Beranda Kutai Timur Ada Tiga Agenda, HUT ke-26 Kutim Bakal Digelar Sederhana tapi Meriah

Ada Tiga Agenda, HUT ke-26 Kutim Bakal Digelar Sederhana tapi Meriah

383 views
0

Kepala Bagian Pemerintahan Sutriso pimpin Rapat Koordinasi persiapan HUT ke-26 Tahun 2025. Foto: istimewa

SANGATTA – Kamis (28/8/2025) siang, ruang Arau di kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) dipenuhi wajah-wajah serius. Kursi-kursi terisi rapat oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan jajaran teknis perangkat daerah. Tidak ada dekorasi berlebih, tak juga suasana gegap gempita. Yang ada hanya catatan, lembar agenda, dan diskusi yang mengalir terukur. Rapat koordinasi perdana itu menjadi titik mula perjalanan menuju hari ulang tahun Kutim ke-26 kabupaten, yang jatuh pada 12 Oktober 2025.

Kepala Bagian Pemerintahan Setkab Kutim Trisno, memimpin jalannya rapat. Suaranya tegas, memberi arah sekaligus menekankan makna efisiensi. Bukan sekadar mengatur teknis, rapat ini membawa pesan politik anggaran yang belakangan jadi garis kebijakan. Perayaan harus tetap berlangsung, tapi tanpa kemewahan.

“Rakor kali ini baru menyamakan persepsi. Detail teknis akan kita bahas di rapat lanjutan, tapi tiga agenda besar sudah kita sepakati,” kata Trisno.

Keputusan itu mungkin terasa kontras jika dibandingkan dengan euforia seremonial peringatan ulang tahun daerah lain. Namun bagi Kutim, langkah ini adalah pilihan sadar. Tiga agenda utama telah ditetapkan, yaitu Expo Kutim 2025, pesta rakyat dan jalan sehat.

Expo Kutim dirancang sebagai etalase daerah. Memperlihatkan potensi ekonomi, sumber daya, hingga geliat kreativitas lokal. Ia bukan sekadar pameran, melainkan ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha menampilkan hasil kerja dan karya. Pesta rakyat, di sisi lain, menjadi panggung kebersamaan, tempat warga berkumpul, bersuka cita, dan merayakan identitas bersama. Sementara jalan sehat, sederhana namun melibatkan ribuan partisipan, menjadi simbol kebersamaan yang nyata, tubuh bergerak, hati terhubung.

Meski sederhana, arah perayaan ini tidak kehilangan makna. Justru di tengah kebijakan efisiensi, pemerintah ingin menghadirkan pesta yang benar-benar dekat dengan denyut masyarakatnya. Bagi sebagian orang, inilah bentuk ulang tahun paling sejati. Sebuah selebrasi yang lahir dari kebersamaan, bukan dari pesta pora yang mahal.

Rapat itu baru tahap awal. Agenda lanjutan telah dijadwalkan pada September mendatang. Pada minggu pertama bulan itu, pembahasan difokuskan pada detail kegiatan. Seperti tata letak Expo, alur jalan sehat, hingga skema pesta rakyat. Sementara pada minggu kedua, tema resmi peringatan HUT ke-26 akan ditentukan. Tema ini menjadi kunci, sebab ia tidak hanya memberi wajah pada perayaan, tetapi juga menyampaikan pesan politik pembangunan daerah.

Di balik diskusi teknis, tersimpan atmosfer reflektif, tentang bagaimana merayakan 26 tahun perjalanan Kutim sebagai kabupaten muda di Kalimantan Timur (Kaltim). Perjalanan yang dalam dua dekade lebih dipenuhi dinamika, pembangunan infrastruktur, geliat investasi, hingga tantangan pemerataan. Semua itu berpadu dalam ulang tahun sederhana, seakan mengajak warga menengok kembali jati diri daerah.

Efisiensi anggaran kerap diasosiasikan dengan penghematan yang membatasi ruang gerak. Namun di Kutim, kebijakan ini justru dibingkai berbeda. Bukan sekadar mengurangi, melainkan menyusun ulang prioritas. Kemeriahan tidak diukur dari besarnya biaya, melainkan dari daya hidup yang mampu dibangkitkan.

Expo memberi ruang pada UMKM, pesta rakyat menyalakan semangat kebersamaan, jalan sehat mengikat partisipasi publik. Dengan cara ini, Pemkab Kutim memastikan efisiensi tidak menghapus semarak. Justru di tengah keterbatasan, kreativitas diuji, kolaborasi dipacu, dan perayaan menemukan bentuknya yang paling dekat dengan masyarakat.

Bagi warga Kutim, kabar persiapan ini menjadi semacam undangan terbuka. Meski masih sebulan lebih menuju hari H, atmosfer perayaan sudah mulai terasa. Expo Kutim menjanjikan etalase daerah yang bisa dinikmati bersama. Jalan sehat bakal menjadi ruang bagi warga untuk turut berpartisipasi aktif. Sementara pesta rakyat, sebagaimana tradisi perayaan di banyak daerah, menjadi momen yang paling ditunggu.

Dengan konsep sederhana, efisien, namun tetap meriah, ulang tahun ke-26 Kutim bukan sekadar seremoni tahunan. Ia hadir sebagai pesta rakyat yang berusaha mendekatkan pemerintah dengan masyarakatnya. Sebuah pengingat bahwa perayaan sejati tidak selalu lahir dari gemerlap, melainkan dari semangat kebersamaan yang tumbuh dari bawah.

Di usia ke-26, Kutim memang masih tergolong muda. Namun dalam usia yang relatif singkat, daerah ini telah mencatatkan beragam capaian, sekaligus menanggung tantangan pembangunan. Perayaan ulang tahun kali ini menjadi momentum untuk menandai perjalanan tersebut.

Rakor perdana yang digelar di ruang Arau bukan hanya persiapan teknis, tetapi juga simbol arah baru, merayakan dengan sederhana, tapi penuh makna. Pesan yang tersampaikan jelas, semarak bisa tetap hadir, bahkan dalam bingkai efisiensi.

Ketika nanti Expo Kutim digelar, pesta rakyat berlangsung, dan ribuan orang bergerak bersama dalam jalan sehat, perayaan itu akan menjadi cermin kebersamaan. Kutim merayakan ulang tahunnya bukan sebagai pesta elite, melainkan sebagai ruang rakyat. Dari sanalah semarak ulang tahun bakal benar-benar menemukan rumahnya. (kopi16/kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini