SANGATTA – Di antara lembah pedalaman dan pesisir yang berhadapan langsung dengan angin Laut Sulawesi, terselip deretan desa di Kutai Timur (Kutim) yang hingga kini belum menikmati aliran listrik PLN. Tahun perencanaan 2026 kembali menampilkan sebuah peta yang memperlihatkan kontras antara desa yang terang dan desa yang masih memandangi malam dengan penerangan terbatas. Sebanyak 13 desa tercatat sebagai wilayah yang belum teraliri listrik negara. Masing-masing membawa kisah geografis dan sosial yang berbeda.
Di Bengalon, Tebangan Lembak yang dihuni 432 jiwa menanti sambungan pembangkit PLTD yang dirancang PLN. Sementara itu di Busang, Mekar Baru dengan 630 penduduk berada dalam rencana jaringan serupa. Kedua desa ini berdiri sebagai potret wilayah yang lokasinya berjauhan dari infrastruktur primer, sehingga penyediaan energi membutuhkan tahapan teknis yang tidak sederhana.
Kawasan pesisir Sangkulirang memuat dua desa yang turut menunggu aliran listrik negara. Tanjung Manis, berpenduduk 661 jiwa dan Perupuk dengan 840 jiwa, tergolong sebagai desa yang akan dialiri jaringan listrik dari PLTD Sandaran dan pasokan excess power PT BMA. Namun, sebelum jaringan itu menyentuh rumah-rumah penduduk, mereka masih bergantung pada lampu surya kecil, genset keluarga dan ritme kehidupan yang beradaptasi dengan minimnya sumber daya listrik.
Sandaran menjadi kecamatan dengan daftar desa terbanyak dalam peta desa gelap Kutim. Marukangan muncul sebagai desa dengan populasi terbesar 2.304 penduduk yang menunggu jaringan PLN, yang tengah direncanakan. Desa ini diikuti oleh Susuk Tengah (789 jiwa), Susuk Luar (1.764 jiwa), dan Susuk Dalam (803 jiwa), semuanya berada dalam rencana interkoneksi yang sama, pembangkit PLTD Sandaran dan suplai daya lebih dari PT BMA. Malam di desa-desa ini masih ditandai oleh bunyi generator yang dinyalakan secara terbatas dan cahaya lampu kecil yang hemat energi.
Meski sejumlah desa masih menunggu listrik PLN, sebagian lainnya telah menerima bantuan pembangkit energi terbarukan. Pulau Miang di Sangkulirang, dihuni 799 penduduk, telah memperoleh PLTS Komunal dari Dinas ESDM pada 2021. Tadoan di Sandaran lebih dulu merasakannya pada 2020. Sementara itu, dua desa lainnya, Sandaran dan Tanjung Mangkalihat, tengah dalam proses pembangunan PLTS SHS masing-masing 100 dan 125 unit yang dijadwalkan selesai pada 2025.
Di ujung timur pedalaman, Long Poq Baru di Muara Ancalong dengan 408 jiwa, menunggu verifikasi sambungan PLN. Desa ini menjadi simbol bagaimana medan yang berat dan jarak yang jauh menjadi tantangan tersendiri dalam membuka akses energi modern.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemkab Kutim menegaskan komitmennya mempercepat pemerataan energi bagi masyarakat. Kepala Bagian SDA Setkab Kutim, Arief Nur Wahyuni, mewakili Pemkab Kutim, menekankan bahwa program elektrifikasi merupakan bagian penting dari arah pembangunan daerah.
“Bahwa sesuai visi misi pasangan Bupati-Wabup, Ardiansyah Sulaiman dan Mahyunadi, Pemkab Kutim akan terus berupaya dan bersinergi dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat. Secara bertahap tentunya akan diwujudkan listrik PLN,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penyediaan listrik tidak hanya menyangkut teknis jaringan, tetapi juga bagian dari tata kelola pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Harapan masyarakat pun tertuju pada upaya terpadu ini, agar desa-desa seperti Tebangan Lembak, Perupuk, Marukangan, hingga Long Poq Baru kelak menjadi titik terang dalam peta pembangunan Kutim.
Dengan perencanaan yang terus diperbaharui dan sinergi antara pemerintah daerah serta PLN, tahun 2026 menjadi harapan baru. Bagi banyak desa, cahaya itu tidak sebatas penerangan, melainkan simbol hadirnya kesempatan, kemajuan, dan masa depan yang lebih menjanjikan. (kopi3)




































