Beranda Kutai Timur Saat Sawit Memberi Berkah, Mahyudin Ingatkan Petani Kutim tentang Sedekah

Saat Sawit Memberi Berkah, Mahyudin Ingatkan Petani Kutim tentang Sedekah

5 views
0

Pembina FPKS Kutim Mahyudin memberikan arahan dalam silaturahmi dan Bukber. Foto: Irfan/Pro Kutim

SANGATTA – Di tengah wajah-wajah cerah para petani kelapa sawit akibat tren harga komoditas yang membaik, sebuah pesan reflektif mengemuka dalam agenda silaturahmi dan buka puasa bersama (Bukber) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Acara yang digelar di Cafe Kongko Jalan Dayung, Kamis (5/3/2026), ini melampaui sekadar seremoni buka puasa, melainkan menjadi ruang pengingat akan etika sosial dan pengelolaan harta.

Pembina DPD FPKS Kutim Mahyudin, menekankan bahwa kesejahteraan yang dinikmati para petani sawit di Kutim saat ini adalah berkah yang harus dibarengi dengan tanggung jawab sosial yang nyata. Ia menyoroti fenomena “keramaian” saat harga anjlok dan “keheningan” saat harga melambung sebagai momentum untuk kembali bersyukur secara konkret.

“Banyak dari kita di Kutim adalah pendatang yang merantau karena di kampung halaman hidup terasa lebih sulit. Kini, ketika bumi Kutim memberikan berkah melalui sawit, kita wajib bersyukur. Namun, syukur bukan sekadar ucapan, melainkan tindakan nyata melalui santunan yang konsisten,” ujar pria yang dikenal luas sebagai Wakil Ketua DPD RI periode 2019-2024, Wakil Ketua MPR RI (2014-2019) serta pernah menjabat Bupati Kutim (2003-2006).

Dalam orasi yang dibumbui sentuhan spiritual, Mahyudin membagikan pandangannya mengenai manajemen hasil bumi. Baginya, pengelolaan kebun sawit tidak bisa dilepaskan dari hak kaum fakir miskin dan anak yatim yang melekat di dalam setiap hasil panen.

Ia menyarankan para petani untuk menyisihkan hingga 10 persen dari pendapatan setiap kali menjual hasil panen, melampaui kewajiban zakat harta standar. Langkah ini dinilai bukan hanya sebagai kewajiban agama bagi penganutnya, tetapi juga sebagai mekanisme distribusi kekayaan yang menjaga keseimbangan sosial.

“Jangan hanya menyantuni saat Ramadan. Saya memiliki manajemen pribadi, setiap jual sawit, 10 persen langsung disisihkan. Di dalam harta kita, ada bagian orang lain. Jika kita menahan hak mereka, kita hanya membangun citra, bukan ibadah yang sesungguhnya,” tegasnya.

Mahyudin juga melontarkan kritik halus terhadap tradisi buka puasa bersama yang sering kali hanya menjadi ajang pertemuan kelompok elit tanpa menyentuh esensi memberi makan bagi yang membutuhkan. Ia mengingatkan bahwa hakikat ibadah yang paling dicintai adalah menyenangkan orang lain melalui kedermawanan, bukan sekadar “pamer” ketaatan di media sosial.

“Zaman sekarang, banyak yang sibuk membangun pencitraan. Padahal, ibadah yang membahagiakan adalah menyenangkan orang lain dengan sedekah. Iblis itu pintar, jika ia tidak bisa menggoda kita untuk bermaksiat, ia akan menggoda kita melalui kesombongan atas amal ibadah kita sendiri,” tambahnya mencontohkan.

Bagi Mahyudin, kedermawanan inilah yang secara tidak langsung menggerakkan rezeki. Ia mengisahkan pengalamannya bagaimana keterbukaan dalam berbagi sering kali berbuah peluang baru dalam ekspansi perkebunan yang tidak terduga.

Pertemuan yang dihadiri pula oleh Wakil Bupati Kutim Mahyunadi, ini diakhiri dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim yang diambil dari lingkungan binaan pengurus di berbagai RT di Kutim. Pesan yang dibawa FPKS kali ini cukup jelas, bahwa keberlanjutan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh pemupukan dan harga pasar, tetapi juga oleh keikhlasan petani dalam membagi keberkahannya kepada sesama.(kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini