Kadisdikbud Kutim Mulyono menyampaikan laporan dalam pembukaan MPLS se-Kutim di SDN 006 Sangatta Utara.Foto: Awal/Pro Kutim
SANGATTA – Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi dimulai secara serentak. Demi memastikan jalannya orientasi yang aman dan terukur, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kutim, Mulyono, turun langsung meninjau pelaksanaan MPLS di SDN 006 Sangatta Utara, Senin (13/7/2026).
Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh satuan pendidikan di Kutim patuh terhadap Surat Edaran (SE) Kemendikdasmen Nomor 12 Tahun 2006 tentang MPLS. Dipilihnya SDN 006 Sangatta Utara sebagai lokus utama dinilai sangat strategis karena sekolah tersebut berada dalam kawasan terintegrasi yang mencakup jenjang TK, SD, hingga SMP.
Dalam penyampaiannya, Mulyono menegaskan aturan ketat terkait pihak yang diperbolehkan mengelola masa orientasi. Guna menghindari riak perpeloncoan lama dan tindakan di luar kendali, Disdikbud membatasi kepanitiaan hanya dari unsur resmi sekolah.

“Kami ingatkan dengan tegas, pelaksanaan MPLS tahun ini adalah ranah Dewan Guru beserta pengurus OSIS resmi. Alumni dilarang keras untuk ikut ambil bagian. Segala bentuk perundungan (bullying) atau perpeloncoan yang berlebihan tidak boleh terjadi dan dilarang sekali,” ujar Mulyono dengan nada tegas.
Terkait konten kegiatan, Mulyono menjelaskan bahwa kurikulum MPLS tahun ini memiliki acuan yang jelas dan tidak boleh diisi dengan aktivitas fisik yang tidak produktif. Fokus utama masa orientasi adalah mengenalkan ekosistem sekolah agar siswa baru dapat beradaptasi dan menjadikan sekolah sebagai rumah kedua mereka.
“Materi utama yang wajib ditanamkan dalam kegiatan MPLS adalah pengenalan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Ini harus menjadi menu utama. Sementara untuk materi pilihan, kami bebaskan pihak sekolah menambahkan hal-hal yang dirasa perlu disampaikan,” urainya.

Melalui materi tersebut, siswa baru diajak berkeliling mengenalkan seluruh fasilitas sekolah, mulai dari ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang UKS, hingga letak toilet, agar mereka tidak kebingungan saat mulai aktif belajar.
Selain urusan kurikulum, Mulyono juga memberikan laporan teknis dan klarifikasi di hadapan Wakil Bupati Mahyunadi mengenai program bantuan seragam gratis yang menjadi perhatian para orang tua wali murid.
Ia memaparkan bahwa untuk tahun anggaran ini, Pemda Kutim tetap berkomitmen mengalokasikan 4 setel seragam lengkap beserta kelengkapannya untuk seluruh siswa baru di jenjang PAUD, SD, dan SMP. Paket bantuan tersebut mencakup seragam wajib (merah-putih/biru-putih), seragam pramuka, olahraga, batik, serta dilengkapi dengan sepatu, tas, dan alat tulis.

Mulyono pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka karena seluruh paket bantuan tersebut belum bisa diserahkan secara serentak pada hari pertama masuk sekolah.
“Ada dua alasan mendasar. Pertama, kami harus menunggu data final penerimaan siswa baru agar ukuran pakaian yang dipesan nanti sesuai dan tidak keliru. Kedua, proses anggaran kita baru selesai melewati masa pergeseran di akhir Juni lalu, sehingga proses lelang pengadaan baru bisa berjalan di bulan Juli ini. Jika lelang berjalan bulan ini, barang diperkirakan tiba pada September mendatang,” ungkap Mulyono secara detail.
Di akhir laporannya, Mulyono menyebutkan total siswa yang berada di bawah naungan Disdikbud Kutim saat ini mencapai 92.702 siswa yang tersebar di 702 sekolah dengan dukungan 7.900 guru. Pihaknya optimis, melalui pengawalan regulasi yang ketat, tahun ajaran baru di Kutim dapat berjalan sukses dan kondusif.(kopi5/kopi13/kopi3)




























