Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menghadiri pemberian secara simbolis penerima Beasiswa Berdaya KPC. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi, memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang secara konsisten mendukung pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Hal ini disampaikan dalam agenda penyerahan Beasiswa Berdaya KPC 2025 di Ruang Meranti Kantor Bupati Kutim, Jumat (13/2/2026).
Acara turut dihadiri Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayan (Disdikbud) Wilayah II Kaltim Pengawas SMA Muhamamd Sahid Saputra dan Kabid Pembinaan SMP Disdikbud Kutim Cithra.
Mahyunadi menegaskan bahwa kemandirian daerah sangat bergantung pada kualitas generasinya. Menurutnya, visi pembangunan Kutim hanya bisa tercapai jika masyarakatnya memiliki kompetensi, keterampilan, dan karakter yang kuat untuk bersaing di berbagai bidang.

“Ketangguhan daerah dibangun melalui SDM yang berkualitas. Kita ingin generasi kita tidak hanya berdaya saing, tapi juga memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja,” ujar Mahyunadi.
Dalam kesempatan tersebut, Mahyunadi juga memaparkan realitas tantangan anggaran yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Kutim. Ia mengungkapkan adanya penurunan signifikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Dulu saat 50 program unggulan bupati disusun pada 2024, APBD kita berada di atas Rp 10 triliun. Namun sekarang, posisi APBD kita tidak sampai Rp 4 triliun. Tentu ini menjadi tantangan besar untuk menjalankan seluruh program tersebut secara serentak,” jelasnya.
Menyikapi keterbatasan anggaran tersebut, Pemkab Kutim kini lebih proaktif menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat dan sektor swasta melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR). Mahyunadi menekankan bahwa kewajiban perusahaan tidak hanya terbatas pada satu pihak, tetapi seluruh perusahaan yang beroperasi di wilayah Kutim harus berkontribusi nyata.

“Kami terus mendorong agar perusahaan-perusahaan lain, bukan hanya KPC, untuk meningkatkan kontribusi mereka melalui TJSL. Ini penting untuk menambah kecepatan pembangunan daerah kita,” tegasnya.
Salah satu poin krusial yang disampaikan Mahyunadi adalah urgensi pembangunan Sekolah Rakyat (SR) yang terintegrasi. Gagasan ini muncul sebagai solusi atas kendala geografis Kutim yang sangat luas, mencapai lebih dari 35.000 kilometer persegi, yang seringkali menyulitkan anak-anak di pelosok untuk mengakses jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Banyak anak-anak kita yang terhenti sekolahnya karena jarak yang jauh atau biaya transportasi yang tinggi. Itulah pentingnya Sekolah Rakyat yang memiliki konsep asrama,” ungkap Mahyunadi.

Konsep Sekolah Rakyat ini direncanakan akan mengintegrasikan jenjang SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan yang dilengkapi fasilitas asrama. Dengan demikian, anak-anak dari desa terpencil dapat mengenyam pendidikan tanpa harus terbebani masalah akomodasi.
“Kami berharap Kutim bisa membiayai program Sekolah Rakyat ini. Ini adalah langkah nyata untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak kita yang putus sekolah karena kendala biaya maupun jarak,” pungkasnya.(kopi13/kopi3)


































