SANGATTA — Di bawah hangatnya mentari pagi, halaman Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Sangatta (STAIS) dipenuhi semangat muda dan wajah antusias para mahasiswa yang siap turun ke lapangan. Senin (10/11/2025) menjadi momentum penting bagi keluarga besar STAIS, saat pelepasan peserta Kuliah Kerja Lapang (KKL) Angkatan ke-16 menuju Kecamatan Muara Wahau dan Kombeng resmi dilakukan.
Pelepasan dilakukan oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Sudirman Latif, mewakili Bupati Kutim. Dalam arahannya, Sudirman menegaskan bahwa kegiatan KKL bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan panggilan moral dan intelektual bagi mahasiswa untuk mengabdi kepada masyarakat.
“Kehadiran mahasiswa STAIS di tengah masyarakat adalah bukti bahwa kampus bukan menara gading. Dunia akademik harus hadir, berbaur, dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan Kutai Timur, khususnya di bidang sosial dan keagamaan,” tegasnya.

Lebih jauh, Sudirman menilai kegiatan ini sebagai perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat — yang menjadi dasar keberadaan kampus.
“Inilah bentuk nyata dari tri panggilan kampus. Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kuliah, tapi juga mempraktikkan ilmu dan nilai kemanusiaan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar mahasiswa mampu beradaptasi dengan kehidupan warga di lokasi KKL.
“Pemkab Kutim memandang mahasiswa sebagai mitra strategis dalam perubahan sosial. Melalui KKL ini, mereka bisa menjadi jembatan yang menyampaikan aspirasi masyarakat dari desa ke ruang kebijakan,” kata Sudirman.
Dari pihak kampus, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) STAIS Sangatta, Mustato, menegaskan bahwa setiap mahasiswa yang berangkat adalah duta kampus yang membawa nama baik almamater.
“KKL adalah bagian penting dari proses pendidikan di STAIS. Kami ingin mahasiswa tidak hanya unggul di kampus, tetapi juga mampu memahami realitas sosial di masyarakat. Inilah wujud nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kami tanamkan sejak dini,” ujar Mustato



Lebih lanjut, Mustato berharap para mahasiswa mampu berperan sebagai promotor eksistensi STAIS yang turut mendukung pembangunan di Kutai Timur, khususnya dalam bidang religi, dakwah, dan sosial.
“Melalui KKL, mahasiswa kami ditempa untuk menghadapi tantangan nyata. Mereka belajar beradaptasi, berkomunikasi, dan memberikan solusi sesuai bidang keilmuannya. Kami yakin mereka akan membawa semangat positif di tengah masyarakat,” kata Mustato menambahkan.
Selama 45 hari, para mahasiswa akan hidup berdampingan dengan masyarakat, menjalankan berbagai program sosial, pendidikan, dan keagamaan. Melalui pengabdian ini, mereka diharapkan tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Salah satu peserta, Rahmi, mahasiswi semester tujuh, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari Angkatan ke-16 KKL STAIS.
“Kami merasa tertantang sekaligus bersyukur bisa langsung belajar dari masyarakat. Semoga kami bisa membawa manfaat dan menjadi bagian dari solusi untuk warga di tempat kami mengabdi,” ungkap Rahmi optimis.
Kegiatan pelepasan ditutup dengan pesan penuh harapan dari pimpinan kampus agar mahasiswa STAIS terus menyalakan semangat Tri Dharma di mana pun berada.(kopi4)






























