Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DPTPHP) Kutai Timur (Kutim), Buhari. Foto: Alvian Pro Kutim
SANGATTA – Di tengah geliat modernisasi pertanian nasional, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan diri menapaki gelanggang Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XVII Tahun 2026 di Gorontalo. Forum agraria berskala nasional itu kini tidak lagi dipandang sekadar ruang temu petani dan nelayan, melainkan simpul pertukaran pengetahuan, inovasi teknologi, hingga penguatan ekonomi berbasis agroindustri pedesaan.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim melalui Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Bohari, menilai keberadaan KTNA semakin strategis dalam memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan daerah. Menurut dia, tantangan sektor pertanian hari ini tidak hanya berkutat pada produksi, tetapi juga perubahan iklim, efisiensi usaha tani, dan kemampuan petani mengikuti laju teknologi.
Pernyataan itu ia sampaikan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (25/5/2026), ketika menjelaskan persiapan kontingen Kutim menuju Penas KTNA XVII yang akan berlangsung pada 20–25 Juni 2026 di GOR David Tony Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Ajang nasional tersebut mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Program Swasembada Pangan guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045.” Tema itu menjadi penanda arah baru pembangunan sektor pertanian nasional yang semakin bertumpu pada modernisasi alat produksi, digitalisasi pertanian, serta percepatan swasembada pangan.
Bohari, birokrat yang cukup lama berkecimpung di lingkungan pemerintahan Kutim, memahami denyut persoalan sektor pangan dari bawah. Sebelum menjabat di DTPHP Kutim, ia pernah bertugas sebagai Kepala Pasar Induk Sangatta dan sempat menjadi tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum Kutim. Pria asal Gowa, Sulawesi Selatan, itu memandang transformasi teknologi tidak dapat dielakkan apabila sektor pertanian ingin tetap bertahan menghadapi masa depan.
“KTNA ini bukan hanya tempat berkumpulnya petani, tetapi juga wadah pembelajaran dan pengembangan inovasi. Jadi petani sekarang dituntut tidak hanya produksi, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian,” ujarnya.

Di Kutim, geliat modernisasi pertanian mulai tampak dari keterlibatan petani milenial yang telah memanfaatkan teknologi berbasis digital. Penggunaan drone, misalnya, perlahan menjadi bagian dari lanskap pertanian modern di daerah itu. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu penyemprotan lahan, pemetaan area pertanian, hingga meningkatkan efisiensi produksi.
Menurut Bohari, keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menyiapkan sektor pertanian yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena itu, berbagai unsur petani dari seluruh kecamatan mulai dilibatkan dalam persiapan menuju Penas KTNA 2026.
“Kita libatkan seluruh kecamatan. Ada kelompok tani andalan, kelompencapir, termasuk petani milenial yang sudah menguasai teknologi seperti drone dan lainnya. Yang terdata ikut ada sekitar 70 peserta, dan akan bergabung dengan tim dari Provinsi Kaltim,” katanya.
Kelompencapir-akronim dari Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa, yang dahulu dikenal sebagai ruang komunikasi pembangunan pedesaan, kini kembali dihidupkan sebagai medium penguatan kapasitas petani di tengah arus informasi digital yang semakin deras. Selain menyiapkan sumber daya manusia pertanian, Kutai Timur juga membawa sejumlah potensi unggulan daerah untuk dipamerkan pada gelar teknologi dan pameran daerah di ajang nasional tersebut. Beberapa komoditas yang disiapkan antara lain lobster air tawar, pisang, dan berbagai hasil pertanian unggulan lain yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.
“Intinya nanti di Penas KTNA kita tampilkan prestasi dan potensi yang memang sudah dicapai Kutai Timur,” jelas Bohari.
Bagi Kutim, Penas KTNA tidak berhenti pada seremoni tahunan. Forum itu dipandang sebagai wahana silaturahmi agraris sekaligus ruang bertukar pengetahuan antardaerah. Di sana, petani, nelayan, penyuluh, hingga pelaku usaha pangan dapat saling menimba pengalaman mengenai teknologi, produktivitas, serta pengembangan pasar hasil pertanian. Pengalaman mengikuti Penas KTNA 2023 di Padang menjadi cermin evaluasi bagi kontingen Kutim. Bohari mengatakan pihaknya kini lebih cermat mengantisipasi berbagai persoalan teknis, mulai dari mobilisasi peserta hingga kesiapan pemondokan. Bahkan, ia bersama tim telah melakukan peninjauan langsung ke Gorontalo dua pekan lalu guna memastikan kesiapan lokasi dan fasilitas penunjang kegiatan.
“Kita sudah antisipasi dari awal. Pengalaman sebelumnya menjadi pelajaran berharga supaya pelaksanaan di Gorontalo nanti bisa lebih maksimal,” ujarnya.
Di tengah kompetisi antardaerah yang diperkirakan berlangsung ketat, Bohari tetap optimistis Kutim mampu menunjukkan daya saing sektor pertaniannya. Ia percaya penguatan KTNA akan melahirkan petani yang langkung (lebih maju), tangkas membaca perubahan zaman, serta piawai memanfaatkan teknologi modern demi menopang ketahanan pangan nasional.
Bagi daerah yang selama ini lebih dikenal sebagai kawasan tambang, geliat pertanian modern yang mulai tumbuh di Kutim menjadi penanda penting bahwa sektor pangan tetap memiliki ruang strategis dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Dari hamparan sawah, kebun pisang, hingga inovasi drone pertanian, Kutim tengah menata langkah menuju cita-cita besar: menghadirkan petani yang berdaulat di tanahnya sendiri, sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia pada 2045. (kopi4/kopi3)





























