SANGATTA – Di hamparan tanah tropis Kutai Timur (Kutim), butiran jagung mulai menandai babak baru kemandirian pangan daerah. Komoditas yang dahulu sekadar pelengkap menu tani itu, kini menampakkan potensinya sebagai penopang industri masa depan. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim Dyah Ratnaningrum, menyebut jagung bukan lagi semata hasil pertanian, melainkan embrio industri strategis yang menjanjikan nilai tambah tinggi bagi ekonomi lokal.
“Kalau kita lihat dari sisi kebutuhan, produksi kita baru sekitar seperlima dari kebutuhan masyarakat. Artinya, peluang pengembangan jagung di Kutim masih sangat besar,” tutur Diyah di ruang kerjanya, Rabu (12/11/2025).
Kutim saat ini mencatat luas tanam jagung sekitar 450 hektare, dengan produksi rata-rata 6.000 ton per tahun dalam dua kali musim tanam. Angka tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal yang diperkirakan mencapai 25.000 hingga 30.000 ton per tahun, baik untuk konsumsi masyarakat, industri olahan, maupun pakan ternak unggas dan sapi.
Bagi Dyah, kondisi itu bukan kekurangan, melainkan peluang. Ia menilai Kutim memiliki landasan kuat untuk menumbuhkan industri pengolahan pakan berbasis jagung lokal. Dengan dukungan investasi, teknologi, serta ekspansi lahan, daerah ini bisa bertransformasi dari penghasil bahan mentah menjadi sentra agroindustri berdaya saing.
“Industri pengolahan pakan ternak dari jagung lokal bisa menjadi sektor potensial masa depan. Ini bukan hanya soal pertanian, tapi juga soal kemandirian ekonomi,” ujarnya mantap.
Langkah konkret telah dimulai. Kolaborasi antara DTPHP Kutim, Polres Kutim, dan sektor swasta tengah digiatkan untuk memperluas cakupan tanam serta memperkuat rantai nilai jagung. Sinergi lintas sektor itu sejalan dengan Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, melalui Gerakan Tanam Jagung Serentak Satu Juta Hektar menuju swasembada jagung dan kemandirian pangan nasional.
“Kontribusi Kutim ini luar biasa karena kita bekerja sama dengan Polres Kutim. Dari pusat pun Polri dijadikan pionir pengembangan jagung di daerah,” tambah Diyah.
Salah satu wujudnya terlihat di lahan eks tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) seluas 25 hektare yang kini telah ditanami jagung. Tak berhenti di situ, beberapa perusahaan tambang dan perkebunan lain juga bersiap menyiapkan lahan serupa, sebagai bentuk partisipasi dalam membangun ekosistem pangan berkelanjutan.
Pemerintah daerah melalui Dinas TPHP memberikan dukungan teknis berupa bibit unggul, pupuk, alat pertanian modern, hingga tenaga penyuluh lapangan yang memastikan teknik budidaya dilakukan sesuai standar.
“Penyuluh menjadi ujung tombak pendampingan. Mereka memastikan petani menerapkan teknik budidaya yang benar dan produktif,” ujar Diyah.
Program tanam jagung di Kutim kini terus meluas ke berbagai kecamatan, termasuk Rantau Pulung, Teluk Pandan, dan Long Mesangat. Bagi pemerintah daerah, menanam jagung berarti menanam masa depan. Masa depan yang berakar pada ketahanan pangan, tumbuh di atas kolaborasi lintas sektor, dan berbuah pada kemandirian ekonomi masyarakat.
Langkah itu, sebagaimana diungkap Dyah, bukan semata gerakan menanam biji di tanah, tetapi menanam keyakinan bahwa Kutim mampu menjadi bagian penting dari peta pangan nasional yang tangguh dan berdaulat. (kopi4/kopi3)



































