Beranda Kutai Timur Dinkes Kutim Dukung Eliminasi TBC 2030

Dinkes Kutim Dukung Eliminasi TBC 2030

86 views
0

Kadinkes Kutim Yuwana Sri Kurniawati usai mengikuti pengukuhan PAC PPTI se-Kutim. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus memperkuat langkah strategis dalam mendukung target nasional eliminasi Tuberkulosis (TBC) tahun 2030. Komitmen tersebut ditandai dengan pengukuhan Pengurus Anak Cabang (PAC) Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) dari 18 kecamatan se-Kutim yang berlangsung di Pelangi Room Hotel Royal Victoria, Senin (27/4/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperluas jaringan gerakan pemberantasan TBC hingga ke tingkat kecamatan. Penguatan organisasi tersebut dinilai sebagai langkah konkret untuk mempercepat penanganan penyakit menular yang hingga kini masih menjadi ancaman serius, baik secara global maupun lokal.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinkes Kutim Yuwana Sri Kurniawati menegaskan bahwa pengukuhan PAC PPTI bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat kolaborasi masyarakat dalam memutus rantai penularan TBC di daerah.

“Pengukuhan ini adalah bentuk penguatan gerakan bersama. TBC tidak bisa ditangani hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi harus melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari keluarga, kader, hingga organisasi sosial di tingkat kecamatan,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC tertinggi setelah India. Kondisi tersebut menjadi alarm serius bagi seluruh daerah, termasuk Kutim, untuk bergerak lebih cepat dan terorganisir dalam mendukung eliminasi TBC secara nasional.

Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), Kutim setiap tahunnya mencatat lebih dari 1.000 kasus TBC. Angka ini menunjukkan bahwa penularan masih cukup tinggi dan membutuhkan intervensi menyeluruh, terutama melalui deteksi dini serta peningkatan kesadaran masyarakat.

“Kasus TBC di Kutim masih tinggi. Faktor pemicunya beragam, mulai dari meningkatnya penderita diabetes melitus, kebiasaan merokok, status gizi buruk, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat dan sanitasi yang belum optimal,” jelasnya.

Menurut Yuwana, persoalan TBC bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga erat kaitannya dengan pola hidup, kondisi sosial ekonomi, dan kualitas lingkungan. Karena itu, upaya eliminasi harus dilakukan melalui pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif secara bersamaan.

Melalui PAC PPTI di 18 kecamatan, pemerintah berharap skrining massal dapat lebih digencarkan untuk menemukan kasus sejak dini sebelum penularan meluas. Selain itu, kader-kader di tingkat kecamatan diharapkan mampu menjadi ujung tombak edukasi masyarakat mengenai gejala, pencegahan, dan pentingnya pengobatan teratur.

“Peran kader sangat vital, termasuk memastikan pasien patuh minum obat melalui Kader Pendamping Minum Obat (PMO), karena keberhasilan pengobatan TBC sangat bergantung pada kedisiplinan pasien menyelesaikan terapi hingga tuntas,” ujarnya.

Tidak hanya itu, PPTI juga didorong aktif dalam menyosialisasikan pola hidup sehat, memperbaiki pemahaman masyarakat terhadap stigma TBC, serta membantu dukungan nutrisi bagi pasien melalui pemberian makanan tambahan bergizi tinggi guna mempercepat pemulihan.

Dengan pengukuhan kepengurusan baru ini, Pemkab Kutim optimistis upaya eliminasi TBC 2030 dapat tercapai melalui sinergi kuat antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan seluruh warga. Kolaborasi dari tingkat kabupaten hingga kecamatan diyakini menjadi fondasi utama mewujudkan Kutim yang lebih sehat dan bebas TBC.(kopi14/kopi13)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini