Wabup Kutim H Mahyunadi saat menyerahkan paket sembako program GPM kepada masyarakat di Polder Ilham Maulana, Sangatta Utara. (Foto Ist)
SANGATTA – Di tengah riuh tenda-tenda penjualan bahan pokok di kawasan Polder Ilham Maulana, Sangatta Utara, suara H Mahyunadi menggema tegas. Dengan nada penuh empati, Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup) itu menyerukan agar pemerintah tidak berpangku tangan melihat warganya berjuang memenuhi kebutuhan harian. Ia mengajak seluruh aparatur daerah turun langsung ke lapangan, menjemput keluhan rakyat, dan memastikan tak ada keluarga yang kebingungan mencari makan esok hari.
Kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang dibuka Mahyunadi pada Kamis (16/10/2025) siang itu menjadi panggung nyata bagi kepedulian sosial. Program ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Ketahanan Pangan, bekerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, memperingati Hari Ulang Tahun ke-26 Kutim dan Hari Pangan Sedunia. Turut bekerja sama pula dengan para pihak lainnya.

“Saya harap program ini kita menjemput bola. Karena banyak masyarakat kita yang mengeluh. Masih banyak rakyat kita yang bingung besok mau makan apa. Ini yang harus kita datangi, kita harus bantu,” tegas Mahyunadi.
Ia menegaskan, Gerakan Pangan Murah merupakan cerminan nyata dari komitmen pemerintah untuk memastikan kesejahteraan rakyat. Bukan hanya janji, tetapi hadir dalam tindakan yang menyentuh kebutuhan dasar.
“Kita bisa hidup tenang, bekerja, penghasilan itu karena bangsa kita merdeka. Kalau tidak, kita tidak bisa mendapatkan semua fasilitas itu. Ini uang rakyat kembali ke rakyat,” ujarnya.





Mahyunadi yang hadir mewakili Bupati Kutim juga mengingatkan pentingnya sinergi antara perangkat pemerintah dan masyarakat. Ia meminta para Ketua RT lebih aktif mendeteksi warga yang membutuhkan bantuan, lalu berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta BAZNAS agar penyaluran zakat dan bantuan sosial tepat sasaran.
“Zakat itu prioritas untuk membantu orang miskin dan fakir,” pungkasnya.
Program GPM bukan hanya distribusi bahan pokok murah, tetapi manifestasi dari kehadiran negara di tengah masyarakat. Di Kutim, gerakan ini menjadi simbol kepedulian sosial yang menghidupkan kembali semangat gotong royong dan keadilan sosial di kabupaten “Tuah Bumi Untung Benua”. (*/kopi3)




































