SANGATTA SELATAN – Hangatnya pagi Idulfitri 1447 Hijriah di Masjid At-Taubah tak hanya menjadi ruang perjumpaan spiritual, tetapi juga panggung refleksi tentang masa depan Kutai Timur (Kutim). Dalam suasana yang khidmat, Wakil Bupati, Mahyunadi, menyampaikan pesan yang menautkan antara realitas kekinian dan harapan masa depan: bonus demografi dan solidaritas sosial sebagai pilar pembangunan daerah.
Membacakan sambutan tertulis Bupati Kutim, Mahyunadi menegaskan bahwa generasi muda bukan sekadar pelengkap zaman, melainkan episentrum perubahan yang akan menentukan arah perjalanan daerah. Ia menggarisbawahi bahwa momentum bonus demografi merupakan anugerah sekaligus tantangan yang menuntut kesiapan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan berkarakter tangguh.
“Bonus demografi adalah peluang besar. Generasi muda harus jadi motor penggerak pembangunan Kutai Timur ke depan,” ujarnya, lugas namun sarat makna.
Pesan tersebut mengalir seiring dengan penekanan pada nilai-nilai kebersamaan yang kian mendesak untuk dirawat. Kesabaran, kejujuran, kedisiplinan, serta kepedulian sosial disebut sebagai sendi-sendi moral yang menopang kokohnya persatuan masyarakat. Nilai-nilai ini, dalam pandangan pemerintah daerah, bukan sekadar ajaran normatif, melainkan fondasi etik dalam menghadapi dinamika sosial dan ekonomi.

Dalam sambutan itu pula, disinggung ihwal kondisi ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat. Pemkab Kutim, kata Bupati dalam sambutan itu, berikhtiar menjaga daya beli warga, memperkuat peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong diversifikasi ekonomi agar tidak bergantung pada satu sektor semata.
“Pemberdayaan dan kemandirian desa juga terus kita dorong agar ekonomi masyarakat makin kuat,” lanjutnya.
Ia menambahkan, semangat zakat, infak, dan sedekah yang mengemuka selama Ramadan dan Idulfitri semestinya tidak berhenti sebagai ritual musiman. Lebih dari itu, ia menjadi pengingat akan pentingnya empati sosial dalam meredam kesenjangan dan mempererat kohesi antarwarga.
Di sisi lain, tausiyah yang disampaikan Imam Masjid At-Taubah, H Murjani, memperdalam nuansa reflektif pagi itu. Ia mengajak jamaah untuk menajamkan kepekaan terhadap kondisi sekitar, terutama terhadap kelompok masyarakat yang berada di pinggiran.
“Dalam kondisi apa pun, kita harus tetap bersyukur, bersabar, dan ikhlas. Itulah kunci ketenangan dan kekuatan dalam menjalani hidup,” pesannya.
Murjani menekankan bahwa Idulfitri tidak berhenti pada tradisi saling memaafkan, melainkan menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian dan berbagi kepada sesama.

“Kepedulian kepada mereka yang kurang beruntung harus terus kita jaga,” tambahnya.
Pagi itu, di bawah langit Sangatta Selatan yang cerah, pesan tentang kebersamaan, empati, dan gotong royong bergaung lebih dari sekadar seremonial. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan tak hanya bertumpu pada angka dan kebijakan, tetapi juga pada jiwa kolektif yang saling menopang. Sebuah upaya panjang yang dimulai dari kesadaran bersama. (kopi4/kopi3)































