Beranda Kutai Timur Demokrasi “Akar Rumput”, Pemilihan Ketua RT di Kutim Kuatkan Kebersamaan

Demokrasi “Akar Rumput”, Pemilihan Ketua RT di Kutim Kuatkan Kebersamaan

261
0

SANGATTA – Senja mulai merayap ketika halaman Masjid Al-Fatihah di Dusun Singa Karta perlahan dipenuhi warga. Jumat (14/11/2025) sore itu, RT 55 Desa Persiapan Singa Karta menjadi ruang kecil tempat demokrasi bertumbuh dari akar yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Warga berdatangan satu per satu, sebagian membawa anak, sebagian lagi saling menyalami, menyiratkan bahwa pesta demokrasi bukan semata proses memilih, tetapi momentum merawat keakraban dan memperkuat gotong royong.

Di hadapan warganya, Ketua RT 55 Andik Arifin berdiri dengan nada tenang. Ia mengumumkan bahwa masa jabatannya berakhir pada November 2025, lalu menyampaikan keputusan yang disambut hormat oleh warga, dirinya cukup memimpin satu periode saja.

“Periode ini masa jabatan saya berakhir. Kami persilakan warga yang ingin mencalonkan diri untuk mendaftar sesuai aturan. Cukup satu periode untuk saya,” ujarnya, penuh kerendahan hati.

Pemilihan Ketua RT 55 merupakan bagian dari rangkaian pemilihan RT di wilayah Desa Sangatta Utara. Laelly, Ketua Panitia, menjelaskan bahwa sejak Oktober hingga Desember, sebanyak 15 RT telah melaksanakan pemilihan. Jumlah itu akan terus bertambah tahun depan karena pola pemilihan dilakukan bertahap. Proses tersebut juga melibatkan forkopimcam, Kepala Dusun Singa Karta, Ketua BPD, serta perangkat desa untuk menjamin keteraturan dan transparansi.

Laelly menerangkan bahwa mekanisme pemilihan di Sangatta Utara berbeda dari desa dan kelurahan lain, seperti Swarga Bara, Singa Gembara, dan Teluk Lingga, yang memilih secara serentak.

“Di Sangatta Utara, pemilihan RT dilakukan bertahap sejak 2024 hingga 2026, sesuai masa jabatan dalam SK masing-masing RT,” jelasnya.

Pada pemilihan kali ini, empat bakal calon dinyatakan memenuhi syarat. Yaitu Nur Kholis, Muhammad Thamrin, Maesar Aliah, dan Syahruddin Siddik. Dari 450 undangan yang disebar, sebanyak 242 warga hadir menggunakan hak pilih, satu suara untuk setiap kepala keluarga. Kehadiran tersebut menjadi cerminan kesadaran kolektif, bahwa suara sekecil apa pun memiliki makna dalam menentukan arah kepemimpinan di lingkungan sendiri.

Pemungutan suara berlangsung tertib. Di sela antrean, warga saling bertukar cerita, sesekali tertawa, menunjukkan bahwa ruang demokrasi tidak selalu kaku dan penuh protokol. Pada tingkatan seperti inilah nilai keakraban tumbuh alami: keputusan bersama dihasilkan tanpa meninggalkan suasana kekeluargaan.

Setelah penghitungan suara, Maesar Aliah dinyatakan terpilih sebagai Ketua RT 55, menggantikan Andik Arifin. Tepuk tangan mengalun, beberapa warga menepuk bahu sang ketua baru sebagai tanda dukungan. Pengumuman ini disaksikan Kepala Dusun Singa Karta Herianto, Ketua BPD Yusron, panitia pemilihan, serta seluruh warga yang hadir.

Kisah sederhana dari RT 55 menunjukkan bahwa demokrasi tidak selalu bising atau dipenuhi gegap gempita. Justru pada tingkat komunitas kecil semacam ini, tempat warga tumbuh, saling mengenal, dan saling menguatkan. Nilai demokrasi menemukan tanah yang subur. Di sinilah gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari yang membentuk wajah kepemimpinan lokal.

Dari ruang kecil bernama RT, warga menyalakan harapan, menata kebersamaan, dan merawat tradisi memilih sebagai bagian dari kehidupan. Demokrasi, pada akhirnya, bertumbuh dengan paling jujur di tempat-tempat seperti ini.
(kopi11/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini