Beranda Entertainment Wayang Kulit Satukan Budaya dan Harmoni di Kutai Timur

Wayang Kulit Satukan Budaya dan Harmoni di Kutai Timur

47 views
0

Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, menyerahkan gunungan (kayon) kepada Dalang Ki Dwi Marka Cahyono sebagai penanda dimulainya pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Lapangan Kabo Jaya, Desa Swargabara. Foto: Alvian/Pro Kutim

SANGATTA – Malam belum benar-benar menua ketika bunyi saron, bonang, kenong, dan gong mulai bertaut membentuk gita (nyanyian atau alunan bunyi yang padu). Di balik kelir yang membentang, bayang-bayang tokoh pewayangan bergerak perlahan mengikuti sabda sang dalang. Ratusan warga bertahan hingga dini hari, larut dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Lapangan Kabo Jaya, Desa Swargabara, Kecamatan Sangatta Utara, Sabtu (11/7/2026).

Di tengah derasnya pengaruh budaya populer, pertunjukan tersebut menghadirkan penanda bahwa tradisi tidak kehilangan tempatnya. Wayang kulit tetap menjadi wahana pewarisan nilai, sekaligus ruang perjumpaan masyarakat lintas generasi dan lintas latar belakang.

Kelompok Karawitan Gono Remboko dipercaya mengiringi jalannya pertunjukan dengan Dalang Ki Dwi Marka Cahyono yang membawakan lakon “Sesaji Raja Suya”.

Hadir dalam kesempatan itu Wakil Bupati Kutai Timur (Wabup Kutim) Mahyunadi, datang mewakili Bupati. Kemudian ada Kepala Desa Swargabara Wahyuddin Usman, tokoh masyarakat, beserta ratusan warga yang memenuhi lapangan.

Sebelum pertunjukan dimulai, Mahyunadi secara simbolis menyerahkan gunungan atau kayon kepada sang dalang. Dalam tradisi pewayangan, gunungan bukan hanya penanda dimulainya kisah, melainkan perlambang perjalanan kehidupan yang sarat makna. Bagi Mahyunadi, wayang kulit melampaui fungsi hiburan. Kesenian itu menjadi medium yang meneguhkan persaudaraan di tengah masyarakat Kalimantan Timur yang majemuk.

“Salah satu alasan Kaltim dipilih menjadi Ibu Kota Nusantara adalah karena daerah ini dikenal aman dan damai. Sampai hari ini kita tidak pernah mengalami kerusuhan antaretnis. Padahal suku, budaya, bahasa, dan agama di Kaltim sangat beragam. Semua bisa hidup berdampingan, saling menghargai, dan memiliki toleransi yang tinggi. Itu modal yang sangat penting untuk membangun daerah maupun bangsa,” ujar Mahyunadi.

Ia memandang pentas budaya memiliki daya rekat sosial yang tidak tergantikan. Tradisi yang terus dipelihara akan menjaga ikatan antarmasyarakat tetap kukuh sehingga pembangunan berlangsung dalam suasana tenteram.

“Kalau masyarakat rukun, pembangunan akan berjalan dengan baik. Karena itu budaya seperti ini harus terus kita hidupkan. Selain melestarikan warisan leluhur, juga mengajarkan generasi muda tentang persatuan, gotong royong, dan saling menghormati,” tambahnya.

Lakon “Sesaji Raja Suya” menghamparkan kisah mengenai kepemimpinan yang bertumpu pada pengorbanan, kejujuran, dan tanggung jawab. Melalui tutur sang dalang, penonton diajak merenungi bahwa kewibawaan seorang pemimpin bukan lahir dari kekuasaan semata, melainkan dari kebijaksanaan, keikhlasan, serta kesediaan mengutamakan kepentingan rakyat.

Di sela-sela kisah yang mengalir hingga fajar, denting gamelan terus menghidupkan suasana.

Puluhan pengrawit memainkan setiap instrumen dengan irama yang saling mengisi. Keselarasan bunyi menghadirkan pelajaran yang sederhana, tetapi mendalam: setiap unsur memiliki peran, dan harmoni hanya tercipta ketika seluruhnya saling mendengarkan. Semangat merawat tradisi itu tumbuh dari masyarakat sendiri. Pemilik Kelompok Karawitan Gono Remboko, Margono, menuturkan kelompok yang dipimpinnya baru berdiri sekitar satu tahun. Kendati usianya masih belia, tekad anggotanya untuk menjaga seni tradisi tidak surut.

“Kelompok kami memang baru berjalan sekitar setahun. Kami ingin ikut menjaga agar wayang kulit dan karawitan tetap dikenal masyarakat, terutama anak-anak muda,” kata Margono asal Kediri.

Kebanggaan Margono pada malam itu bertambah karena dalang yang tampil merupakan putranya sendiri, Ki Dwi Marka Cahyono, yang baru berusia 20 tahun. Di usia muda, ia telah menekuni dunia pedalangan sejak kanak-kanak.

“Dalangnya ini anak saya sendiri. Umurnya baru 20 tahun, tetapi sudah serius belajar pedalangan sejak kecil. Kami bersyukur masyarakat memberi dukungan. Bulan Agustus nanti dia juga mendapat kesempatan tampil dalam pertunjukan wayang kulit di Samarinda. Mudah-mudahan ini menjadi penyemangat bagi anak-anak muda lainnya untuk mencintai budaya sendiri,” ungkapnya.

Kehadiran dalang muda menjadi isyarat bahwa regenerasi masih berlangsung. Tradisi tidak berhenti pada generasi terdahulu, melainkan terus menemukan penerus yang bersedia memikul amanah kebudayaan. Nuansa kebhinekaan yang dipancarkan melalui pagelaran tersebut sejalan dengan kehidupan masyarakat Desa Swargabara. Wilayah itu kerap disebut sebagai miniatur keberagaman karena dihuni warga dari berbagai latar belakang yang bermukim di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Jawa, Kampung Bugis, Kampung Banjar, Kampung Timor, dan Kampung Tator (Toraja). Perbedaan suku, bahasa, maupun adat tidak menjelma menjadi sekat. Sebaliknya, keberagaman menjadi pangkal kebersamaan yang terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Swargabara Wahyuddin Usman mengingatkan pentingnya menjaga ikatan tersebut agar tetap menjadi kekuatan bersama.

“Swargabara ini milik kita bersama. Warganya berasal dari berbagai suku, tetapi selama ini bisa hidup berdampingan dengan baik. Saya titip pesan kepada seluruh masyarakat, mari terus kita jaga kerukunan, tetap guyub, saling menghormati, dan saling membantu. Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk terpecah, justru harus menjadi kekuatan untuk membangun desa yang semakin maju,” pesan Wahyuddin.

Pagelaran wayang kulit di Desa Swargabara akhirnya tidak berhenti sebagai perhelatan seni semata. Di balik kelir, sabetan wayang, dan alunan gamelan yang mengisi malam hingga fajar, tersirat ikhtiar (upaya sungguh-sungguh) menjaga warisan budaya agar tetap berdenyut di tengah masyarakat. Ketika tradisi tetap memperoleh ruang, nilai-nilai seperti tenggang rasa, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman ikut terpelihara. Dari panggung sederhana di Kabo Jaya, pesan itu mengalir melampaui pertunjukan: kebudayaan bukan hanya peninggalan masa silam, melainkan fondasi yang terus menguatkan harmoni sosial dan menopang pembangunan yang damai di Kutim maupun Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai gerbang Ibu Kota Nusantara. (kopi4/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini