Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menghadiri kegiatan pengukuhan PAC PPTI.Foto: Bahtiar/Pro Kutim
SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat upaya penanggulangan penyakit tuberkulosis (TBC) dengan memperluas jaringan pendampingan hingga ke level akar rumput. Langkah ini ditandai dengan pengukuhan Pengurus Anak Cabang (PAC) Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dari 18 kecamatan, Senin (27/4/2026).
Pengukuhan yang berlangsung di Ruang Pelangi, Hotel Royal Victoria ini dipimpin langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Dalam sambutannya, Ardiansyah menegaskan bahwa kehadiran pengurus di tingkat kecamatan merupakan strategi krusial untuk melakukan deteksi dini secara masif.
“PPTI adalah mitra strategis pemerintah. Dengan terbentuknya pengurus anak cabang ini, edukasi harus semakin masif. Saya instruksikan para pengurus untuk segera turun ke lapangan: lihat, catat, dan laporkan jika menemukan penderita TBC di wilayah masing-masing,” ujar Ardiansyah.


Upaya memperluas struktur organisasi ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kutim, prevalensi penyakit ini masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat setempat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim Yuwana Sri Kurniawati mengungkapkan bahwa kasus TBC di wilayahnya konsisten berada di atas angka 1.000 kasus setiap tahunnya.
Menurut Yuwana, tingginya angka tersebut dipicu oleh beberapa faktor risiko utama, yakni tingginya jumlah perokok serta kualitas sanitasi lingkungan yang belum memadai. Kondisi ini selaras dengan beban TBC nasional, di mana Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai negara dengan penderita TBC terbesar di dunia setelah India.
“Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan mendukung penuh pengukuhan PAC PPTI di 18 kecamatan. Ini akan mempermudah kita dalam memberikan pemahaman terkait TBC langsung di tengah masyarakat,” kata Yuwana.

Senada Ketua PPTI Kutim Siti Robiah Ardiansyah, menjelaskan bahwa masa bakti kepengurusan yang baru dilantik ini akan berjalan hingga tahun 2030. Fokus utama para relawan dan pengurus adalah memperkuat jaringan sosial untuk pendampingan pasien serta menghilangkan stigma negatif terhadap penderita TBC.
“Semangat kami adalah memastikan masyarakat tidak ragu melakukan pemeriksaan. Mengingat Kutai Timur termasuk daerah dengan angka penderita yang tinggi, peran aktif pengurus kecamatan sangat vital untuk mencapai target eliminasi TBC di Kutim,” tegas Siti.
Acara pengukuhan ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat daerah, camat dari seluruh wilayah Kutim serta perwakilan organisasi kesehatan tingkat kecamatan. Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Pemkab Kutim berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap target nasional Indonesia Bebas TBC.(kopi7/kopi13)
































