TEKS FOTO: Wabup Mahyunadi, sungkem dengan Ibunda usai Salad ID 1437 H
SANGATTA – Pagi Idulfitri 1447 Hijriah belum benar-benar usai ketika langkah-langkah khidmat keluarga Mahyunadi mengarah ke sebuah pusara sederhana di Jalan Munthe, Sangatta. Di sanalah, kenangan dan doa bertaut, menyeberangi batas waktu yang tak lagi kasatmata. Bersama istri tercinta, Masriati, serta keluarga besar, ia menunaikan ziarah kubur, yasinan, dan tahlilan di makam almarhum ayahandanya, Manyur Mante.
Suasana yang mengemuka bukan sekadar hening, melainkan penuh takzim dan haru yang lirih. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun perlahan, seakan merangkai jembatan batin antara yang hidup dan yang telah berpulang. Di sela-sela doa yang dipanjatkan, terselip rasa rindu yang tak terucap, namun terasa dalam-dalam. Membaur dalam tiap helaan napas para peziarah.
Bagi Mahyunadi, ziarah ini bukan ritual tahunan yang dijalankan tanpa makna. Ia menegaskan bahwa tradisi tersebut adalah bentuk bakti yang terus dirawat, sebuah pengingat akan akar kehidupan yang tak boleh dilupakan.
“Melalui doa, kita berharap segala amal ibadah orang tua diterima di sisi Allah, sekaligus menjadi pengingat bagi kita untuk selalu berbuat baik selama masih diberi kesempatan hidup,” ujarnya.

Teks foto: Mahyunadi, Isteri, ibunda dan seluruh keluarga besar ziarah di pusara ayahanda tercinta
Pernyataan itu mengalir tenang, namun mengandung makna yang dalam. Idulfitri, menurutnya, tidak berhenti pada gema takbir dan saling bermaafan. Lebih dari itu, hari kemenangan ini menjadi ruang kontemplasi, merenungi perjalanan diri, menautkan kembali tali silaturahmi. Serta menumbuhkan rasa syukur atas limpahan nikmat yang kerap luput disadari.
Prosesi doa yang dipimpinnya berlangsung dengan penuh kesungguhan. Di penghujung kegiatan, ia kembali mengingatkan keluarga yang hadir tentang pentingnya memelihara sifat sabar, ikhlas, dan senantiasa bersyukur. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, bukan hanya tuntunan spiritual, melainkan bekal yang menuntun langkah dalam menghadapi beragam dinamika kehidupan.

Kegiatan itu kemudian ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah keluarga. Canda yang mengalir ringan di antara mereka seolah menjadi penawar duka yang tersisa, sekaligus meneguhkan kembali ikatan kekeluargaan. Dalam kehangatan Idulfitri, momen tersebut menjelma menjadi simpul kebersamaan, hening namun sarat makna, sederhana namun membekas dalam ingatan.
Di tengah hiruk-pikuk perayaan, ziarah ini menghadirkan jeda. Sebuah ruang sunyi untuk mengingat, mendoakan, dan meneguhkan kembali arti bakti yang tak lekang oleh waktu. (kopi4/kopi3)































