Wabup Kutim H Mahyunadi saat peresmian Titik Kumpul, didampingi Plt Camat Sangkulirang dan unsur Forkopimcam serta perwakilan PT GAM. (Alvian Pro Kutim)
SANGKULIRANG – Pagi itu, langit Sangkulirang nampak cerah. Angin laut bertiup pelan ke arah darat, membawa aroma asin yang berpadu dengan nasi kuning dari sebuah kios kecil di bibir jalan poros Desa Benua Baru. Tak jauh dari jembatan penghubung ke dua desa, berdiri bangunan sederhana namun berdaya hidup, Pusat Kuliner Titik Kumpul.
Tempat yang diresmikan pada Rabu (28/8/2025) ini menjadi simbol baru sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan tambang PT Ganda Alam Makmur (GAM). Diresmikan Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) H Mahyunadi, pusat kuliner ini tak hanya menyajikan makanan, melainkan juga harapan akan kemandirian ekonomi warga pesisir.
“Semoga ini jadi destinasi baru di wilayah ini. Tempat ini menarik, dan kami ucapkan terima kasih kepada PT GAM yang turut serta dalam menambah fasilitas di desa ini,” kata Mahyunadi saat meresmikan dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti.

Pusat kuliner ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT GAM. Dengan menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Idaman. Perusahaan membangun fasilitas publik yang terdiri atas tujuh kios permanen, dua gazebo, dan ruang terbuka untuk bersantai. Dilengkapi dengan toilet untuk pelanggan. Wajahnya sederhana, namun cukup untuk memberi ruang lahirnya geliat baru usaha kecil di Sangkulirang.
“Harapan kami pusat kuliner ini menjadi tonggak utama peningkatan pendapatan desa Benua Baru Ilir. Selain jadi ikon desa dan kecamatan, kami ingin ini juga meningkatkan kompetensi penggiat UMKM yang terlibat,” ujar Dody Zakaria, perwakilan CSR PT GAM yang juga putra daerah Sangkulirang.
Di tempat ini, berjejer kios dengan menu beragam. Mulai bakso, rice bowl, mie goreng, aneka jus, hingga jajanan tradisional khas Sangkulirang. Salah satu yang jadi buah tangan favorit adalah Gula Gaet, makanan manis yang kerap dibawa pulang pengunjung.

Kehadiran Titik Kumpul disambut antusias warga. Sejak pagi, pedagang telah menyiapkan dagangan mereka, menata meja, dan mengatur kursi di gazebo. Di tempat ini nampak remaja nongkrong sambil memotret suasana, dan keluarga duduk menikmati makanan ringan dengan hembusan angin laut.

Mahyunadi, yang sebelumnya melantik kepala desa dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), bahkan sempat kembali mampir. Ia menyapa pedagang satu per satu, membeli minuman serta jajanan tradisional. Dengan nada bercanda, ia menyebut Gula Gaet cocok untuk yang masih mencari pasangan.
“Makanan ini bagus untuk orang yang belum punya pasangan, Gula Gaet,” ucapnya, disambut gelak tawa pedagang.

Bagi Mahyunadi, pusat kuliner ini bukan sekadar fasilitas fisik, melainkan juga ruang sosial. Dia meminta masyarakat untuk menjaga aset-aset tersebut agar tetap terawat dan menjadi tempat masyarakat melepas penat. Ia pun menutup kunjungannya dengan doa sederhana.
“Semoga usaha mereka laris manis dan maju,” harapnya seraya mendoakan.
Meski bersyukur atas kehadiran fasilitas ini, Mahyunadi menyampaikan catatan penting. Menurutnya, program CSR hendaknya tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur semata. Ia berharap kontribusi perusahaan sepadan dengan hasil alam yang diambil dari bumi Kutim.
“Masyarakat sekitar harus benar-benar merasakan dampak positif dari keberadaan perusahaan,” tegasnya.

Kutipan itu mencerminkan kegelisahan lama di daerah kaya sumber daya seperti Kutim. Selama puluhan tahun, aktivitas pertambangan memberi pemasukan besar bagi negara dan perusahaan, namun masyarakat lokal sering kali hanya mendapat bagian kecil. Pusat kuliner ini, meski kecil, diharapkan menjadi contoh nyata bagaimana program CSR bisa menyentuh langsung kebutuhan warga.
Pengelolaan Titik Kumpul dipercayakan kepada BUMDes Karya Idaman. Dengan pola ini, pemerintah desa dan masyarakat diberi kesempatan mengelola fasilitas secara mandiri. Model semacam ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas kelembagaan desa sekaligus membuka peluang kerja baru.
Secara geografis, lokasinya strategis. Pusat kuliner berada di jalur lalu lintas utama menuju Desa Benua Baru Ulu dan Ilir, sekaligus tak jauh dari tepi laut yang menjadi salah satu ikon wisata alami Sangkulirang. Kombinasi ini memberi peluang agar pusat kuliner tak hanya dikunjungi warga lokal, tetapi juga pelintas dari daerah lain di pesisir. Tempat ini menjadi ruang baru bagi anak muda Sangkulirang yang selama ini minim pilihan tempat berkumpul.
Kehadiran Titik Kumpul bisa dibaca sebagai cermin kebutuhan daerah-daerah di Kutim yang terus berkembang. Pembangunan infrastruktur dasar memang penting, namun ruang publik yang mendukung ekonomi kerakyatan juga tidak kalah vital. Pusat kuliner semacam ini bisa menjadi model bagi desa-desa lain.
PT GAM melalui program CSR-nya mencoba menjawab tantangan itu, meski tentu kontribusi lebih besar tetap dinanti. Bagi masyarakat Benua Baru, Titik Kumpul adalah awal. Dari tempat sederhana ini, mereka berharap ada jalan panjang menuju kemandirian ekonomi. (kopi3)




































