Beranda Kutai Timur Target Awal 200 Peserta, Sekolah Lansia Kutim Dimulai

Target Awal 200 Peserta, Sekolah Lansia Kutim Dimulai

73
0

Pengenalan Sekolah Lansia kepada warga Kutim. Foto: DPPKB Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) memulai program Sekolah Lansia perdana pada 2026. Program ini memasuki tahap pendaftaran dan pembekalan peserta yang dipusatkan di Kecamatan Sangatta Utara.

Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi mengatakan program tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup lanjut usia (lansia).

“Kami melaksanakan pendaftaran dengan sistem jemput bola langsung ke desa, kelurahan, hingga ke tingkat RT agar seluruh lansia terdata dengan baik,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Hingga pertengahan Februari, tercatat sebanyak 189 lansia telah mendaftarkan diri. DPPKB menargetkan jumlah peserta mencapai 200 orang pada tahap awal pelaksanaan program nonformal tersebut.

Para peserta tersebar di empat titik sekolah lansia. Sekolah Lansia Sekar Kedaton di Desa Sangatta Utara diikuti 60 peserta, Sekar Melati di Desa Swarga Bara sebanyak 50 peserta, Bina Sehat di Desa Singa Gembara 32 peserta, serta Mawar di Kelurahan Teluk Lingga dengan 47 peserta.

“Sebagai tahap awal, DPPKB telah melakukan identifikasi, skrining kesehatan, dan pembekalan peserta pada 11-13 Februari 2026. Kegiatan itu melibatkan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) serta tutor dari SPNF SKB Kutim,” jelasnya.

Junaidi menjelaskan, Sekolah Lansia dirancang dengan kurikulum terstruktur, tidak sekadar pertemuan rutin. Setelah pembekalan, pemerintah daerah berencana menggelar peluncuran resmi yang dirangkai dengan Pilot Project Nasional “Akademi Kolaborasi Penanganan Kemiskinan dan Stunting”.

Peluncuran program tersebut direncanakan dihadiri Gubernur Kaltim, Bupati Kutim, pejabat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, serta Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI. Program ini juga menjadi bagian dari inovasi proyek perubahan “Cap Jempol Stop Stunting” yang digagas DPPKB Kutim.

Untuk mendukung kualitas pelaksanaan, DPPKB melibatkan berbagai tenaga ahli, mulai dari pakar gizi, dokter spesialis gigi dan mulut, spesialis penyakit dalam, psikolog, hingga tim pakar Golda. Keterlibatan mereka bertujuan memastikan kesehatan fisik dan mental peserta tetap terjaga.

“Aspek spiritual juga menjadi bagian penting dalam kurikulum. DPPKB menggandeng tokoh agama dari Kementerian Agama Kutim, termasuk dai, ustadz, pastor, dan pendeta, untuk memberikan pembinaan rohani secara berkala,” ujarnya.

Seluruh pembiayaan program Sekolah Lansia bersumber dari APBD Kutim 2026. Pemerintah memastikan peserta tidak dipungut biaya selama mengikuti kegiatan hingga selesai.

Program ini direncanakan berlangsung selama 12 kali pertemuan. Peserta yang memenuhi minimal 80 persen kehadiran akan mengikuti prosesi wisuda Lansia S1 (Standar Satu) dan memperoleh ijazah kelulusan.

“Jika memungkinkan, ke depan program ini akan berkelanjutan dari jenjang S1 hingga S3. Kami terus berkolaborasi dengan Disdikbud, Dinkes, RSUD, hingga perangkat desa dan pengurus rumah ibadah agar kegiatan ini berjalan sukses dan lancar,” tutupnya.(*/kopi14/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini