Momen PPTI melakukan penyuluhan TBC untuk warga Sandaran. Foto: Miftah/Dewi Pro Kutim
SANDARAN – Kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang berlangsung di halaman Kantor Camat Sandaran, Rabu (8/10/2025), tidak hanya dimeriahkan dengan senam massal dan pemeriksaan kesehatan gratis. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) turut hadir memberikan penyuluhan mengenai penyakit Tuberkulosis (TBC) kepada ratusan warga yang hadir.
Ketua PPTI Kutim Siti Robiah Ardiansyah, yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Kutim, membuka langsung acara penyuluhan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga pola hidup sehat sebagai langkah awal dalam mencegah penularan TBC.

“Harus ada perencanaan hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri dan keluarga. Penyakit TBC ini sangat cepat menular, jadi jangan menunggu sakit untuk bertindak,” tegas Siti Robiah di hadapan warga Sandaran yang memadati tenda utama kegiatan Germas.
Siti Robiah juga mengingatkan bahwa penanggulangan TBC tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan melalui edukasi masyarakat dan pendampingan bagi penderita.
“TBC bisa disembuhkan dengan sempurna asal rutin berobat. Kader-kader di kecamatan harus terus memberi edukasi dan mengawal agar TBC tidak menular,” ujarnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada para kader PPTI, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dan masyarakat atas partisipasi aktif dalam kegiatan ini.
“Terima kasih kepada teman-teman PPTI dan Dinkes yang sudah hadir. Mari bergandengan tangan untuk mengawal pengobatan TBC agar bisa benar-benar hilang. Target nasional tahun 2030 Indonesia bebas TBC, dan saya berharap Kutim bisa lebih cepat dari itu,” harapnya.

Suasana penyuluhan semakin hidup ketika Sekretaris PPTI Kutim dr Muhammad Yusuf, menyampaikan materi tentang ciri-ciri dan bahaya penyakit TBC. Ia menjelaskan materi secara sederhana agar mudah dipahami oleh warga.
“Kalau ada yang batuk lebih dari tiga minggu, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, sering demam, itu sudah tanda-tanda TBC,” jelas dr Yusuf.
Ia menambahkan, segera lakukan pemeriksaan lanjutan dengan pemeriksaan mikroskopis di fasilitas kesehatan. Karena satu orang pengidap TBC bisa menularkan 15 sampai 20 orang di sekitarnya.

Yusuf juga menekankan pentingnya disiplin dalam mengonsumsi obat hingga tuntas. Ia mengingatkan bahwa banyak penderita yang berhenti minum obat di tengah jalan, yang dapat menyebabkan resistensi obat.
“Kalau tidak tuntas, penyakitnya akan lebih sulit diobati. Jadi, harus patuh minum obat setiap hari sesuai anjuran dokter,” tegasnya.
Selain itu, Yusuf mengingatkan warga yang telah terdiagnosis TBC untuk selalu menjaga etika batuk dan menggunakan masker demi mencegah penularan ke orang lain.
“Kalau sudah tahu diri TBC, harus sadar diri juga pakai masker. Ini bukan hanya soal pengobatan, tapi juga tanggung jawab sosial,” ujarnya.
PPTI Kutim, lanjutnya, memiliki target eliminasi TBC setiap tahun, dengan melibatkan kader di setiap desa.
“Minimal dua kader di tiap desa aktif memantau dan mendata warga bergejala. Harapannya, tidak ada lagi masyarakat Kutim yang menderita TBC,” tutup Yusuf.(kopi8/kopi13/kopi3)




































