Teks Foto: Pertemuan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiaman dengan komunitas Odah Etam (Miftah/Lintang-Pro Kutim)
SANGATTA – Langkah kecil sering kali menjadi awal dari perubahan besar. Di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), sekelompok anak muda mulai merintis gerakan yang berpijak pada kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membuka kemungkinan ekonomi baru. Melalui komunitas Odah Etam, mereka berupaya menunjukkan bahwa sampah plastik tidak harus berakhir sebagai limbah, melainkan dapat diolah menjadi sumber nilai yang bermanfaat.
Gerakan ini memang masih dalam tahap awal. Namun, semangat yang tumbuh di kalangan generasi muda tersebut perlahan memperlihatkan arah yang lebih terstruktur. Odah Etam sendiri berdiri pada 2023 sebagai wadah anak muda yang memiliki perhatian terhadap isu lingkungan, pariwisata, serta pelestarian budaya lokal di Kutim.

Teks foto: Bupati Ardiansyah mengunjungi TPST di Pasar Induk Sangatta Beberapa Waktu lalu (Vian-Pro Kutim)
Dalam perkembangannya, komunitas ini mulai menaruh perhatian khusus pada persoalan sampah plastik. Sebuah problem yang tidak hanya dihadapi daerah, tetapi juga menjadi tantangan nasional. Data World Population Review tahun 2021 menempatkan Indonesia pada peringkat kedelapan sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia.
Masalah plastik bahkan lebih mengkhawatirkan. Berdasarkan data Sustainable Waste Indonesia, dari sekitar 12,87 juta ton sampah plastik yang dihasilkan pada 2023, hanya sekitar tujuh persen yang berhasil dikelola dengan baik. Selebihnya masih berakhir di tempat pembuangan atau mencemari lingkungan.
Melihat kenyataan tersebut, sejak awal 2025 Odah Etam mulai memusatkan perhatian pada pengelolaan limbah plastik sebagai sektor utama yang digarap. Fokus ini menjadi langkah awal untuk membangun sistem usaha yang lebih jelas dan berkelanjutan dalam bidang pengolahan sampah plastik.


Teks Foto: Pengolahan dan pemilahan sampah di TPST berbasis Lingkungan dan Edukasi di Desa Wlahar Wetan, Banyumas, Jawa tengah (Vian-Pro Kutim)
Pada Kamis, (26/3/2026), komunitas ini melakukan audiensi dengan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut, Odah Etam memaparkan sejumlah program yang tengah dirintis, termasuk rencana pengembangan pengolahan sampah plastik secara lebih sistematis.
Salah satu agenda strategis yang disampaikan adalah rencana studi banding ke Rumah Plastik Mandiri di Kabupaten Buleleng, Bali. Melalui kunjungan tersebut, tim Odah Etam bersama PT Kaltim Prima Coal (KPC) berencana mempelajari langsung proses pengelolaan sampah plastik secara menyeluruh, mulai dari tahap pengumpulan, pemilahan, pengolahan menjadi biji plastik, hingga proses produksi serta pemasaran produk. Saat ini, Odah Etam diperkuat oleh sepuluh anggota aktif yang menjadi penggerak utama berbagai kegiatan komunitas.
Dalam pertemuan itu, Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman memberikan sejumlah pesan penting. Ia mengingatkan agar gerakan tersebut tidak bergantung sepenuhnya pada bantuan pihak lain.
“Jangan sampai ketika bantuan itu tidak ada lagi, kegiatan ini ikut berhenti. Harus bisa mandiri dan berkelanjutan,” pesannya.
Ardiansyah juga mendorong agar pemanfaatan biji plastik tidak hanya diarahkan pada produk furnitur atau bahan bangunan seperti genteng dan batako. Ia menyarankan agar bahan tersebut dapat dikembangkan menjadi material kerajinan manik-manik yang dimanfaatkan masyarakat Dayak. Sehingga memberi nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal.
Selain itu, Odah Etam diminta memperkuat kerja sama dengan komunitas peduli sampah serta berbagai tempat pengelolaan sampah di Kota Sangatta. Kolaborasi hingga tingkat rukun tetangga (RT) dinilai penting agar pengumpulan dan pemilahan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil di masyarakat.
Superintendent Local Business Development PT Kaltim Prima Coal, Faizal, menilai langkah yang dilakukan Odah Etam merupakan inisiatif yang positif.
“Kami melihat ini sebagai gerakan yang baik. Walaupun baru mulai, ini punya potensi besar jika dikelola dengan konsisten dan serius,” ujarnya.


Teks Foto: berbagai produk olahan limbah plastic (pinterest.id)
Sementara itu, Founder Wadah Etam, Ibnu Mahaddhir, menjelaskan bahwa komunitas ini dibentuk dengan tujuan sederhana, mengajak anak muda peduli terhadap lingkungan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sampah.
“Tujuan kami sederhana, bagaimana sampah ini bisa jadi sesuatu yang berguna dan bisa bantu ekonomi teman-teman juga,” ungkap Ibnu.
Sebagai komunitas yang masih bertumbuh, Odah Etam juga memberi perhatian pada edukasi dasar mengenai pemilahan sampah sejak dari rumah. Kesadaran tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih tertata.
Untuk mendukung ketersediaan bahan baku, Odah Etam mulai menjalin kerja sama dengan berbagai pihak di Kutom. Mulai dari sekolah, bengkel motor dan mobil, kafe, hingga lingkungan RT dalam pengumpulan sampah plastik.
Meski langkahnya masih sederhana, gerakan ini membawa harapan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil. Dengan memadukan kepedulian lingkungan, peluang ekonomi, serta nilai budaya lokal, Odah Etam berharap semakin banyak anak muda di Kutim yang ikut terlibat dalam upaya menjaga bumi sekaligus membangun masa depan. (kopi4/kopi3)































