Wakil Bupati Kutim Mahyunadi menghadiri undangan Halal Bihalal Komunitas Ngopi Tuwek.Foto: Bahtiar/Pro Kutim
SANGATTA – Suasana khidmat namun hangat menyelimuti Majelis Rasulullah Nurulfalah di Jalan Haji Masdar III, Minggu (26/4/2026). Puluhan anggota Komunitas Ngopi Tuwek berkumpul untuk merayakan tradisi halal bihalal Idulfitri 1447 Hijriah. Kehadiran Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi, menambah bobot pertemuan yang mengedepankan semangat persaudaraan tersebut.
Bagi komunitas yang didominasi oleh perantau asal Jawa ini, pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni pasca-lebaran. Halal bihalal kali ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai fase kehidupan mereka yang mulai memasuki usia senja, sesuai dengan nama komunitas mereka, “Ngopi Tuwek” (Minum Kopi di Usia Tua).
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap eksistensi komunitas ini. Menurutnya, komunitas berbasis kekeluargaan memiliki peran strategis sebagai perekat sosial di tengah masyarakat Kutim yang heterogen.

“Halal bihalal ini bukan hanya sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana memperkuat kebersamaan. Saya mengajak seluruh anggota komunitas untuk merefleksikan fase hidup kita. Nama ‘Ngopi Tuwek’ mengingatkan bahwa kita sudah sepuh, sudah tua,” ujar Mahyunadi di hadapan para anggota komunitas.
Ia menekankan bahwa di usia yang tak lagi muda, fokus utama seharusnya adalah menjaga kondusivitas dan meningkatkan kepedulian sosial. Mahyunadi berharap semangat dari komunitas ini dapat menular kepada elemen masyarakat lainnya untuk terus membangun komunikasi positif demi kemajuan pembangunan di Kutim.

Meskipun Idulfitri telah berlalu beberapa minggu, semangat untuk saling memaafkan tidak luntur. Sesepuh Komunitas Ngopi Tuwek, Uce Prasetyo, menegaskan bahwa dalam urusan menjaga silaturahmi, istilah “terlambat” tidak pernah berlaku.
“Walaupun pelaksanaan ini terkesan terlambat, namun dalam hidup tidak ada kata terlambat untuk silaturahmi. Acara ini adalah cara kami merajut kembali kebersamaan jikalau ada kesalahan di masa lalu,” tutur Uce.
Uce menjelaskan bahwa anggota komunitas berasal dari berbagai daerah yang berbeda di tanah Jawa. Pertemuan seperti ini menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan asal-usul tersebut menjadi sebuah ikatan persaudaraan baru di tanah rantau. Melalui halal bihalal, mereka berupaya memupuk rasa kasih sayang dan rasa senasib sepenanggungan.
Acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna ini diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tausiyah keagamaan, dan doa bersama. Kegiatan ditutup dengan sesi ramah tamah, di mana para peserta saling bertukar cerita sembari menikmati hidangan yang disajikan.
Semangat yang diusung oleh Komunitas Ngopi Tuwek menunjukkan bahwa faktor usia bukanlah penghalang untuk tetap produktif secara sosial. Dengan menjaga kerukunan antaranggota dan masyarakat sekitar, komunitas ini berharap dapat terus memberikan kontribusi positif, sekecil apa pun, bagi stabilitas sosial di Kutim.(kopi7/kopi13)
































