Beranda Kutai Timur Nadi Ekonomi Baru, Jembatan Nibung Penghubung Kaubun dan Sangkulirang Diresmikan

Nadi Ekonomi Baru, Jembatan Nibung Penghubung Kaubun dan Sangkulirang Diresmikan

701 views
0

Peresmian jembatan Nibung yang menghubungkan Desa Kadungan Jaya dan Pelawan oleh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

​KAUBUN – Harapan panjang masyarakat di perbatasan kecamatan akhirnya terwujud. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas’ud, secara resmi meresmikan Jembatan Nibung yang menghubungkan Desa Kadungan Jaya Kecamatan Kaubun dengan Desa Pelawan Kecamatan Sangkulirang, pada Selasa (24/2/2026).

​Peresmian ini disambut dengan suka cita dan antusiasme luar biasa oleh warga setempat. Pasalnya, jembatan ini telah lama didambakan sebagai sarana transportasi utama yang memangkas jarak tempuh antarwilayah di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

​Kepala Desa Pelawan, Norhanuddin, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas realisasi pembangunan infrastruktur tersebut. Ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Kaltim dan Pemerintah Kabupaten Kutim atas perhatian mereka terhadap kebutuhan warga desa.

​”Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pimpinan provinsi dan pimpinan pemerintah Kabupaten Kutim. Atas terbangunnya jembatan penghubung ini, dua desa kini menyatu. Ini adalah urat nadi perekonomian kami,” ujar Norhanuddin saat ditemui di lokasi acara.

​Menurut Norhanuddin, keberadaan jembatan ini akan mengubah pola transaksi ekonomi masyarakat secara signifikan. Warga kini memiliki akses yang jauh lebih mudah untuk berbelanja kebutuhan pokok ke wilayah Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, hingga ke ibu kota kabupaten di Sangatta.

​Sektor pertanian juga diprediksi akan melonjak pesat karena jalur distribusi yang kini terbuka lebar. Petani tidak perlu lagi merasa khawatir mengenai logistik pengiriman hasil bumi mereka ke pasar-pasar terdekat yang lebih besar.

​”Kalau ada hasil kebun berupa tanaman palawija seperti singkong, kacang, dan cabai, warga tidak lagi kewalahan untuk menjualnya. Penjualan kini bisa langsung diarahkan ke Pasar Kaubun dengan waktu tempuh yang singkat,” tambah Norhanuddin.

​Momentum peresmian ini juga dimanfaatkan Pemerintah Desa Pelawan untuk menghidupkan kembali rencana pusat niaga di wilayah mereka. Norhanuddin berharap keberadaan jembatan akan memicu percepatan pembangunan fasilitas umum lainnya yang sempat tertunda.

​”Kami berniat membangun kembali pasar pusat perbelanjaan Desa Pelawan yang pernah diresmikan Pemkab Kutim dulu. Dengan adanya jembatan ini, semoga rancangan pembangunan kami dimudahkan dan dicepatkan untuk kedepannya,” harapnya dengan optimis.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Kadungan Jaya, Dina Gusrianti, menilai jembatan ini sebagai progres luar biasa bagi desa transmigrasi yang dipimpinnya. Ia melihat potensi besar bagi pengembangan UMKM lokal karena posisi desa yang kini berada di jalur strategis.

​”Desa kami ini kawasan transmigrasi sejak tahun 1995. Ini potensi besar untuk pusat UMKM dan aset-aset desa agar bisa meningkat. Apalagi ini merupakan jalan poros yang menghubungkan antarkabupaten hingga ke Berau,” jelas Dinagusrianti.

​Risman, salah seorang warga setempat, tidak dapat menyembunyikan bahagianya saat menyaksikan peresmian jembatan tersebut. Baginya, ini bukan sekadar struktur beton, melainkan pintu kesejahteraan bagi keluarganya yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari hasil pertanian.

​”Dulu kami harus berputar jauh atau menggunakan kapal, sekarang semuanya serba cepat. Saya sangat bersyukur karena peresmian jembatan ini membuka akses langsung bagi kami untuk menjual hasil usaha pertanian ke pasar luar tanpa takut busuk di jalan,” ungkap Risman dengan penuh haru.

Manfaat nyata jembatan ini juga dirasakan langsung oleh para pelaku jasa transportasi logistik yang melintasi jalur poros tersebut. Andre, seorang sopir yang biasa membawa muatan ikan dari Berau menuju Samarinda, mengaku sangat terbantu dengan adanya akses jembatan permanen ini. Baginya, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan penghematan biaya operasional yang sangat signifikan bagi para sopir lintas kabupaten.

​”Alhamdulillah sangat terbantu. Kami biasanya harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah hanya untuk membayar biaya kapal penyeberangan sekali lewat,” ungkap Andre saat sedang menepi di area sekitar jembatan. Dengan hilangnya biaya penyeberangan tersebut, Andre dan rekan-rekan sopir lainnya bisa mengalokasikan dana tersebut untuk keperluan lain atau pemeliharaan kendaraan.

​Kini, harapan besar tertumpu pada keberlanjutan ekonomi pasca-peresmian. Masyarakat berharap pemerintah tidak berhenti di pembangunan jembatan saja, melainkan terus mendukung perbaikan akses jalan pendukung, agar mobilitas antar-kecamatan ini benar-benar menjadi motor penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan bagi warga Kutim.(kopi14/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini