Beranda Keagamaan Menunggu 13 Tahun, Gereja KIBAID Sangatta Akhirnya Berdiri

Menunggu 13 Tahun, Gereja KIBAID Sangatta Akhirnya Berdiri

14 views
0

Gedung Gereja KIBAID Jemaat Sangatta diresmikan Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi. Foto: Alvian/Pro Kutim

SANGATTA – Sebelum menjelma menjadi bangunan permanen dua lantai yang mampu menampung sekitar 500 orang, Gereja Kerapatan Injil Bangsa Indonesia (KIBAID) Jemaat Sangatta pernah berteduh di rumah-rumah warga. Jemaat beribadah berpindah dari satu ruang tamu ke ruang tamu lain, lalu mendirikan gereja mungil berdinding karorok, lembaran karung bekas material tambang yang lazim dimanfaatkan masyarakat Sangatta pada masa itu. Dari ruang sederhana itulah perjalanan panjang sebuah jemaat dimulai.

Pada Sabtu, (11/7/2026), penantian itu mencapai titimangsa (masa yang dinanti). Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-90 Gereja KIBAID, gedung gereja baru resmi ditahbiskan dan mulai digunakan. Penahbisan tersebut bukan hanya menandai rampungnya pembangunan fisik yang berlangsung selama 13 tahun, melainkan juga menjadi penutup dari rentang perjuangan lebih dari tiga dekade yang dipenuhi gotong royong, ketabahan, dan ikhtiar bersama.

Sejarah Gereja KIBAID Jemaat Sangatta bermula pada awal 1990-an, ketika Sangatta berkembang sebagai kawasan tujuan masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari penghidupan. Di tengah arus pertumbuhan itu, lima kepala keluarga membentuk sebuah persekutuan kecil. Mereka belum memiliki rumah ibadah. Kebaktian dilaksanakan secara bergiliran di kediaman jemaat, sembari memelihara harapan agar suatu hari memiliki gereja sendiri.

Harapan itu perlahan berwujud melalui pembangunan gereja sederhana berukuran 4 x 6 meter. Tiangnya menggunakan kayu bulat, sedangkan dindingnya dibuat dari karorok. Bangunan yang jauh dari kata megah itu justru menjadi tonggak awal pelayanan Gereja KIBAID di Sangatta. Di gereja kecil tersebut, jemaat merayakan Natal pertama pada 1992. Keterbatasan tidak menjadi alasan untuk berhenti bertumbuh.

Setahun kemudian, tepatnya pada 22 Juni 1993, pembangunan gereja yang lebih representatif dimulai dengan ukuran 8 x 18 meter. Perjuangan itu berbuah ketika gereja ditahbiskan pada 2 Desember 1995. Seiring bertambahnya jumlah jemaat, rumah ibadah tersebut kemudian diresmikan oleh Bupati Kutai Timur (Kutim) saat itu, Mahyudin. Ketika itu, jumlah jemaat telah berkembang menjadi 44 kepala keluarga atau sekitar 227 jiwa. Dalam kurun waktu tersebut, estafet pelayanan tidak pernah terputus. Sejak 1992 hingga 2026, Gereja KIBAID Jemaat Sangatta dipimpin oleh 18 gembala jemaat. Pelayanan pertama dipimpin Guru Injil (GI) Nurdin Nasir Palengka yang menggembalakan jemaat sejak 31 Januari 1992 hingga 31 Maret 1993. Kepemimpinan kemudian diteruskan oleh para pendeta berikutnya yang menjaga denyut pelayanan hingga gereja terus berkembang.

Perjalanan panjang itu memasuki babak baru ketika Wabup Kutim Mahyunadi meresmikan penggunaan gedung gereja baru. Dalam pandangannya, rumah ibadah bukan hanya menjadi tempat menjalankan ritual keagamaan, melainkan juga wahana menempa sumber daya manusia yang berakhlak dan berkarakter.

“Dalam visi-misi ARMY (Ardiansyah Sulaiman – Mahyunadi), misi pertama kita adalah peningkatan dan pemerataan daya saing daerah melalui pembangunan SDM yang berahlak mulia, sehat, cerdas, dan berprestasi. Di gereja inilah tempat yang pasti untuk menciptakan SDM yang berakhlak mulia,” ujarnya.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan kualitas manusia sebagai fondasi utama. Menurut Mahyunadi, keberadaan rumah ibadah memiliki arti penting karena menjadi ruang pembinaan moral sekaligus pendidikan karakter bagi generasi muda. Ia juga menyambut baik rencana jemaat membangun fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di lingkungan gereja. Pemerintah daerah, kata dia, siap memberikan dukungan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Yang paling mahal dari pejabat itu adalah kebijakannya melalui tanda tangan, karena kalau isi kantong tentu terbatas. Oleh karena itu, jika proposalnya segera diajukan kepada pemerintah, maka segera pula kami disposisi untuk ditindaklanjuti,” tegas Mahyunadi.

Dalam kesempatan itu, Mahyunadi turut menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang tidak dapat menghadiri acara karena menjalankan agenda pemerintahan. Di sela sambutannya, ia juga mengungkapkan rasa bangga terhadap kekompakan masyarakat Toraja di Kutim. Bahkan, ia berkelakar memiliki kedekatan emosional karena sang kakek juga berdarah Toraja.

Ketua Pembangunan Gereja KIBAID Jemaat Sangatta, Benyamin Wempy, mengatakan proses pembangunan gereja baru berlangsung selama 13 tahun. Pandemi Covid-19 sempat menghentikan pekerjaan. Namun, semangat jemaat tidak pernah surut untuk menuntaskan cita-cita tersebut.

“Pembangunan gereja ini berlangsung selama 13 tahun dan sempat terhenti saat pandemi Covid-19. Puji Tuhan akhirnya bisa selesai. Total biaya pembangunan sekitar Rp7,9 miliar yang berasal dari sumbangan sukarela jemaat, iuran warga gereja, serta dukungan dari APBD Kabupaten Kutai Timur,” ujar Benyamin.

Gedung baru berukuran 13 x 28 meter itu dibangun dua lantai. Lantai pertama dimanfaatkan sebagai gedung serbaguna untuk kegiatan pelayanan dan pembinaan jemaat. Adapun lantai kedua menjadi ruang ibadah utama dengan kapasitas sekitar 500 orang.

Bagi Jenny Tiondo, anggota jemaat yang mengikuti perjalanan gereja sejak masa awal, penahbisan tersebut merupakan jawaban atas doa yang terus dipanjatkan selama bertahun-tahun.

“Kami sangat bersyukur karena akhirnya gereja ini bisa ditahbiskan. Ini bukan hasil kerja satu atau dua orang, tetapi hasil doa, pengorbanan, dan kebersamaan seluruh jemaat. Kami berharap gereja ini menjadi tempat yang membawa banyak orang semakin dekat kepada Tuhan dan menjadi berkat bagi masyarakat,” ujarnya.

Di balik bangunan yang kini berdiri tegak, tersimpan kisah tentang kesetiaan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari lima kepala keluarga yang beribadah berpindah-pindah, dari gereja berdinding karorok, hingga gedung permanen yang kokoh, seluruh perjalanan itu membentuk sebuah narasi bahwa pembangunan rumah ibadah tidak hanya diukur dari tinggi dinding atau luas bangunan.

Hal yang lebih bernilai ialah tumbuhnya ruang pembinaan yang mempersiapkan manusia beriman, berwatak luhur, serta memiliki kepedulian sosial. Pada titik itulah penahbisan Gereja KIBAID Jemaat Sangatta memperoleh maknanya. Bukan semata meresmikan sebuah bangunan, melainkan merawat harapan agar generasi yang lahir dari ruang tersebut kelak memberi faedah bagi masyarakat dan pembangunan Kutim. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini