Beranda Keagamaan Tahlil Akbar di Pusara, Wabup Kutim Sebut Hati Serasa Lebih Dekat

Tahlil Akbar di Pusara, Wabup Kutim Sebut Hati Serasa Lebih Dekat

40 views
0

Foto: ist

SANGATTA – Pagi yang masih sejuk menyelimuti Pemakaman Umum Gang Banjar, Teluk Lingga, Sangatta Utara, Selasa (17/2/2026). Di antara deret nisan yang tertata sunyi, ratusan jamaah duduk bersila, melantunkan tahlil dan doa dengan khidmat. Badan Koordinasi Masjid dan Musalla (BKMM) Muslimat NU Kutai Timur (Kutim) menggelar Tahlil Akbar menyambut bulan suci Ramadan. Sebuah ikhtiar batin yang digelar di ruang hening, di hadapan pusara.

Sejak awal kegiatan, suasana teduh dan sarat permenungan terasa mengemuka. Para pengurus dan anggota BKMM Muslimat NU, tokoh agama, serta masyarakat sekitar memadati area pemakaman umum. Bacaan tasbih, tahmid, dan doa mengalun beriringan, menyatu dengan udara pagi yang sejuk.

Wabup Kutim H Mahyunadi, hadir bersama jemaah. Ia mengaku memperoleh pengalaman spiritual yang berbeda karena untuk pertama kalinya mengikuti haul yang dilaksanakan langsung di area pemakaman.

“Saya baru pertama kali hadir dalam haul seperti ini. Saya biasa melaksanakan haul juga, tapi melaksanakan haul di pemakaman ini baru pertama kali. Ada baiknya juga haul di sini, karena orang hadir di kuburan, kalau kita mendoakan, hatinya serasa lebih dekat,” ujar Mahyunadi.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menghadirkan kedekatan batin yang lebih mendalam. Ia menuturkan, setiap kali berziarah ke makam sang ayah, Mahyunadi yang mantan Ketua DPRD Kutim, mengaku merasakan seolah-olah berhadapan langsung dalam keheningan.

“Tiap saya ziarah ke makam ayah saya, hati serasa dekat, serasa berhadapan,” tuturnya.

Di lingkungan pemakaman, kata Mahyunadi, manusia diajak berdialog dengan nuraninya sendiri. Keheningan membuka ruang tafakur tentang kehidupan dan kematian, tentang kefanaan yang tak terelakkan. Menurutnya hati juga berbicara, apakah orang-orang dalam kubur ini bahagia, atau sedih.

“Lalu hati kembali berbicara, bagaimana kalau aku mati, apakah bahagia atau sedih dalam kubur. Pikiran kemudian terbuka dan memperbanyak amalan sholeh untuk bekal kita di akhirat kelak,” ucapnya.

Ia juga membagikan pesan yang pernah ia dengar dari seorang guru, bahwa kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara. Ibarat musafir yang menata bekal sebelum melanjutkan perjalanan panjang. Manusia mempersiapkan sesuatunya dalam perjalanan.

“Persiapan kita harus lengkap dan pandai-pandai menempatkan persiapan itu,” katanya.

Menurutnya, setiap fase kehidupan memerlukan perbekalan yang berlainan. Ada bekal untuk dunia, ada bekal untuk alam barzah, dan ada bekal untuk Padang Mahsyar.

“Begitu juga di hidup ini, mana bekal di dunia, mana bekal di alam barzah, mana bekal di Padang Mahsyar,” jelasnya.

Untuk itu dia berharap kegiatan seperti ini harus diperbanyak untuk menjadi pengingat umat dalam mempersiapkan bekal di perjalanan menuju hari akhir kelak.

Tahlil Akbar tersebut bukan hanya wahana kirim doa bagi mereka yang telah berpulang, melainkan juga momentum mempertebal kesadaran rohani. Di tengah denyut kehidupan yang kerap melalaikan, pemakaman menjadi ruang sunyi yang menghadirkan kebeningan. Ramadan pun disambut bukan dengan gegap gempita semata, melainkan dengan permenungan. Menata niat, menambah amal, serta menginsafi batas usia yang tak seorang pun mengetahui ujungnya. (*/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini