SANGATTA- Peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 Kabupaten Kutai Timur (Kutim), yang jatuh pada 12 Oktober 2025, dipastikan tetap digelar meriah meski anggaran pemerintah daerah terbatas. Alih-alih bergantung pada kas daerah, Pemkab Kutim menyiapkan konsep baru, merayakan bersama swasta, paguyuban, dan masyarakat. Dengan menekankan kreativitas serta partisipasi publik.
Kamis (28/8/2025) siang, ruang Arau di kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) tampak lebih sibuk dari biasanya. Suasana rapat koordinasi perdana untuk persiapan Hari Ulang Tahun ke-26 Kutim mengalir dengan penuh gagasan. Meski perayaan jatuh pada 12 Oktober mendatang, perencanaan kali ini terasa berbeda. Anggaran yang terbatas membuat pemerintah daerah harus memutar otak agar pesta rakyat tetap berlangsung meriah tanpa bergantung penuh pada kas daerah.
Kabag Pemerintahan sekaligus Plt Asisten Pemkesra Sekab Kutim Trisno, menegaskan bahwa konsep baru tengah disiapkan. Pemerintah ingin melibatkan swasta, paguyuban, hingga masyarakat agar HUT Kutim menjadi ruang bersama, bukan sekadar acara seremonial. Menurutnya tidak semua kegiatan harus berbasis anggaran. Banyak hal yang bisa dilakukan melalui koordinasi, partisipasi masyarakat, maupun melibatkan pihak swasta.

“Jadi anggaran nol bukan masalah besar,” ujarnya, Jumat (29/8/2025).
Salah satu ide yang mengemuka ialah keterlibatan paguyuban yang selama ini menerima hibah pembinaan. Mereka diharapkan berkontribusi tanpa honor, sebagai bentuk timbal balik atas dukungan pemerintah. Kalau semua paguyuban tampil, dia yakin suasana pasti meriah.
“Kita sudah siapkan konsumsi, tapi jangan minta honor,” jelas Trisno.
Tidak berhenti di situ, sektor pariwisata juga dilibatkan. Pemkab tengah menyiapkan ekspedisi wisata laut ke Pulau Miang, Sekerat, Ciku-Ciku, hingga Sangkulirang. Setiap desa diharapkan menghadirkan festival lokal agar perayaan menjadi rangkaian wisata lima hari penuh, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Trisno menekankan pentingnya perubahan pola pikir. Perayaan ulang tahun, katanya, tidak boleh lagi dipandang sekadar pemborosan anggaran. Dia ingin menggeser mindset dari kegiatan seremonial yang membuang uang menjadi kegiatan berbasis kepentingan bersama.
“Sponsor yang ikut terlibat harus mendapatkan keuntungan berupa citra baik. Itu jauh lebih besar nilainya,” ujarnya.

Sejumlah perusahaan besar seperti PT KPC dan PT Pamapersada Nusantara diharapkan mengambil peran nyata. Misalnya menjadi penanggung jawab lomba olahraga tradisional atau seni. Selain itu, Pemkab juga membuka sayembara logo HUT Kutim se-Indonesia dengan hadiah Rp5 juta hingga Rp10 juta.
Agenda lanjutan akan digelar pada September mendatang. Pada minggu pertama, fokus pembahasan meliputi detail teknis Expo, jalan sehat, hingga pesta rakyat. Sedangkan minggu kedua, tema resmi peringatan akan ditetapkan sebagai pesan besar pembangunan daerah. Dengan semangat kolaborasi, Pemkab Kutim ingin membuktikan bahwa perayaan ulang tahun daerah tidak selalu identik dengan belanja besar. Kreativitas dan partisipasi publik menjadi kunci agar HUT Kutim ke-26 tetap hidup, meriah, dan bermakna. (kopi16/kopi4/kopi3)
































