Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi membuka MPLS di SDN 0006 Sangatta Utara. Foto: Awal/Pro Kutim
SANGATTA – Ada pemandangan berbeda di halaman SDN 006 Sangatta Utara, Senin (13/7/2026) pagi. Ratusan anak dengan seragam baru yang masih tampak kaku berbaris rapi. Hari itu adalah hari pertama mereka menginjakkan kaki di dunia sekolah dasar dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Spesialnya, langkah awal mereka ini disaksikan langsung oleh Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi.
Kunjungan ini merupakan momen perdana Mahyunadi menginjakkan kaki di SDN 006 setelah sekolah favorit tersebut selesai direnovasi besar-besaran. Didampingi Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah dan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Mulyono, orang nomor dua di Kutim ini datang membawa pesan kuat tentang arah masa depan pendidikan di Kutim.
Dalam sambutannya di hadapan para murid, guru, dan wali murid, Mahyunadi mengingatkan bahwa membangun sektor pendidikan tidak seperti membangun gedung yang hasilnya langsung terlihat dalam hitungan bulan.

“Pendidikan atau pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) itu adalah investasi jangka panjang. Kita masukkan anak-anak kita sekolah hari ini, paling cepat 12 atau 13 tahun yang akan datang saat mereka lulus SMA, baru kelihatan hasilnya. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi,” ujar Mahyunadi.
Selaras dengan misi pertama Pemkab Kutim, Mahyunadi menekankan bahwa pintar saja tidak cukup. Kunci dari majunya daerah adalah melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga sehat dan memiliki akhlak mulia.
Oleh karena itu, ia meminta para guru tidak sekadar mengacu pada kurikulum buku teks (textbook), melainkan menaruh perhatian besar pada pembentukan mental, moral, dan kedisiplinan sejak dini.

Di tengah optimisme tahun ajaran baru, Wakil Bupati Mahyunadi juga menunjukkan sikap ksatria dan transparansinya di hadapan publik. Ia secara terbuka menyoroti imbas keterlambatan pembagian paket seragam gratis yang mencakup 4 setel pakaian, sepatu, tas, hingga alat tulis bagi para siswa baru.
Ia menjelaskan, keterlambatan ini dipicu oleh lemahnya analisis penganggaran di tingkat Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang berujung pada proses pergeseran anggaran di tahun berjalan. Imbasnya, proses lelang baru bisa berjalan di bulan Juli.
“Saya sampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Akibat pergeseran anggaran yang baru selesai akhir Juni lalu, pengadaan barang menjadi terlambat, sehingga hari ini kita baru bisa memperlihatkan sampelnya saja,” ungkapnya dengan jujur.

Berkaca dari persoalan ini, Mahyunadi menegaskan telah menginstruksikan TAPD secara ketat agar sistem penganggaran diperbaiki total demi hak anak-anak Kutim.
“Saya sudah pesan ke TAPD, untuk tahun-tahun berikutnya tidak boleh lagi ada pergeseran anggaran. Penghitungan APBD harus cermat sejak awal tahun sebelumnya. Saya targetkan bulan Februari semua kegiatan dan proyek sudah harus berjalan, sehingga saat tahun ajaran baru dimulai, semua seragam gratis sudah terdistribusi rapi ke tangan anak-anak kita,” pungkas Mahyunadi disambut tepuk tangan riuh dari para orang tua murid.
Kemeriahan hari pertama sekolah ini ditutup dengan serangkaian prosesi simbolis yang khidmat sekaligus penuh sukacita. Acara diakhiri secara resmi dengan pelepasan balon ke udara oleh Wakil Bupati bersama para tokoh daerah, sebagai simbol digantungkannya cita-cita setinggi langit bagi generasi baru Kutim.

Tak hanya itu, acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis sampel bantuan berupa 4 setel seragam sekolah, sepatu, paket alat tulis kepada perwakilan siswa baru kemudian penyerahan modul panduan MPLS kepada perwakilan guru. Momen penuh kehangatan tersebut kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara jajaran pejabat daerah, pihak sekolah, dan para murid-orang tua, menandai dimulainya lembaran baru tahun ajaran dengan semangat tinggi.(kopi5/kopi13/kopi3)




























