Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman didampingi Ketua TP PKK Kutim Ny Siti Robiah dan, Kadis TPHP Dyah Ratnaningrum melakukan panen jagung. (Vian Pro Kutim)
SANGATTA – Ketahanan pangan suatu wilayah tidak selalu bertolak dari proyek raksasa atau investasi berskala kolosal. Dalam banyak kajian pembangunan pedesaan, fondasi ketahanan pangan justru bertumbuh dari ruang-ruang paling elementer. Dari rumah tangga, pekarangan, kelompok tani, serta komunitas lokal yang mengolah tanah dengan tekun dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut telah lama disoroti berbagai lembaga internasional seperti Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Food Programme (WFP), yang menempatkan keluarga sebagai simpul utama dalam sistem pangan. Di Indonesia, gagasan serupa terejawantah dalam program Kawasan Rumah Pangan Lestari maupun Pekarangan Pangan Lestari (P2L), yang mendorong masyarakat memproduksi pangan secara mandiri dari lingkup rumah tangga. Gagasan itu pula yang terus diikhtiarkan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim).
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman kembali menegaskan arah kebijakan tersebut ketika meninjau sekaligus memanen jagung di kawasan pengembangan ekowisata Bukit Pelangi RT 40, Kelurahan Teluk Lingga, Kecamatan Sangatta Utara, Rabu (29/4/2026).
Di kawasan yang memadukan pertanian, peternakan, dan wisata edukasi berbasis masyarakat itu, Ardiansyah melihat sebuah contoh konkret bagaimana kemandirian pangan dapat dirintis dari skala komunitas. Lahan yang semula dikelola secara sederhana kini berkembang menjadi ruang produktif yang menanam berbagai komoditas hortikultura.

Saat meninjau kebun wisata petik dan area panen jagung, ia menekankan bahwa konsep ekowisata produktif bukan hanya menghadirkan nilai ekonomi, tetapi juga meneguhkan model ketahanan pangan berbasis keluarga dan kelompok tani.
“Ini bukan hanya soal jagung. Ada jagung pulut, jagung manis, jagung pakan ternak, sayuran, peternakan ayam, sampai pemancingan. Ini lengkap dan sangat potensial menjadi bagian dari ekowisata produktif,” ujarnya.
Selain memanen jagung, Ardiansyah bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kutim Siti Robiah dan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Kutim Dyah Ratnaningrum menyerahkan bantuan indukan ayam petelur kepada tiga peternak setempat.

Bantuan tersebut dimaksudkan sebagai dukungan pemerintah daerah untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui usaha peternakan skala kecil. Dari usaha sederhana itu, masyarakat diharapkan mampu memenuhi kebutuhan protein keluarga sekaligus membuka peluang usaha dari produksi telur.
Bagi Ardiansyah, bantuan ayam petelur bukanlah bantuan temporer yang berhenti pada seremoni penyerahan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari lingkup keluarga.
“Kalau rumah tangga sudah mampu memproduksi pangan sendiri, itu menjadi fondasi yang kuat. Dari skala kecil seperti ini, ketahanan pangan daerah bahkan nasional bisa dibangun,” katanya.
Pemkab Kutim, lanjut dia, berencana terus mengembangkan kawasan serupa di berbagai wilayah. Selain kawasan ekowisata yang telah berkembang di Kecamatan Kaubun dan Teluk Pandan, kawasan Bukit Pelangi juga diharapkan menjadi simpul baru agrowisata berbasis masyarakat.

“Ketahanan pangan harus dibangun dari bawah. Kalau komunitas kecil kuat, kelompok tani kuat, rumah tangga kuat, maka daerah juga akan kuat. Inilah yang terus kita dorong di Kutai Timur,” tegasnya.
Namun demikian, Ardiansyah juga mengingatkan pentingnya penataan pola tanam yang lebih tertib. Penanaman berbagai varietas jagung yang terlalu berdekatan, menurutnya, berpotensi menimbulkan penyerbukan silang sehingga kualitas panen sulit dibedakan.
“Kalau jagung pulut, jagung manis, dan jagung pakan ditanam terlalu dekat, penyerbukannya menyatu. Akibatnya hasil panennya sulit dipilah. Ke depan harus ditata lebih baik agar kualitasnya lebih maksimal,” jelasnya.
Di luar fungsi produksi pangan, kawasan tersebut juga diproyeksikan menjadi ruang rekreasi masyarakat. Lanskap hijau dan udara yang teduh menghadirkan suasana alami yang memberi penyegaran psikologis bagi warga yang ingin melepas kejenuhan dari rutinitas harian.
“Orang datang ke sini bukan hanya membeli hasil panen, tetapi juga menikmati suasana alam. Bisa petik sayur, petik jagung, memancing, sambil menikmati lingkungan yang asri. Ini nilai tambah dari agrowisata,” katanya.
Dari sisi pemasaran, peluang pasar bagi hasil pertanian di kawasan ini mulai terbuka. Sejumlah sayuran bahkan telah diminati oleh perusahaan besar yang beroperasi di Kutim.
“Pasarnya sudah mulai terbentuk. Sayuran sudah diminta oleh PAMA dan KPC. Tinggal bagaimana kita menjaga kontinuitas produksi dan kualitas hasil panennya,” tambahnya.
Untuk menopang keberlanjutan produksi, Ardiansyah juga meminta fasilitas penunjang seperti tandon air diperbaiki dan dimaksimalkan. Ia menyarankan pembangunan atap penampung air hujan dengan desain yang lebih efektif agar kebutuhan irigasi tetap terpenuhi, terutama ketika musim kemarau tiba.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani B Team Agro Farm Ahmad Badara menjelaskan bahwa lahan agrowisata yang mereka kelola telah dirintis sejak 2009 dan kini digarap bersama oleh 11 petani. Ia menyebutkan luas lahan panen jagung yang dikelola kelompok tersebut mencapai sekitar dua hektare. Selain jagung, mereka juga mengembangkan berbagai tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, kembang kol, dan wortel.
“Selain jagung, kami juga fokus pada tanaman hortikultura karena permintaan pasar cukup baik. Sayuran seperti cabai, tomat, hingga kembang kol terus kami kembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pasar lokal,” jelasnya.
Tidak hanya sektor pertanian, kelompok tersebut juga mengembangkan usaha peternakan dengan memelihara sekitar 700 indukan ayam petelur dan 1.500 ekor ayam pedaging. Integrasi antara pertanian dan peternakan itu, menurut Ahmad Badara, menjadi strategi penting agar usaha kelompok tetap berkelanjutan sekaligus memiliki beragam sumber penghasilan bagi para anggotanya. (kopi4/kopi3)































