Kepala Dinas Pariwisata Kutim Mahriadi. Foto: Dewi Prokutim
SANGATTA – Derap pembangunan Kalimantan Timur (Kaltim) yang kian deras seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai menggeser cara pandang banyak daerah terhadap sektor jasa dan pariwisata. Di Kutai Timur (Kutim), geliat hotel, restoran, serta industri hospitality (keramahtamahan) kini dipandang bukan lagi pelengkap denyut ekonomi, melainkan salah satu simpul penting pertumbuhan baru di luar sektor pertambangan. Pandangan itu mengemuka dalam Musyawarah Cabang (Muscab) BPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kutim Tahun 2026 yang berlangsung di Lounge Hotel Royal Victoria Sangatta, Senin pagi (25/5/2026). Forum tersebut menjadi ruang ikhtiar pelaku usaha sekaligus pemerintah daerah untuk membaca arah baru ekonomi Kutim di tengah perubahan lanskap Kaltim.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kepala Dinas Pariwisata Kutim Mahriadi menegaskan bahwa keberadaan hotel dan restoran memiliki jangkauan pengaruh yang jauh melampaui layanan penginapan maupun konsumsi semata. Di balik meja jamuan, kamar inap, dan ruang pertemuan, terdapat mata rantai ekonomi yang menghidupi banyak lapisan masyarakat.

“Keberadaan hotel dan restoran bukan sekadar menyediakan layanan akomodasi dan konsumsi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat, termasuk menciptakan lapangan kerja dan menghidupkan UMKM lokal,” ujar Ardiansyah.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana sektor hospitality bekerja seperti sulur yang menjalar ke berbagai lini ekonomi. Ketika hotel bertumbuh dan restoran ramai dikunjungi, maka pelaku usaha bahan pangan, pengrajin kuliner, jasa transportasi, hingga pelaku ekonomi kreatif turut merasakan perputaran rezeki.
Industri ini, dalam istilah ekonomi modern, menjadi penghela (multiplier effect) yang mampu menumbuhkan aktivitas turunan secara berantai. Pemerintah daerah menilai PHRI memiliki kedudukan strategis sebagai mitra pembangunan. Di tengah arus mobilitas bisnis dan meningkatnya kunjungan ke Kaltim, Kutim dipandang mempunyai peluang untuk tampil bukan hanya sebagai wilayah penghasil sumber daya alam, tetapi juga daerah tujuan bisnis dan wisata.

Potensi itu, menurut pemerintah, tidak hanya bertumpu pada kekayaan alam semata. Ragam budaya lokal, kuliner khas daerah, hingga peluang investasi yang terus tumbuh menjadi modal penting untuk memperkuat daya saing kawasan. Namun, di tengah kompetisi antardaerah yang semakin rapat, pelayanan menjadi perkara yang tak dapat ditawar.
Mahriadi, masih membacakan sambutan Bupati menyampaikan bahwa wisatawan dan pelaku usaha kini tidak lagi semata mencari tempat menginap yang nyaman atau ruang makan yang representatif. Mereka juga menaruh perhatian pada keramahan pelayanan, kebersihan lingkungan, keamanan, hingga profesionalitas sumber daya manusia.
“Pelayanan yang baik akan meninggalkan kesan positif bagi pengunjung. Itu penting untuk membangun citra daerah,” katanya.

Kalimat itu seolah menjadi penanda bahwa wajah sebuah daerah kini tidak hanya dinilai dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari tata layanan dan sikap manusianya. Dalam dunia hospitality, kesan kecil kerap menjelma penilaian besar.
Pemkab Kutim juga mulai mendorong pemanfaatan teknologi digital sebagai medium promosi usaha dan pariwisata. Di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin bertumpu pada platform digital, promosi konvensional dinilai tidak lagi cukup untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Karena itu, pelaku hotel dan restoran diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk memperkuat promosi destinasi, layanan reservasi, hingga pengenalan produk kuliner lokal melalui ruang digital.
Dalam arah pembangunan jangka menengah daerah, Pemkab Kutim turut menaruh perhatian pada pengembangan sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), penguatan UMKM, serta wisata kuliner. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas fondasi ekonomi daerah agar tidak bertumpu pada satu sektor semata.
Di tengah perubahan besar yang dibawa pembangunan IKN, Kutim tampaknya tengah bersiap mencari wajah baru ekonominya. Hotel, restoran, dan industri keramahtamahan perlahan diposisikan sebagai salah satu serambi depan daerah. Tempat pertama yang menyambut tamu, investor, maupun pelancong yang datang membawa peluang.
Melalui Muscab PHRI 2026 itu, pemerintah berharap lahir kepengurusan organisasi yang solid, profesional, dan mampu menjawab tantangan industri yang terus bergerak mengikuti zaman.
“Semoga Muscab ini menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi maupun pembangunan daerah,” tutup Mahriadi usai membacakan sambutan Bupati Kutim. (kopi15/kopi4/kopi3)
































