Beranda Keagamaan Menautkan Iman dan Masa Depan, Ibadah Konsolidasi PWGT Kutim Tekankan Pembinaan Remaja

Menautkan Iman dan Masa Depan, Ibadah Konsolidasi PWGT Kutim Tekankan Pembinaan Remaja

112 views
0

Ibadah Konsolidasi PWGT Klasis Kutai Timur (Kutim). Foto: istimewa

SANGATTA – Di bawah temaram cahaya yang membias melalui jendela Gereja Toraja Jemaat Rama Sangatta, suasana hening berubah menjadi perayaan kebersamaan. Pada Sabtu, 22 November 2025, sebanyak 201 peserta dari berbagai jemaat hadir dalam Ibadah Konsolidasi PWGT Klasis Kutai Timur (Kutim). Agenda ini bukan sekadar kegiatan rutin rohani, melainkan ruang perjumpaan gagasan, komitmen pelayanan, serta refleksi atas masa depan generasi muda.

Ibadah dipimpin oleh Pdt Agus Bubun, sebagai pelayan firman. Melalui renungan dan pembacaan nats, ia menegaskan kembali pemahaman iman sebagai fondasi tumbuh kembang remaja. Sebuah pesan yang mengalir lembut namun tegas di ruang ibadah.

Sesi pembinaan kemudian diisi oleh Bidan Yuliana Kala’lembang yang kini menjabat sebagai Bidang III sekaligus Ketua Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia (PC IBI) Kutim. Materi berjudul “Peran Bina Keluarga Remaja (BKR) dalam Membina Remaja Gereja Toraja di Klasis Kutai Timur” dipaparkan dengan struktur yang sistematis dan relevan dengan tantangan zaman.

Ia membuka pemaparan dengan menegaskan urgensi pendampingan remaja. Menurutnya, masa remaja adalah persimpangan penting. Ruang pencarian jati diri di tengah derasnya arus informasi, perubahan nilai, hingga penetrasi teknologi yang membentuk sudut pandang baru terhadap kehidupan, pergaulan, dan spiritualitas.

“Remaja adalah masa transisi penting menuju kedewasaan,” demikian pengantar sesi tersebut dipaparkan.

Materi menyoroti bahwa Bina Keluarga Remaja hadir sebagai wahana yang memperkuat hubungan emosional dan komunikasi antara orang tua serta anak. Fungsinya bukan hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga pendampingan rohani yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, serta karakter Kristiani.

Dalam konteks Kutim, tantangan yang dihadapi remaja disebut semakin kompleks. Ketergantungan terhadap gawai, terpaan media sosial, hingga kurangnya komunikasi terbuka di lingkungan keluarga, menjadi faktor yang melatarbelakangi perlunya pembinaan terstruktur dan penuh empati.

Sesi ini juga membahas strategi implementasi seperti pelatihan fasilitator BKR di tingkat jemaat, pendampingan kasus, pembentukan kelompok diskusi. Serta penggunaan media kreatif termasuk musik rohani dan konten digital.

Harapan besar disampaikan, kelompok BKR-GT di Klasis Kutim dapat berkembang dengan baik. Sehingga membawa dampak positif bagi pertumbuhan dan perkembangan remaja Gereja Toraja, khususnya di Kutim.

Sebagai penutup, kegiatan dirangkaikan dengan pemeriksaan IVA test bagi peserta yang bersedia. Program ini menjadi langkah preventif kesehatan reproduksi perempuan, khususnya dalam mencegah risiko kanker serviks.

Di antara rangkaian kegiatan, satu kalimat yang muncul dalam materi pembinaan menjadi gema yang mengikat seluruh pesan hari itu. “Membina remaja berarti membentuk masa depan”

Di Sangatta, sore itu, ratusan jemaat pulang membawa renungan baru, bahwa iman tidak hanya diajarkan, tetapi diwariskan melalui dialog, kasih, pendampingan, dan konsistensi. Gereja, keluarga, dan BKR, tiga pilar yang bergerak serempak demi menghadirkan remaja yang teguh dalam karakter, matang dalam iman, dan siap menapaki masa depan. (kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini