Beranda Kutai Timur Ruang Tunggu Sarat Ilmu, Edukasi TBC Menyapa Pasien RSUD Kudungga

Ruang Tunggu Sarat Ilmu, Edukasi TBC Menyapa Pasien RSUD Kudungga

90 views
0

Teks: edukasi bahaya TBC di ruang tunggu RSUD Kudungga Sangatta. (Ist)

SANGATTA – Waktu menunggu di ruang pelayanan rumah sakit acap kali terasa panjang dan menjemukan. Kursi-kursi berjajar, pasien dan keluarga menanti giliran dengan wajah lelah, sementara jarum jam terasa berjalan lambat. Namun suasana berbeda tampak di ruang tunggu rawat jalan RSUD Kudungga pada Rabu, (26/3/2026).

Siang itu, ruang tunggu yang biasanya sunyi oleh penantian berubah menjadi ruang percakapan kecil yang hangat. Sekitar 45 orang, pasien maupun keluarga yang menunggu layanan di poli saraf serta antrean obat di apotek, mendapatkan penyuluhan ringan mengenai tuberkulosis (TBC). Kegiatan edukatif tersebut dipandu oleh Kepala Bidang Keperawatan rumah sakit RSUD Kudungga, Yuliana Kalalembang.

Alih-alih sekadar duduk terpaku menunggu panggilan, para pengunjung diajak menyimak penjelasan mengenai penyakit TBC. Mulai dari informasi cara penularan, gejala, hingga pentingnya pengobatan yang tuntas. Penyuluhan berlangsung sederhana, tanpa podium atau perangkat resmi, hanya percakapan yang mengalir di tengah kerumunan kursi ruang tunggu. Bagi sebagian pengunjung, kegiatan ini menjadi selingan yang memberi makna pada waktu menanti.

Resmiayana, perempuan berusia 60 tahun yang datang berobat ke poli saraf, mengaku senang dengan adanya kegiatan tersebut.

“Senang dapat masukan dan pengalaman,” ujarnya singkat setelah mengikuti penyuluhan.

Kesan serupa disampaikan Agusniyusa, 54 tahun, yang tinggal di kawasan Jalan Yos Sudarso 1, depan Buana Mekar. Ia merasa informasi yang diperoleh dari kegiatan tersebut tidak berhenti pada dirinya sendiri.

“Senang mendengar penyuluhan dan akan bercerita lagi ke yg lainnya,” katanya.

Di tengah kesibukan pelayanan kesehatan yang tak pernah benar-benar sepi, kegiatan kecil seperti ini menghadirkan nuansa yang berbeda. Waktu menunggu yang biasanya terasa hambar berubah menjadi ruang berbagi pengetahuan. Percakapan pun tidak berjalan satu arah. Sejumlah peserta bahkan mengajukan pertanyaan, menandakan ketertarikan mereka terhadap topik yang dibahas.

Menurut Yuliana, interaksi semacam itu justru menjadi inti dari kegiatan edukasi di ruang pelayanan publik.

“Selaku pihak rumah sakit, saya senang bisa menyapa setiap orang dan memberikan edukasi2 ringan. Respon mereka cukup baik dan beberapa diantaranya bahkan bertanya, sehingga terjalin komunikasi dua arah. Semoga bermanfaat,” harapnya.

Bagi pihak rumah sakit, penyuluhan singkat di ruang tunggu bukan hanya cara menyampaikan informasi kesehatan, melainkan juga upaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Edukasi yang disampaikan secara langsung dan sederhana diharapkan dapat menambah pemahaman warga mengenai penyakit menular seperti TBC, penyakit yang masih memerlukan perhatian serius dalam upaya pencegahan.

Harapan pun disematkan pada kegiatan serupa di masa mendatang. Pihak rumah sakit berharap semakin banyak pengunjung yang memperoleh tambahan pengetahuan kesehatan selama berada di fasilitas pelayanan medis. Dengan begitu, ruang tunggu tak lagi sekadar tempat menanti, melainkan juga ruang belajar yang sunyi namun bermakna. Tempat pengetahuan kesehatan bertumbuh di sela-sela jeda pelayanan. (kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini