Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman memberikan makna bela negara di Bukber DPK (GBN-MI) Kutim dan jemaah yang hadir. Foto: Irfan/Pro Kutim
SANGATTA – Semangat bela negara tidak selamanya harus diwujudkan dalam bentuk pertahanan fisik, melainkan dapat direaktualisasikan melalui penguatan solidaritas sosial dan spiritualitas. Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadan, keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga persatuan menjadi fondasi penting bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut disampaikan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman didampingi Komandan Kodim 0909/KTM Letkol Arh Ragil Setyo Yulianto saat menghadiri agenda buka puasa bersama (Bukber) Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) Gerakan Bela Negara Membangun Indonesia (GBN-MI) Kutim di Masjid Miftahul Jannah Teluk Lingga, Gang Musala, Sabtu (7/3/2026).

Bupati Ardiansyah Sulaiman menekankan bahwa momen Ramadan, khususnya saat memasuki sepuluh malam terakhir, merupakan waktu terbaik untuk berefleksi. Ia menyebut Ramadan bukan sekadar bulan puasa (syahru shiyam), melainkan juga bulan Al-Qur’an (syahrul Qur’an).
“Kita berada di fase menanti malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Saya bersyukur pengurus GBN-MI mengambil momentum luar biasa ini. Kita niatkan aktivitas hari ini sebagai bagian dari ikhtiar mencari keutamaan tersebut melalui kebersamaan,” ujar Ardiansyah di hadapan jemaah dan anggota GBN-MI.

Dalam arahannya, Ardiansyah menggarisbawahi bahwa membela negara kini menjadi hak sekaligus kewajiban yang bersifat inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Lembaga seperti GBN-MI menjadi wadah bagi warga dari berbagai latar belakang profesi untuk berkontribusi bagi daerah dan bangsa.
“Anggotanya bebas bukan hanya dari kalangan militer atau pegawai negeri, tetapi juga petani dan masyarakat umum. Mempertahankan negara tidak berarti kita ingin berperang, tetapi membantu negara dengan semangat, kemampuan, dan kebersamaan,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak lagi terjebak dalam sekat-sekat perbedaan yang dahulu sering dimanfaatkan oleh penjajah untuk memecah belah bangsa. Sebaliknya, anggota gerakan bela negara diharapkan mampu menjadi “penambal” atas kekurangan yang ada di lingkungan sosial mereka.

Lebih lanjut, Ardiansyah mengajak anggota GBN-MI untuk berperan aktif sebagai mitra pemerintah. Peran tersebut diwujudkan dengan cara memantau kondisi sosial di lapangan dan mengomunikasikan kekurangan yang ada kepada pemerintah untuk kemudian dibantu secara bersama-sama.

“Jika melihat ada yang kurang di masyarakat, kita wajib menutupi satu sama lain. Sampaikan kepada pemerintah dan kita bantu bersama. Inilah hakikat dari kemanunggalan antara masyarakat dan negara,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan berbuka puasa bersama, yang memperlihatkan hangatnya interaksi antarwarga. Langkah GBN-MI ini diharapkan menjadi stimulan bagi organisasi kemasyarakatan lainnya di Kutim untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas dengan pengabdian terhadap tanah air.(kopi13/kopi3)
































