Beranda Kutai Timur Momen Bengen Lepeng Majau, Warga Rindang Benua Sampaikan Aspirasi Pembangunan

Momen Bengen Lepeng Majau, Warga Rindang Benua Sampaikan Aspirasi Pembangunan

297 views
0

Jalannya gelaran kegiatan Bengen Lepeng Majau yang dihadiri oleh Wakil Bupati Kutim Mahyunadi.Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA SELATAN – Masyarakat Dusun Budaya Rindang Benua, Kecamatan Sangatta Selatan menggelar kegiatan Bengen Lepeng Majau Tahun 2026 sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan yang diterima masyarakat sepanjang tahun. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (5/6/2026) tersebut dihadiri unsur pemerintah, perusahaan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat setempat.

Kegiatan yang merupakan tradisi syukuran pascapanen padi gunung itu dihadiri Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi, Anggota DPRD Kutim dari Partai Perindo sekaligus Tokoh Dayak Baya Sargius, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif (Kabid Ekraf) Dinas Pariwisata Achmad Rifanie, serta Sekcam Sangatta Selatan Rusmiati, perwakilan perusahaan, tokoh adat, tokoh agama, serta ratusan warga setempat.

Ketua Panitia Ingan Lian, menyampaikan sejumlah usulan pembangunan yang dinilai mendesak untuk meningkatkan kesejahteraan warga. Di antaranya penyediaan sarana air bersih atau jaringan PDAM, mengingat selama ini masyarakat masih mengandalkan air sumur, air hujan, dan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.

Selain itu, Lian juga mengusulkan semenisasi jalan dan gang lingkungan guna meningkatkan aksesibilitas masyarakat. Dua jembatan kayu yang saat ini kondisinya sudah tidak layak juga diharapkan dapat dibangun ulang menjadi jembatan permanen berbahan beton demi menjamin keselamatan dan kelancaran mobilitas warga.

Pada sektor keagamaan, masyarakat berharap pembangunan gereja yang berada di wilayah Rindang Benua dapat dilanjutkan hingga selesai. Sementara bagi sektor pertanian, warga mengharapkan bantuan pupuk untuk kelompok tani karena tingginya harga pupuk yang menjadi kendala dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Masyarakat juga mengusulkan pengerasan dan pembukaan jalan usaha tani guna mempermudah pengangkutan hasil perkebunan menuju pasar. Menurut warga, infrastruktur pertanian yang memadai akan berdampak langsung pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Aspirasi lainnya adalah pembangunan Balai Adat dan Balai Budaya Rindang Benua. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai penting sebagai pusat pelestarian budaya Dayak, pengembangan kesenian daerah, kegiatan sosial kemasyarakatan, hingga pelaksanaan berbagai pertemuan adat dan budaya.

“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah ini dapat membantu mewujudkan pembangunan Balai Adat dan Balai Budaya Rindang Benua sebagai kebanggaan masyarakat Dayak,” ujar Ingan Lian.

Ingan Lian turut menyampaikan bahwa kegiatan Bengen Lepeng Majau merupakan tradisi syukuran pascapanen yang terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Dayak. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menyampaikan berbagai aspirasi pembangunan kepada pemerintah daerah dan pihak perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Ingan Lian, juga menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan kegiatan. Dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat mencapai Rp 11.288.000. Sejumlah bantuan juga diberikan oleh berbagai pihak, di antaranya PT Pertamina sebesar Rp 1.500.000, PT Kaltim Coal berupa 200 kotak nasi, PT Indominco Mandiri sebesar Rp 2.500.000, Mahasatta Kutim Rp 500.000, Sekretaris Kecamatan Sangatta Selatan Rp 500.000, bantuan pribadi dari Bayan sebesar Rp 2.000.000 serta dari Anggota DPRD Kutim dr Novel sebesar Rp 500.000.

Total dana yang terkumpul hingga pelaksanaan kegiatan mencapai Rp 17.288.000. Sementara itu, total pengeluaran panitia selama persiapan kegiatan yang berlangsung sekitar tiga minggu mencapai Rp 26.980.000. Dengan demikian, panitia masih mengalami kekurangan anggaran sebesar Rp 9.692.000.

Bagi masyarakat Rindang Benua, Bengen Lepeng Majau bukan sekadar seremoni tahunan. Tradisi ini adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan, tempat rasa syukur dipanjatkan atas hasil panen yang diperoleh sekaligus ruang untuk merawat identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

Kepala Adat Jating Lahang, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa para petani telah berhasil menyelesaikan musim panen tahun 2026 dengan hasil yang cukup baik. Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat.

Namun di balik keberhasilan panen, warga juga menitipkan sejumlah harapan kepada pemerintah daerah dan perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah mereka. Kebutuhan air bersih, pembangunan jalan lingkungan, rehabilitasi jembatan, bantuan pupuk bagi kelompok tani, hingga pembangunan balai adat dan budaya menjadi usulan utama yang disampaikan.

Warga juga berharap pembangunan Balai Adat dan Budaya Rindang Benua dapat segera terealisasi. Bangunan tersebut diharapkan menjadi rumah bersama bagi pelestarian seni, budaya, serta aktivitas sosial masyarakat adat Dayak di wilayah tersebut.

Selain itu, masyarakat mengusulkan pembangunan fasilitas olahraga bagi generasi muda. Menurut mereka, kehadiran lapangan olahraga yang memadai dapat menjadi sarana pembinaan sekaligus mencegah anak-anak dan remaja terjerumus pada aktivitas negatif.

Persoalan pendidikan turut menjadi perhatian. Warga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap fasilitas pendidikan yang masih terbatas agar anak-anak di wilayah tersebut memperoleh layanan pendidikan yang layak dan setara.

Sementara itu, Wakil Bupati Kutim Mahyunadi memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat masyarakat dalam menjaga tradisi dan persatuan. Ia menilai Dusun Rindang Benua memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Kutim.

“Budaya adalah identitas yang harus terus dijaga. Saya melihat di sini berbagai suku hidup berdampingan dan bersama-sama melestarikan budaya Dayak. Ini menjadi kekuatan besar bagi Kutai Timur,” ujarnya.

Mahyunadi juga mengapresiasi pertunjukan seni dan tarian yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, ragam warna dan gerak dalam tarian menggambarkan keberagaman masyarakat yang mampu bersatu dalam harmoni.

Sebagai bentuk dukungan, ia meminta Dinas Pariwisata agar memasukkan Bengen Lepeng Majau ke dalam kalender event tahunan Kabupaten Kutim. Langkah itu dinilai penting untuk memperkuat promosi budaya sekaligus meningkatkan kunjungan wisata ke Sangatta Selatan.

Tidak hanya itu, Mahyunadi juga merespons sejumlah aspirasi masyarakat terkait pembangunan infrastruktur. Ia menyatakan dukungan terhadap pembangunan sarana air bersih, jalan kelompok tani, rehabilitasi jembatan, serta pengembangan fasilitas pendidikan yang menjadi kebutuhan warga.

Dalam kesempatan yang sama, Mahyunadi turut membantu menutup kekurangan anggaran pelaksanaan kegiatan yang sebelumnya dilaporkan panitia masih mengalami defisit. Bantuan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari masyarakat yang hadir.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Sangatta Selatan, Rusmiati berharap kegiatan panen padi gunung dan festival budaya seperti Bengen Lepeng Majau dapat terus berkembang dan menjadi agenda wisata budaya unggulan daerah. Aktivasi kembali Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga dinilai penting untuk mendukung pengembangan destinasi berbasis budaya dan masyarakat.

Menjelang akhir acara, doa-doa dipanjatkan bersama. Asap dapur yang mengepul dari rumah-rumah warga seolah menyatu dengan harapan yang terbang ke langit, harapan akan jalan yang lebih baik, air bersih yang mengalir, sekolah yang layak, serta budaya yang tetap hidup di tengah arus zaman.

Bengen Lepeng Majau 2026 pun menjadi lebih dari sekadar syukuran panen. Ia hadir sebagai nyala pelita di tengah hutan budaya Rindang Benua, menerangi langkah masyarakat menuju masa depan yang lebih sejahtera tanpa kehilangan akar tradisi yang selama ini menjadi penopang kehidupan mereka.

Meski demikian, pelaksanaan Bengen Lepeng Majau Tahun 2026 berlangsung dengan lancar dan penuh semangat kebersamaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya dan ungkapan rasa syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat untuk mendorong percepatan pembangunan di Dusun Budaya Rindang Benua, Kecamatan Sangatta Selatan.(kopi15/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini