Beranda Kutai Timur Dialog Senja Teluk Kaba, Generasi Kutim Harus Cerdas, Berahlak dan Kuat Bekerja

Dialog Senja Teluk Kaba, Generasi Kutim Harus Cerdas, Berahlak dan Kuat Bekerja

67 views
0

Momen pertemuan dialog sekaligus bukber bersama Wakil Bupati Mahyunadi dan Lentera Muda Kutim. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA SELATAN – Di pelataran Musala Miftahul Huda, Desa Sangkima, Sangatta Selatan, Minggu (1/3/2026), sebuah dialog strategis mengalir di antara senja menuju magrib. Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi hadir di tengah pemuda-pemudi yang tergabung dalam Lentera Muda Kutim untuk membedah tantangan masa depan dari krisis jaringan internet hingga pentingnya integritas moral bagi calon pemimpin daerah.

Dalam pertemuan yang dibalut suasana buka puasa bersama (bukber) tersebut, Mahyunadi menekankan bahwa ijazah dan pendidikan tinggi adalah fondasi mutlak. Namun, ia mengingatkan bahwa pengetahuan tanpa tindakan adalah kesia-siaan, sementara kerja keras tanpa pemikiran adalah ketersesatan.

“Sekolah itu penting karena di sana orang belajar berpikir dan menciptakan sesuatu yang baru. Namun, berpikir tanpa bekerja itu sia-sia, dan bekerja tanpa berpikir itu bisa tersesat. Generasi masa depan Kutim harus mampu memadukan keduanya,” ujar Mahyunadi di hadapan para pemuda.

Lebih jauh, Mahyunadi membagikan filosofi kepemimpinan yang ia jalani. Ia menceritakan pengalamannya menyerap ilmu dari perdebatan para wakil ketua di sekelilingnya. Menurut dia, kunci kesuksesan bukan sekadar kecerdasan, melainkan kemampuan untuk menjadi pribadi yang menyenangkan dan dibutuhkan lingkungan.

Ia mewanti-wanti agar pemuda tidak menjadi beban sosial.

“Jadilah orang yang kehadirannya dirindukan dan ketiadaannya terasa kehilangan. Jangan terbalik, orang merasa susah kalau kita ada, dan justru bersyukur kalau kita tidak ada,” tuturnya.

Integritas atau ahlak, menurut Mahyunadi, adalah pembeda antara kesuksesan yang membawa berkah atau bencana. Ia mencontohkan tokoh dunia yang sukses secara materi namun dianggap gagal secara moral, yang justru memicu konflik.

“Sukses tanpa ahlak adalah kecelakaan,” tegasnya.

Selanjutnya, Mahyunadi mengakui bahwa penyediaan infrastruktur telekomunikasi di wilayah pesisir memiliki tantangan komersial bagi operator seluler. Ia menjanjikan langkah-langkah strategis, mulai dari negosiasi dengan pihak penyedia layanan hingga pertimbangan penggunaan teknologi satelit seperti Starlink, meski kendala sistem pembayaran masih menjadi hambatan bagi warga lokal.

“Ini memang rumit karena terkait hitungan bisnis penyedia menara. Namun, pemerintah akan memperjuangkan agar masyarakat di sini mendapatkan kemudahan akses informasi. Kita akan cari solusinya bersama-sama,” janji Mahyunadi.

Selain pendidikan dan ahlak, Mahyunadi menutup dialog dengan pesan mengenai pentingnya koneksi dan organisasi. Melalui organisasi, para pemuda diharapkan mampu membangun jejaring luas yang nantinya akan membantu mereka dalam mengakses peluang di berbagai sektor pembangunan Kutim.

Sebelumnya, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi warga Teluk Kaba untuk menyuarakan keterisolasian digital. Ketua Lentera Muda, Ari, mengungkapkan bahwa di era transformasi digital, wilayah mereka masih terseok-seok karena sulitnya sinyal telekomunikasi.

“Di kampung ini segala sesuatunya sulit. Salah satunya kesulitan berkomunikasi karena perihal jaringan internet yang sangat terbatas,” singkat Ari.(kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini