Beranda Kutai Timur Keterbatasan Tak Surutkan Pelayanan, Minim Fasilitas Puskesmas Sandaran Bertahan

Keterbatasan Tak Surutkan Pelayanan, Minim Fasilitas Puskesmas Sandaran Bertahan

190
0

Kepala Puskesmas Sandaran dr Yustinus Budi Rindanto (foto Ist)

SANDARAN – Di ujung timur Kabupaten Kutai Timur (Kutim), tepatnya di Kecamatan Sandaran, semangat pelayanan kesehatan tetap menyala meski di tengah segala kekurangan. Kepala Puskesmas Sandaran dr Yustinus Budi Rindanto, tak menutupi kenyataan bahwa fasilitas medis di wilayahnya masih jauh dari kata ideal.

“Di sini masih ada beberapa hal yang belum tersedia. Kami masih kekurangan tenaga perawat sesuai dengan standar operasional, (hingga) ahli gizi,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan pemeriksaan medis gratis Rumah Sakit Kapal (RSK) dr Lie Dharmawan di Desa Manubar, Selasa (4/11/2025).

Ia menjelaskan, keterbatasan sumber daya menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan di daerah terpencil. Sejumlah alat medis belum sepenuhnya terpenuhi, termasuk peralatan gigi yang masih menunggu realisasi pengadaan.

“Fasilitas kesehatan juga masih berproses karena sumber daya terbatas, termasuk alat kesehatan gigi yang sedang kami usulkan pemenuhannya,” sambungnya.

Namun, di tengah keterbatasan itu, harapan tetap tumbuh. Program Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjadi oase yang meringankan beban pelayanan. Menurut dr Budi, tambahan tenaga medis dari program tersebut memberi napas baru bagi pelayanan masyarakat di Sandaran.

“Alhamdulillah sekarang ada penambahan dari program Nusantara Sehat yaitu satu dokter umum, dokter gigi, dan perawat gigi,” ungkapnya.

Program RSK dr Lie Dharmawan juga menjadi wujud nyata solidaritas kemanusiaan di wilayah pesisir. Melalui layanan pemeriksaan umum hingga tindakan medis lanjutan, masyarakat memperoleh akses kesehatan yang sebelumnya sulit dijangkau.

“Hari ini ada kegiatan pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat secara gratis program dr Lie Dharmawan, dimana jika ada penyakit-penyakit yang perlu ditangani lebih lanjut bisa dilakukan tindakan di rumah sakit kapal,” jelas dr Budi.

Kehadiran rumah sakit terapung itu disambut hangat oleh warga Desa Manubar Dalam. Dani, salah satu warga, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia mengaku, jarak menjadi kendala utama selama ini dalam mendapatkan layanan kesehatan.

“Bersyukur dihadirkan rumah sakit kapal karena di sini kami cukup kesulitan kalau ada warga atau anak kami sakit harus ke puskesmas. Rumah kami jauh, sedangkan di Sandaran saja puskesmasnya cuma satu. Semoga ke depan bisa bertambah fasilitas kesehatan lainnya seperti pustu,” harap pria 40 tahun itu.

Kisah di Sandaran menjadi potret kecil perjuangan layanan publik di daerah pelosok negeri. Di antara keterbatasan sarana dan jarak yang menantang, tekad tenaga medis dan kepedulian sosial dari berbagai pihak menjadi penopang utama agar masyarakat tetap mendapat hak dasarnya: hidup sehat dan terlayani. (*/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini