Teks: Wabup Kutim H Mahyunadi dan istri Ny Hj Masriati awalnya tenang mengikuti acara puncak Harganas tingkat Provinsi Kaltim, namun karena hujan semua undangan mesti beranjak dan menuju pendopo Rujab Bupati Kukar. (Fuji Pro Kutim)
TENGGARONG – Langit Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Minggu (31/8/2025), tampak muram sejak pagi. Awan mendung menggantung rendah, menutup cahaya matahari di atas Taman Tanjong, lokasi yang dipilih sebagai pusat peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 tingkat Kalimantan Timur (Kaltim). Pukul 09.00 WITA, jadwal awal dimulainya acara, undangan sudah memenuhi kursi di bawah tenda putih besar. Namun, alih-alih dimulai, acara baru bergulir sejam kemudian, tepat pukul 10.00 WITA.

Ketika rangkaian dibuka, suasana masih khidmat. Lagu Indonesia Raya berkumandang, disusul Mars Keluarga Berencana, lalu tarian selamat datang yang menambah semarak. Doa bersama baru saja selesai dibacakan ketika rintik hujan berubah menjadi deras. Hembusan angin kencang membuat tenda bergoyang, sementara tempias air membasahi para tamu undangan, termasuk pejabat provinsi dan kepala daerah yang duduk di barisan depan.
Tak ada yang luput dari basah. Payung-payung berwarna hitam, biru maupun warna lain segera terbuka. Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, bersama sejumlah kepala daerah, termasuk Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) H Mahyunadi dan istri Ny Hj Masriati, memilih meninggalkan lokasi dengan langkah tergesa, ditemani rinai hujan yang tak kunjung reda.



Hingga jelang tengah hari, derasnya hujan tak memberi celah. Panitia akhirnya mengumumkan bahwa acara puncak tak mungkin dilanjutkan di ruang terbuka. Rombongan tamu diarahkan ke Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kukar. Suasana yang semula dirancang megah di taman, berubah menjadi ramah tamah sederhana, diiringi hidangan makan siang bersama.

Namun, peringatan Harganas tidak kehilangan makna. Sehari sebelumnya, berbagai kegiatan telah digelar, pameran Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), lomba penyuluhan, hingga tradisi Bemamai. Semua menjadi penanda bahwa Harganas bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat keluarga sebagai fondasi bangsa, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. (kopi3)




































