Beranda Kutai Timur Lom Plai Menapak Panggung Nasional, Dispar Kutim Siapkan Langkah Strategis

Lom Plai Menapak Panggung Nasional, Dispar Kutim Siapkan Langkah Strategis

62
0

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur Akhmad Rifanie. (Foto : Istimewa)

SANGATTA – Dari pedalaman hutan Wehea yang rimbun dan sarat ingatan leluhur, Festival Adat dan Budaya Lom Plai Kecamatan Muara Wahau, kini melangkah ke gelanggang yang lebih luas. Pada 2026, perhelatan budaya khas Dayak Wehea itu resmi tercatat dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebuah etalase nasional bagi festival unggulan berbasis tradisi dan kearifan lokal.

Penetapan tersebut bukan sekadar seremoni administratif. Keputusan Menteri Pariwisata Republik Indonesia Nomor SK/2/HK.01.02/MP/2026 menegaskan Festival Lom Plai sebagai event terpilih hasil kurasi nasional. Sebuah pengakuan atas konsistensi masyarakat adat dalam merawat pusaka budaya yang diwariskan lintas generasi.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur (Plt Kadispar Kutim) Akhmad Rifanie, menyebut capaian ini sebagai kehormatan sekaligus peluang strategis bagi daerah.

“Dengan masuknya Festival Adat dan Budaya Lom Plai ke dalam agenda KEN 2026, ini menjadi kehormatan bagi kami selaku penyelenggara untuk mempromosikan potensi wisata dan budaya, sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Rifanie.

Festival Lom Plai diselenggarakan di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutim, sebuah wilayah adat Dayak Wehea yang masih memelihara ritus, simbol, dan tata hidup tradisional secara utuh. Di tempat inilah kebudayaan tidak dipamerkan sebagai artefak beku, melainkan dihidupi sebagai napas keseharian. Dari upacara adat, seni tutur, hingga relasi sakral dengan alam.

Rifanie menjelaskan, melalui musyawarah panitia bersama Lembaga Adat Wehea, jadwal pelaksanaan festival mengalami penyesuaian.

“Berdasarkan hasil musyawarah panitia lembaga adat Wehea, pelaksanaan Festival Adat dan Budaya Lom Plai direvisi dan akan dilaksanakan pada 23 Maret – 24 April 2026,” kata Rifanie.

Guna memastikan pelaksanaan berjalan optimal, Dispar Kutim memulai serangkaian langkah teknis. Diawali koordinasi internal untuk menyusun tahapan lanjutan. Sinkronisasi juga dilakukan dengan pemerintah desa, lembaga adat, para tetua, serta pihak Kecamatan Muara Wahau. Agar kesiapan lokasi, masyarakat, dan unsur pendukung terjamin.

“Kita juga promosikan melalui media lokal dan nasional, serta dengan melibatkan komunitas pariwisata dan ekonomi kreatif agar dampak kegiatan dapat dirasakan lebih luas,” jelasnya.

Lebih dari sekadar festival, Lom Plai diharapkan menjadi simpul perjumpaan antara tradisi dan masa depan. Rifanie berharap perhelatan 2026 berlangsung meriah, tertib, dan aman melalui kolaborasi Lembaga Adat Dayak Wehea, desa-desa di Muara Wahau, pemerintah kecamatan, sektor swasta, media, serta komunitas pariwisata, perjalanan, dan perhotelan.

“Ini juga merupakan bentuk dukungan terhadap 50 program unggulan Bupati Kutim. Kami berharap Kementerian Pariwisata RI dapat hadir dan menyaksikan langsung event daerah ini, termasuk para undangan lainnya,” tutupnya. (kopi14/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini