Dandim 0909/KTM yang baru Letkol Czi Zainal Abidin tampil perdana di Makodim dalam sertijab dan tepong tawar. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Luas bentang Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang mencapai sekitar 35 ribu kilometer persegi bukanlah wilayah yang mudah dipahami hanya melalui laporan administrasi. Hamparan kawasan yang membentang dari pesisir hingga pedalaman itu menyimpan beragam dinamika yang hanya dapat dikenali melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat dan prajurit yang bertugas di garis terdepan. Kesadaran itulah yang mengawali langkah Letkol Czi Zainal Abidin ketika dipercaya memegang tongkat komando sebagai Komandan Kodim (Dandim) 0909/KTM.
Pada penampilan perdananya di Markas Kodim 0909/KTM dalam rangkaian serah terima jabatan dan tradisi tepung tawar di Aula Makodim Bukit Pelangi, Rabu (1/7/2026), Zainal tidak banyak berbicara mengenai rencana besar. Ia justru mengisahkan ikhtiarnya mengenali wilayah penugasan melalui perjalanan yang telah lebih dahulu dilakoninya sebelum resmi menjabat. Bagi alumnus Akademi Militer 2006 tersebut, amanah sebagai komandan bukan hanya menyandang kewenangan struktural. Jabatan itu menuntut pemahaman yang utuh terhadap medan pengabdian, karakter wilayah, sekaligus denyut kehidupan prajurit yang setiap hari menjalankan tugas pembinaan teritorial.
Karena itulah, jauh sebelum prosesi pelantikan berlangsung, Zainal telah menyambangi 18 kecamatan di Kutim. Perjalanan itu dilakukannya untuk menemui para Bintara Pembina Desa (Babinsa), prajurit yang menjadi ujung tombak komunikasi antara TNI dan masyarakat.
Baginya, setiap kunjungan merupakan kesempatan mendengar secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi anggota di lapangan. Dari sanalah sebuah kebijakan, menurut dia, dapat disusun berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata bersandar pada laporan tertulis.
“Saya ingin memahami dinamika dan kesulitan yang dihadapi anggota di lapangan. Dengan melihat langsung, kita tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dipertahankan,” ujar Zainal saat ditemui awak wartawan dalam acara pisah sambut di Aula Makodim Bukit Pelangi, Rabu (1/7/2026).
Pilihan memulai kepemimpinan dengan menapak wilayah tugas menjadi cerminan pendekatan yang hendak dibangunnya. Ia meyakini, kedekatan dengan anggota akan mempermudah proses pembinaan sekaligus memperkuat pelaksanaan tugas teritorial yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Rekam jejak pengabdiannya turut membentuk cara pandang tersebut. Perwira kelahiran Bojonegoro itu pernah menjalani penugasan selama sembilan tahun di Ambon. Lingkungan tugas yang menuntut ketahanan mental, kesiapsiagaan, serta disiplin tinggi menjadi kawah candradimuka (tempat menempa kemampuan) yang membentuk karakter kepemimpinannya.

Pengalaman panjang itu pula yang membuat gaya komunikasinya kerap terdengar lugas dan berintonasi tegas. Namun, di balik penyampaian yang keras, ia menegaskan tidak pernah membawa persoalan pribadi ke dalam kedinasan. Menurut Zainal, ketegasan merupakan bagian dari tanggung jawab agar setiap tugas dapat dijalankan secara tepat sasaran dan profesional. Sementara di luar urusan kedinasan, ia menghendaki hubungan yang dibangun bersama anggota bertumpu pada semangat kekeluargaan.
“Jika saya marah, itu bukan kemarahan pribadi, melainkan demi kedinasan dan agar tugas berjalan tepat sasaran. Di luar itu, saya ingin kita berjalan secara kekeluargaan,” tuturnya.
Pandangan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa kepemimpinan yang kokoh tidak hanya ditopang oleh rantai komando, melainkan juga oleh rasa saling menghormati dan kepercayaan yang tumbuh di antara atasan serta bawahan.
Perwira yang pernah mengemban amanah sebagai Komandan Batalyon (Danyon) di Bali itu juga mengungkapkan harapan yang ingin diwariskan selama bertugas di Kutim. Baginya, keberhasilan seorang prajurit tidak hanya diukur dari pencapaian kedinasan, melainkan juga dari jejak hubungan baik yang tetap terpelihara setelah masa penugasan berakhir.
“Kita lebih senang jika setelah berpindah tugas, kita masih disambut dengan tangan terbuka di tempat yang lama. Itu adalah kebahagiaan tertinggi seorang prajurit,” katanya.
Ungkapan tersebut memperlihatkan cara pandangnya mengenai makna pengabdian. Dalam benaknya, hubungan antarmanusia merupakan pusaka (warisan bernilai luhur) yang jauh lebih abadi daripada jabatan yang sewaktu-waktu dapat berganti. Di balik kesibukan memimpin satuan, Zainal juga menaruh perhatian terhadap ketenteraman keluarga prajurit. Ayah dari Daniel Natifah Bidin dan Ibrahim Natifah Bidin itu memandang bahwa keluarga merupakan penyangga utama yang memungkinkan seorang prajurit menjalankan tugas dengan tenang dan penuh dedikasi.
Karena itu, ia berpesan kepada jajaran Persit agar senantiasa menjaga keharmonisan rumah tangga di tengah padatnya ritme pengabdian para suami. Dukungan keluarga, menurutnya, menjadi penguat yang menjaga semangat prajurit dalam menjalankan amanah negara.
Berbekal latar belakang Korps Zeni, Letkol Czi Zainal Abidin juga menyatakan kesiapannya melanjutkan berbagai program yang telah dirintis pejabat sebelumnya. Ia menegaskan siap “tancap gas” mengawal program strategis daerah, termasuk pembangunan kantor Makodim yang baru. Komitmen tersebut menjadi bagian dari kesinambungan pelaksanaan program agar seluruh agenda yang telah berjalan tetap dapat diteruskan tanpa terputus oleh pergantian kepemimpinan.
Bagi masyarakat Kutim, pendekatan yang dibawa Dandim baru itu menghadirkan harapan akan hadirnya satuan teritorial yang semakin dekat dengan warga. Langkah awalnya bukan diawali dari ruang rapat ataupun meja kerja, melainkan dari perjalanan menyusuri kecamatan, mendengarkan cerita para Babinsa, serta memahami kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Dari sanalah kepemimpinan itu bermula. Bukan hanya dengan aba-aba, melainkan dengan kesediaan menapaki medan pengabdian, menyimak suara dari lapisan paling bawah, lalu merangkainya menjadi pijakan untuk melanjutkan tugas di Bumi Etam. (kopi13/kopi3)































