Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat melayat di rumah almarhum Abdul Kader. Foto: Habibah/Pro Kutim
TENGGARONG – Langit di atas Kelurahan Loa Ipuh, tampak sedikit mendung pada Minggu (21/12/2025). Suasana di salah satu sudut pemukiman itu terasa hening, hanya sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalir dari sebuah rumah duka. Hari itu, keluarga besar mantan birokrat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) itu tengah berduka atas berpulangnya sosok yang dikenal berdedikasi tinggi, Abdul Kader.
Di antara para pelayat yang datang, hadir Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman beserta rombongan. Kehadiran orang nomor satu di Pemkab Kutim ini bukan sekadar kunjungan formalitas kedinasan, melainkan sebuah bentuk penghormatan terakhir bagi seorang kolega dan putra daerah yang telah menghibahkan sebagian besar hidupnya untuk pelayanan publik.

Sosok birokrat sejati yang melayani masyarakat (pamong) yakni almarhum Abdul Kader lahir di Tenggarong pada 24 Oktober 1960, menutup usia dengan meninggalkan rekam jejak yang harum. Di lingkungan pemerintahan, ia dikenal sebagai sosok birokrat tulen yang tegas namun santun. Jabatan terakhirnya sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) menjadi saksi bisu bagaimana ia menjaga harmoni dan stabilitas sosial di tengah masyarakat.
Bagi rekan sejawatnya, Abdul Kader bukan hanya seorang pimpinan, melainkan mentor yang selalu menekankan pentingnya integritas. Ia percaya bahwa tugas pemerintahan bukan hanya administrasi, melainkan sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat yang harus dijalankan dengan sepenuh hati.
Di tengah suasana takziah yang khidmat, Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman tampak berbincang lembut dengan istri almarhum, Aisyah. Dalam sapaannya yang penuh empati, Bupati menyampaikan belasungkawa yang mendalam.

“Kami merasa kehilangan sosok yang memiliki dedikasi luar biasa. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan oleh Allah SWT. Almarhum adalah teladan dalam menjalankan tugas negara,” tutur Ardiansyah dengan nada rendah.
Bagi keluarga, kehadiran Bupati dan rombongan menjadi pelipur lara di tengah kesedihan yang mendalam. Aisyah, didampingi dua anak perempuannya, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian besar yang diberikan pemerintah daerah. Baginya, kunjungan ini adalah bukti bahwa kerja keras dan pengabdian suaminya semasa hidup begitu dihargai oleh rekan-rekan sejawatnya.



Kepergian Abdul Kader di usia 65 tahun menyisakan ruang kosong, tidak hanya bagi istri dan dua putrinya, tetapi juga bagi dunia birokrasi di Kaltim. Namun, seperti kata pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Abdul Kader meninggalkan warisan berupa etos kerja dan semangat melayani yang patut dicontoh oleh generasi muda.
Saat iring-iringan pelayat mulai meninggalkan rumah duka, doa-doa terus mengalir. Tenggarong kehilangan salah seorang putra terbaiknya, namun semangat pengabdian Abdul Kader akan tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah bersentuhan dengan ketulusannya.(kopi10/kopi13/kopi3)




































