Sudirman Latif kini memasuki purnatugas. Foto: Dok Pro Kutim
SANGATTA – Per 1 Januari 2026, lembaran baru resmi dibuka oleh Sudirman Latif. Setelah mendedikasikan diri selama 25 tahun 9 bulan sebagai motor penggerak di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim), pria kelahiran Suli Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini akhirnya memasuki masa purnatugas. Namun, meski status kepegawaiannya telah berganti menjadi pensiunan, kesibukan Sudirman tak lantas meredup.
Dalam siaran pers yang diterima Pro Kutim pada Senin (12/1/2026), rumah pribadi Sudirman masih nampak seperti kantor kedua. Sejumlah pegawai masih datang silih berganti untuk berkonsultasi, sementara tumpukan berkas RKA masih ia cermati dengan teliti.
“Secara administrasi saya sudah pensiun, tetapi tanggung jawab moral menyelesaikan sisa pekerjaan, koordinasi RKA, dan dokumen lainnya tetap harus tuntas. Saya bahkan belum sempat berpamitan secara resmi kepada pimpinan karena fokus menyelesaikan beban tugas ini,” ujar doktor Ilmu Sosial lulusan Universitas Merdeka Malang tersebut.

Sudirman bukanlah sosok kemarin sore. Ia merupakan generasi pertama ASN Kutim dengan SK pengangkatan tertanggal 1 April 2000. Dari 34 orang yang diangkat saat itu, ia termasuk dalam kelompok kecil berpendidikan sarjana yang meletakkan fondasi birokrasi di Tanah Tuah Bumi Untung Benua.
Rekam jejaknya mencerminkan kepercayaan besar dari berbagai kepemimpinan. Ia menghabiskan 17 tahun di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), sebelum akhirnya melanglang buana memimpin Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, hingga Disnakertrans. Puncak pengabdiannya terjadi saat ia dipercaya mengemban jabatan multifungsi yakni Asisten III sekaligus Kepala BPKAD. Ia bahkan sempat mencatatkan sejarah dengan merangkap tiga jabatan strategis sekaligus, yakni PLH Sekda, Asisten III, dan PLT Inspektorat.
“Ada momen tak terlupakan saat Pak Bupati sedang agenda luar, saya yang memegang kendali pemerintahan di Sangatta. Bagi saya, jabatan hanyalah administrasi yang utama adalah teamwork,” kenangnya.
Salah satu warisan terbesar Sudirman adalah perjuangannya menggolkan konsep Manajemen Talenta. Ia adalah tokoh yang gigih menyuarakan agar penempatan ASN didasarkan pada tiga pilar yakni kualifikasi, kompetensi, dan kinerja. Ia tak ingin lagi melihat ketimpangan jabatan, seperti guru yang mengajar tidak sesuai latar belakang pendidikannya.

“Prinsipnya harus The Right Man on The Right Job. Saya bersyukur gagasan yang kami paparkan di depan BKN kini telah mendapat SK resmi. Ini demi masa depan birokrasi kita,” tegas mantan dosen tetap Unikarta tersebut.
Dalam memimpin, Sudirman memegang prinsip kesetaraan. Baginya, staf adalah ujung tombak pelayanan, sementara masyarakat kecil yang datang dari pelosok harus mendapatkan prioritas utama. Baginya, pelayanan tanpa diskriminasi adalah bentuk tertinggi dari pengabdian.
Meski kini resmi “melepas seragam”, Sudirman menegaskan cintanya pada Kutim tak akan luntur. Ia berencana kembali ke dunia pertanian sembari tetap aktif mengajar di STIPER dan Universitas Mulawarman. Kepada generasi muda, ia menitipkan pesan tentang kemandirian daerah.
“Pemuda harus jadi pelopor. Kutim punya segalanya yakni SDA yang melimpah dan modal sosial yang kuat. Kita harus bisa hidup mandiri tanpa hanya bergantung pada dana transfer pusat. Kuncinya ada pada pengelolaan SDM yang cerdas,” pungkasnya penuh optimisme.(*/kopi13)




































