeriahkan suasana.

Kegiatan kuliner pun tak kalah menggugah selera. Warga menyajikan aneka hidangan khas Dayak, mulai dari nasi bambu, sayur pakis, hingga ikan salai yang dimasak dengan cara tradisional. Sebagai penutup, digelar sesi Ngobrol Budaya yang mempertemukan tetua adat dengan generasi muda dalam diskusi lintas generasi tentang pelestarian nilai dan makna tradisi.
Di era yang makin pragmatis, Dayak Kenyah Lepoq Bem membuktikan bahwa warisan leluhur tak sekadar artefak masa lalu. Ia adalah suluh masa depan. Di bawah langit Sangkimah, suara sape’ bersenandung tenang, seperti mengingatkan bahwa perdamaian bukan warisan, melainkan keputusan. Setiap hari. Setiap generasi. (kopi4/kopi3)
































