Beranda Kutai Timur Program Kolaborasi, IBI Kutim Turun ke Kecamatan, Gaungkan Deteksi Dini Kanker Serviks

Program Kolaborasi, IBI Kutim Turun ke Kecamatan, Gaungkan Deteksi Dini Kanker Serviks

355 views
0

Foto: ist

KARANGAN – Upaya memperkuat kesehatan ibu dan anak kembali digaungkan hingga ke pelosok kecamatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Para bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kutim bergerak langsung ke lapangan melalui rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan reproduksi dan bakti sosial yang dilaksanakan di sejumlah wilayah. Gerakan tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia serta Hari Bidan Internasional 2026.

Tidak sekadar seremoni, kegiatan itu diisi dengan pelayanan kesehatan keluarga, edukasi reproduksi perempuan, hingga peluncuran pemeriksaan IVA Test (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sebagai upaya deteksi dini kanker serviks. Sejak awal Mei, kegiatan dilaksanakan bergilir di berbagai kecamatan. Pada Sabtu, (9/5/2026), para bidan menggelar pelayanan kesehatan di Kecamatan Sangkulirang, lalu berlanjut sehari kemudian, Minggu, (10/5/2026), di Kecamatan Karangan.

Di Kecamatan Karangan, kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur masyarakat dan pemerintah setempat. Tampak hadir Ketua Pengurus Cabang IBI Kutim, para ketua ranting IBI beserta anggota, Ketua TP PKK Kecamatan, Kepala Tata Usaha Puskesmas, Sekretaris Desa Karangan Ilir, Ketua PKK desa dan anggota, perwakilan Dharma Wanita Persatuan, perwakilan CSR perusahaan, Kantor Urusan Agama Karangan, kader posyandu, hingga masyarakat peserta bakti sosial.

Dalam kesempatan itu, Kepala Seksi PMDH Kecamatan Karangan, Hubertus Umar, mewakili camat, menegaskan bahwa kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi penting bagi masa depan bangsa.

“Menjadi satu harapan para generasi kita tumbuh dengan baik dan berkembang dengan cerdas. Ujung tombaknya adalah bidan,” ujarnya.

Ia berharap para bidan terus memberikan pendampingan kepada masyarakat, terutama perempuan yang tengah mempersiapkan kelahiran. Pendampingan tersebut dinilai penting agar para ibu memahami proses persalinan secara aman dan mampu menghindari risiko yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

“Berharap bidan terus memberikan pendampingan agar ibu-ibu benar-benar mengetahui persiapan dapat melahirkan selamat, menghindari bahaya kematian terkait keselamatan nyawa. Terima kasih kepada para bidan yang telah mengambil profesi ini,” katanya.

Menurut Hubertus, profesi bidan memiliki kedudukan penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Dari tangan para bidanlah proses kelahiran berlangsung lebih aman dan generasi baru dapat tumbuh sehat.

“Mudah-mudahan profesi ini terus berkembang dengan inovasi mencari cara terbaik mendukung proses persalinan dan mendukung anak tumbuh kembang dengan baik,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa kemajuan bangsa sesungguhnya dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan tekun. Upaya edukasi kesehatan oleh para bidan, menurutnya, menjadi bagian dari proses mencerdaskan masyarakat.

“Untuk menjadi bangsa yang besar dimulai dari hal kecil. Termasuk para bidan melalui IBI yang selalu memberikan edukasi. IBI juga memiliki tanggung jawab mencerdaskan rakyat Indonesia,” ujarnya.

Hubertus menilai segala keterbatasan yang ada tidak menjadi penghalang bagi para bidan untuk tetap mengabdi kepada masyarakat. Dia mengakui semua memang memiliki keterbatasan, namun dengan dedikasi yang baik dan inovatif dari IBI, prosesi melahirkan akan semakin mudah. Ia juga menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga kualitas kesehatan generasi sejak dalam kandungan.

“Dalam pembangunan berkelanjutan, kita harus memperhatikan kesehatan hingga gizi ibu hamil. Kita tidak akan mampu menciptakan negara yang maju jika tidak mempersiapkan generasi yang cerdas,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat diajak membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai fondasi kehidupan. Ia juga mengapresiasi langkah para bidan yang aktif menjangkau wilayah kecamatan.

“Kami berterima kasih kepada IBI bisa melakukan kunjungan kerja hingga ke kecamatan. Semoga bidan terus menjadi pahlawan keselamatan ibu dan anak,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua IBI Kutim, Yuliana Kalalembang, menjelaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya terus bergerak sejak pengukuhan pengurus baru pada 14 September 2025. Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah membentuk kepengurusan ranting hingga ke seluruh wilayah kecamatan.

“Pembentukan pengurus ranting sebanyak 22 ranting pada 18 kecamatan, atau mencapai 100 persen,” ujarnya.

Selain itu, IBI Kutim juga menyusun program kerja lima tahunan serta rencana kerja tahunan organisasi. Saat ini, kegiatan bakti sosial dalam rangka HUT IBI masih terus berlangsung, bersamaan dengan agenda monitoring, evaluasi, serta penguatan organisasi ranting sepanjang 2026.

Menindaklanjuti surat edaran Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia terkait rangkaian peringatan HUT ke-75 IBI dan Hari Bidan Internasional 2026, IBI Kutim menyelenggarakan berbagai kegiatan pelayanan masyarakat. Salah satu program utama adalah bakti sosial pelayanan keluarga berencana serta peluncuran pemeriksaan IVA Test.

Program tersebut dilaksanakan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Kutim, Tim Penggerak PKK Kabupaten Kutim, serta Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana.
Peluncuran IVA Test bertujuan menggaungkan kembali pentingnya deteksi dini kanker mulut rahim di tengah masyarakat. Meski program ini telah lama dijalankan di puskesmas, cakupan pemeriksaannya masih tergolong rendah.
Berdasarkan data program penyakit tidak menular, hingga Maret 2026 baru 189 perempuan yang menjalani pemeriksaan dari target 77.136 orang di Kutim.

Untuk mendorong peningkatan cakupan, peluncuran perdana IVA Test dilaksanakan pada 11 April 2026 di ranting Batu Ampar. Kegiatan tersebut dihadiri berbagai unsur lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, TP PKK Kabupaten, Dharma Wanita Dinas Kesehatan, camat, ketua PKK kecamatan, hingga kepala puskesmas.
Program ini menyasar perempuan usia 30-50 tahun yang telah menikah atau pernah melakukan hubungan seksual. Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, kegiatan ini juga diharapkan membantu tenaga kesehatan di puskesmas meningkatkan capaian skrining kanker serviks. Target cakupan nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah 70 persen perempuan usia 30–50 tahun sebagai bagian dari upaya eliminasi kanker serviks pada 2030.

Setelah peluncuran di Batu Ampar, kegiatan serupa digelar di sejumlah ranting lainnya, antara lain Serpaso (Kecamatan Bengalon), Kombeng, Sangatta Utara, Wahau 1, Wahau 2, Teluk Pandan, Kaubun, Tepian Baru (Kecamatan Bengalon), Sangkulirang, hingga Karangan.
Hingga 10 Mei 2026, sebanyak 11 ranting atau sekitar 50 persen dari total 22 ranting di Kutai Timur telah melaksanakan peluncuran IVA Test dengan jumlah pemeriksaan mencapai 313 perempuan. Angka tersebut diperkirakan terus bertambah seiring berjalannya program di wilayah lain.

IBI Kutim berharap informasi mengenai deteksi dini kanker serviks dapat menjangkau seluruh kecamatan dan wilayah kerja puskesmas. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, cakupan skrining kanker serviks di daerah ini diharapkan meningkat secara signifikan.

Di balik upaya tersebut, tersimpan harapan besar: tumbuhnya kesadaran bersama lintas sektor dan organisasi perempuan tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu. Dalam pandangan para bidan, ibu adalah “tiang negara”, sosok yang melahirkan generasi sehat menuju visi besar Indonesia Emas 2045.

“Terima kasih kepada semua pihak yang terus mendukung dan membantu IBI Kutim dalam melaksanakan program kerjanya. Selamat Ulang Tahun IBI yang ke-75,” ujar Yuliana. (kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini