Beranda Pendidikan Beasiswa, RPL dan Inklusi, jadi Pilar Transformasi Pendidikan Kutim

Beasiswa, RPL dan Inklusi, jadi Pilar Transformasi Pendidikan Kutim

15
0

Kepala Disdikbud Kutim Mulyono. Foto: Dewi/Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperluas akses pendidikan tinggi bagi putra-putri daerah melalui berbagai program beasiswa strategis. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, saat diwawancarai Pro Kutim di ruang kerjanya, Rabu (4/2/2026) lalu.

Mulyono menjelaskan bahwa penguatan program beasiswa merupakan arahan langsung dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, termasuk upaya aktif menjembatani komunikasi dengan perguruan tinggi ternama di Indonesia.

“Beasiswa itu sebenarnya ada di Bagian Kesra Sekretariat Kabupaten Kutim, tetapi ada upaya tambahan yang diminta oleh Bupati kepada Disdik, yaitu menjembatani komunikasi dengan pihak kampus-kampus,” ujarnya.

Salah satu program unggulan adalah Beasiswa Emas Daerah, yang ditujukan bagi lulusan SMA/SMK/MA untuk melanjutkan pendidikan ke 13 perguruan tinggi terbaik di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB, dan kampus unggulan lainnya.

Program ini telah berjalan sejak 2024, dan dipastikan akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

“Beasiswa emas daerah itu untuk anak-anak kita lulusan SMA/SMK/MA agar bisa kuliah di 13 perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Ini sudah berjalan sejak 2024 dan insyaallah terus berlanjut,” jelasnya.

Selain itu, Disdikbud Kutim juga menjalankan Beasiswa RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) bagi guru-guru yang belum memiliki gelar S1, agar dapat ditingkatkan kualifikasinya secara akademik. RPL bisa diartikan sebagai pengakuan atas capaian seseorang, baik dari pendidikan formal, nonformal, informal, maupun pengalaman kerja sebagai dasar melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi atau penyetaraan kualifikasi tertentu.

“Beasiswa RPL itu untuk guru-guru kita yang belum S1. Kita dorong dan fasilitasi agar bisa menjadi sarjana,” kata Mulyono.

Tidak hanya itu, pemerintah daerah juga mengembangkan Beasiswa RPL Inklusi, yang difokuskan pada peningkatan kapasitas guru pendidikan inklusi di sekolah-sekolah.

“Minimal satu sekolah itu harus punya satu guru inklusi. Tahun 2024 lalu, sebanyak 151 orang guru sudah kita kuliahkan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan telah lulus,” ungkapnya.

Untuk tahun berjalan, jumlah peserta beasiswa inklusi kembali bertambah.

“Sekarang yang masih kuliah ada sekitar 200 orang, dan tahun baru ini kembali bertambah,” lanjutnya.

Selain program daerah, Kutim juga bekerja sama dengan sektor swasta, salah satunya melalui Beasiswa Sampoerna, yang memberikan kesempatan bagi 10 orang peserta, dengan pembiayaan penuh, termasuk biaya hidup.

“Dengan Sampoerna, itu beasiswanya penuh, termasuk biaya hidup,” tambahnya.

Terkait mekanisme mendapatkan beasiswa, Mulyono menegaskan bahwa prosesnya dilakukan melalui kerja sama kelembagaan dan seleksi, mengingat keterbatasan kuota.

“Karena kuota terbatas, tentu melalui seleksi. Tapi syaratnya tidak sulit, yang penting memiliki KTP Kutim,” tegasnya.

Program-program ini menjadi bagian dari strategi Pemkab Kutim dalam membangun SDM unggul, berdaya saing, dan inklusif, sebagai fondasi pembangunan jangka panjang daerah.(kopi15/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini