Beranda Kutai Timur Kutim Menapaki Jalan Hijau, Menjaga Warisan Alam Lewat RIP KEHATI 2024-2029

Kutim Menapaki Jalan Hijau, Menjaga Warisan Alam Lewat RIP KEHATI 2024-2029

261
0

Suasana peluncuran Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP KEHATI) 2024-2029. Foto: Vian Prokutim

SANGATTA – Langit Sangatta pagi itu tampak teduh, seolah turut menyambut langkah bersejarah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam upaya menjaga kekayaan hayatinya. Di ruang pertemuan Hotel Royal Victoria, Rabu (15/10/2025), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim resmi meluncurkan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP KEHATI) 2024-2029, sebuah dokumen strategis yang menjadi penuntun arah pembangunan berwawasan lingkungan di wilayah yang dikenal kaya akan ekosistem hutan tropis ini.

RIP KEHATI merupakan hasil kerja sama antara DLH Kutim dan Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Universitas Mulawarman Samarinda. Dokumen ini disusun bukan hanya sebagai laporan administratif, tetapi sebagai peta jalan untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian.

Kepala DLH Kutim Aji Wijaya Efendi, saat membuka acara sekaligus membacakan sambutan Bupati Kutim menegaskan bahwa RIP KEHATI menjadi tonggak penting dalam perjalanan pembangunan daerah yang berkelanjutan.

“Kita tidak hanya bicara tentang flora dan fauna, tetapi tentang masa depan masyarakat Kutim secara keseluruhan. RIP KEHATI ini adalah investasi kita untuk generasi yang akan datang,” ujar Bupati dalam sambutan.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pelestarian alam bukan sekadar kewajiban moral, melainkan fondasi bagi keberlanjutan hidup manusia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLH Kutim Adrian Wahyudi, menguraikan bahwa Kutim memiliki empat Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang telah ditetapkan melalui SK Gubernur Kaltim Nomor 522 Tahun 2020. Keempat kawasan itu menjadi representasi kekayaan ekologis Kutim yang tak ternilai.

Pertama, KEE Lahan Basah Suwi Long Mesangat, habitat alami Buaya Badas Hitam (Crocodylus siamensis), spesies endemik yang kini berada di ambang kepunahan. Kedua, KEE Karst Sangkulirang-Mangkalihat, bentang alam karst yang menyimpan jejak prasejarah dan nilai budaya tinggi. Ketiga, KEE Teluk Sangkulirang, kawasan pesisir yang menopang kehidupan biota laut serta masyarakat nelayan. Terakhir, KEE Wehea-Kelay, hutan tropis yang menjadi rumah bagi orangutan Kalimantan serta berbagai satwa langka lainnya.

“Empat KEE ini adalah aset ekologis sekaligus identitas lingkungan Kutim. RIP KEHATI memberikan arah pengelolaan yang terencana dan berkelanjutan,” tutur Adrian.

RIP KEHATI Kutim 2024-2029 dirancang agar tak berhenti di atas kertas. Dokumen ini akan disempurnakan dan diintegrasikan ke dalam rencana pembangunan daerah, terutama Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kutim mendatang. Dengan begitu, pelestarian keanekaragaman hayati akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan lintas sektor.

Lebih jauh, arah kebijakan ini sejalan dengan misi kelima pembangunan Kutim. Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan yang Berwawasan Lingkungan Hidup. Prinsip tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan masyarakat harus tumbuh selaras dengan kelestarian alam, bukan dengan mengorbankannya.

Kegiatan peluncuran RIP KEHATI turut menghadirkan sesi edukatif dan dialog terbuka bersama pelajar serta komunitas lingkungan. Keterlibatan generasi muda dalam forum ini bukan hanya simbol, melainkan bagian dari pendidikan ekologis yang menanamkan nilai kepedulian sejak dini.

Suasana ruang dialog sore itu mencerminkan semangat baru, bahwa masa depan lingkungan Kutim tidak hanya ditulis dalam dokumen, tetapi dalam kesadaran kolektif warganya. Melalui RIP KEHATI, Kutim sedang menegaskan langkah, membangun tanpa merusak, tumbuh tanpa melupakan akar bumi yang menumbuhkannya.(kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini