Kadinsos Ernata Hadi Sujito saat memberikan sambutan di kegiatan workshop. Foto: Nasruddin/Pro Kutim
SANGATTA – Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Ernata Hadi Sujito, menyampaikan pemaparan mendalam mengenai kategori kesejahteraan ekonomi masyarakat berdasarkan desil (pembagian data) pengeluaran per kapita. Penjelasan ini disampaikan dihadapan para kepala desa, camat, dan operator SIKS-NG dalam Workshop Penguatan Kapasitas Operator Desa dalam Pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (1/12/2025).
Ernata menjelaskan bahwa pemahaman tentang desil sangat penting bagi daerah, khususnya desa, untuk memastikan penyaluran bantuan sosial tepat sasaran.
“Desil ini adalah dasar penetapan tingkat kesejahteraan warga. Dengan memahami desil, kita bisa tahu siapa yang berhak menerima bantuan dan siapa yang sudah berada pada kategori sejahtera,” ujar Ernata.

Ia merinci bahwa tingkat kesejahteraan ekonomi masyarakat Indonesia dibagi ke dalam 10 desil berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan. Berikut pemaparan lengkapnya yakni Desil 1 (Miskin Ekstrem) pengeluaran per kapita di bawah Rp 500.000 per bulan, Desil 2 (Miskin) pengeluaran antara Rp 500.000–Rp 650.000, Desil 3 (Rentan Miskin) pengeluaran Rp 650.000–Rp 800.000, Desil 4 (Menengah Bawah) pengeluaran Rp 800.000–Rp 1.000.000, Desil 5 (Menengah) pengeluaran Rp 1.000.000–Rp 1.250.000, Desil 6 (Menengah Atas) pengeluaran Rp 1.250.000–Rp 1.500.000, Desil 7 (Mapan) pengeluaran Rp 1.500.000–Rp 1.800.000, Desil 8 (Kaya) pengeluaran Rp 1.800.000–Rp 2.200.000, Desil 9 (Sangat Kaya) pengeluaran Rp 2.200.000–Rp 3.000.000 dan Desil 10 (Super Kaya) pengeluaran di atas Rp 3.000.000 per kapita.
“Cara paling mudah mengetahui posisi rumah tangga dalam desil adalah menghitung seluruh pengeluaran sebulan, lalu dibagi jumlah anggota keluarga,” jelasnya.
Ia kemudian memberikan contoh konkret kepada peserta.
“Misalnya, keluarga empat orang menghabiskan Rp 3 juta sebulan. Berarti per kapitanya Rp 750 ribu. Angka itu masuk Desil 3 atau rentan miskin. Kalau keluarga lima orang pengeluarannya Rp 2,5 juta, berarti Rp 500 ribu per kapitamasuk Desil 1 atau miskin ekstrem,” terang Ernata.
Ia juga mencontohkan kondisi keluarga mampu.
“Jika ada tiga orang dalam satu keluarga dengan pengeluaran Rp 6 juta sebulan, berarti per kapitanya Rp 2 juta. Ini masuk Desil 8 atau kategori kaya menurut statistik,” tambahnya.
Dalam penjelasannya, Ernata menegaskan bahwa pembagian desil menjadi dasar prioritas pemberian bantuan. Desil 1–4 adalah kelompok miskin dan rentan miskin yang menjadi prioritas bansos, Desil 5–7 merupakan kelompok menengah, Desil 8–10 adalah kelompok sejahtera dan tidak lagi menjadi prioritas penerima bantuan.
“Jika aparat desa memahami desil dengan baik, maka validitas data dalam aplikasi SIKS-NG akan semakin meningkat dan penyaluran bansos tidak akan menimbulkan polemik di masyarakat,” tegasnya.
Terakhir, ia mengajak seluruh operator desa untuk melakukan pendataan secara objektif.
“Pendataan yang jujur dan akurat akan menentukan keberhasilan kita dalam menurunkan angka kemiskinan di Kutim,” tutupnya.(kopi14/kopi13)




































