Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memberikan arahan usai menyematkan penghargaan Satyalancana Karya Satya. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Di tengah suasana khidmat di ruang pertemuan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) Sabtu (11/10/2025), ratusan aparatur sipil negara (ASN) berkumpul dengan wajah penuh haru dan bangga. Hari itu menjadi momentum penting bagi 200 ASN yang menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya. Penghargaan dari negara atas dedikasi, kesetiaan, dan pengabdian mereka selama puluhan tahun kepada bangsa dan daerah.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, usai penyemaran simbolis penghargaan lantas menyampaikan pidatonya. Dalam kesempatan tersebut ia menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar tanda jasa, melainkan refleksi dari nilai-nilai integritas, loyalitas, dan profesionalisme yang harus terus dijaga oleh setiap ASN.

“Tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya bukan hanya sekadar simbol atau tanda jasa, melainkan pengingat bagi kita semua tentang pentingnya integritas, loyalitas, dan profesionalisme dalam bekerja,” ujar Ardiansyah dengan penuh penekanan.
Ia menambahkan, penghargaan tersebut seharusnya menjadi motivasi bagi ASN di seluruh lini pemerintahan untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Kutim.
“Semoga penghargaan ini menjadi motivasi bagi seluruh ASN untuk terus berkinerja lebih baik, berinovasi, serta memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kutai Timur,” katanya di hadapan seluruh ASN penerima penghargaan, Forkopimda, kepala Perangkat Daerah dan para wartawan yang meliput.

Dalam upacara penghargaan itu, Bupati juga memberikan apresiasi secara khusus kepada penerima penghargaan berdasarkan masa pengabdian, 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun. Kepada ASN yang baru menapaki satu dekade pengabdian, ia berpesan agar menjadikan penghargaan tersebut sebagai “fondasi perjalanan panjang pengabdian yang lebih bermakna”. Sementara bagi mereka yang telah dua dekade mengabdi, penghargaan itu disebutnya sebagai “simbol keuletan, loyalitas, dan tanggung jawab”. Ardiansyah memberi penghormatan tertinggi kepada ASN yang telah mengabdi selama 30 tahun.
“Tiga dekade bukan sekadar waktu, tetapi perjalanan penuh pengabdian, tantangan, dan pengorbanan. Saudara telah menjadi saksi sekaligus pelaku dalam pembangunan daerah dari masa ke masa,” tuturnya.
Ia berharap keteladanan dan semangat pengabdian para ASN senior itu menjadi inspirasi bagi generasi muda birokrasi di Kutim.
Lebih jauh, Ardiansyah menegaskan bahwa ASN merupakan “tulang punggung birokrasi, ujung tombak pelaksanaan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan publik.” Dalam konteks ini, Satyalancana Karya Satya harus dimaknai sebagai dorongan moral untuk memperkuat etos kerja dan tanggung jawab publik.
“Semangat pengabdian ASN sangat dibutuhkan untuk mewujudkan visi pembangunan daerah kita, ‘Terwujudnya Kutai Timur yang Tangguh, Mandiri, dan Berdaya Saing’,” ujarnya.
Ia menjelaskan, visi tersebut mencakup tiga dimensi besar. Yaitu ketangguhan menghadapi perubahan zaman, kemandirian dalam mengelola potensi daerah. Serta daya saing dalam peningkatan kualitas pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan.
Dalam penutup sambutannya, Ardiansyah kembali mengingatkan bahwa penghargaan yang diterima bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar.
“Penghargaan ini jangan hanya dimaknai sebagai tanda jasa semata, tetapi juga sebagai cerminan tanggung jawab moral untuk terus menjaga dedikasi dan etos kerja di masa yang akan datang,” tegasnya.
Ia menutup sambutan dengan pesan kuat tentang integritas dan pelayanan publik. Dia mengatakan Pemkab Kutim menaruh harapan besar kepada seluruh ASN agar menjadi teladan, mengedepankan profesionalitas, serta memberikan pelayanan yang adil, transparan, dan berkualitas kepada masyarakat.
“Dengan semangat kebersamaan, mari kita terus melangkah maju, memperkuat sinergi, dan memberikan yang terbaik bagi Kutai Timur tercinta,” ujarnya disambut tepuk tangan panjang para ASN yang hadir.
Penganugerahan Satyalancana Karya Satya tahun 2025 di Kutim bukan hanya sebuah seremoni penghormatan, melainkan juga penegasan nilai pengabdian. Di balik setiap medali yang disematkan, tersimpan kisah tentang komitmen, tanggung jawab, dan kerja senyap ASN yang menjadi nadi dari berjalannya roda pemerintahan daerah. (kopi3)

































