Beranda Kutai Timur Karangan Seberang Bidik PADes Lewat Wisata Pemancingan

Karangan Seberang Bidik PADes Lewat Wisata Pemancingan

29
0

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat meninjau lokasi persiapan pembangunan wisata pemancingan di Karangan Seberang. Foto: Irfan/Pro Kutim

KARANGAN – Pemerintah Desa Karangan Seberang mulai menata arah baru penguatan ekonomi desa dengan bertumpu pada Pendapatan Asli Desa (PADes). Melalui sektor pariwisata, desa ini merancang pengembangan kawasan wisata pemancingan terpadu di atas lahan seluas 1,7 hektare. Sebuah aset milik desa yang dikelola secara mandiri. Rencana besar tersebut dipresentasikan langsung di hadapan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman saat kunjungan kerja ke wilayah Karangan, didampingi Anggota DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) Agusriansyah Ridwan, Sabtu (31/1/2026).

Bagi pemerintah desa, PADes bukan sekadar istilah administratif dalam laporan keuangan. Pendapatan Asli Desa merupakan sumber penerimaan yang diperoleh desa dari hasil pengelolaan aset, usaha desa, jasa pelayanan, maupun pengembangan potensi lokal yang sah dan berkelanjutan. PADes menjadi fondasi kemandirian desa, karena dana yang dihasilkan dapat kembali diputar untuk membiayai pembangunan, pelayanan publik, hingga pemberdayaan masyarakat tanpa ketergantungan penuh pada transfer pemerintah di atasnya.

Kepala Desa Karangan Seberang Ahmad Muzahid menegaskan bahwa proyek wisata pemancingan ini sepenuhnya berdiri di atas lahan desa dan dibiayai dari alokasi PADes yang telah dihimpun secara bertahap.

“Lahan yang saat ini dikembangkan seluas 1,7 hektare, dan ke depan masih ada lahan tambahan yang akan kami bebaskan untuk pengembangan lebih lanjut,” jelasnya.

Dalam rancangan induk yang disusun, kawasan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai kolam pemancingan. Muzahid menyebutkan, konsep wisata yang diusung adalah ruang rekreasi keluarga dengan fasilitas penunjang yang beragam.

“Pengunjung nantinya akan dimanjakan dengan fasilitas pendukung yang lengkap. Mulai dari kios suvenir, restoran (resto), kolam renang, wahana kolam bebek, musala, toilet, gazebo, pendopo, panggung hiburan, arena outbound, dan playground untuk anak-anak,” ujarnya.

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi keberanian desa mengelola aset secara visioner. Ia menilai konsep yang ditawarkan cukup menyeluruh, namun mengingatkan agar setiap tahap pembangunan disertai kajian teknis dan perencanaan matang.

“Silakan Kepala Desa untuk merancang dan membangunnya dengan baik, tapi tetap saya arahkan harus ada kajiannya,” tegas Ardiansyah.

Perhatian khusus disampaikan terkait aspek keamanan lingkungan. Wilayah Karangan yang dikenal sebagai habitat buaya menuntut mitigasi risiko sejak awal pembangunan.

“Tolong mitigasi, jangan sampai terkoneksi dengan sungai karena banyak buaya di Karangan,” tambahnya.

Selain itu, Ardiansyah menekankan pentingnya uji kelayakan agar investasi desa tidak berakhir sebagai proyek sia-sia.

“Jangan sampai nanti kajiannya tidak ada. Belum tentu apa yang kita maksudkan itu feasibility study (studi kelayakan). Jangan sampai begitu selesai dibangun, tidak ada orang yang ke sana,” ujarnya.

Sebagai langkah awal yang lebih sederhana namun produktif, Bupati menyarankan optimalisasi kolam yang telah tersedia dengan konsep pemancingan berbayar berbasis berat ikan.

“Tebarkan ikan, buatkan tempat duduk untuk memancing. Begitu dapat ikannya, ditimbang, dan pemancing membayar harga ikannya kepada desa. Sederhana sekali seperti itu,” tuturnya, sembari berseloroh tentang potensi wisata pancing yang khas.

Dengan perencanaan cermat dan pengelolaan yang akuntabel, wisata pemancingan Karangan Seberang diharapkan menjadi sumber PADes yang berkesinambungan, sekaligus menumbuhkan denyut ekonomi baru bagi masyarakat desa. Dari kolam pancing, desa menenun harapan menuju kemandirian yang berpijak pada aset dan kearifan lokal. (kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini