Foto: ist
SANGATTA – Ancaman kemarau panjang yang dipicu fenomena iklim El Nino mulai diantisipasi serius oleh Perumda Air Minum Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Perumdam TTB Kutim). Perusahaan daerah penyedia air bersih itu menetapkan status siaga sejak April hingga Oktober 2026, menyusul prediksi menguatnya El Nino ekstrem yang berpotensi menyurutkan sumber air baku di sejumlah wilayah Kutim.
Langkah kewaspadaan tersebut ditempuh agar pelayanan air bersih bagi masyarakat tetap terjaga, kendati ancaman kekeringan membayang.
Direktur Utama Perumdam Kutim, Suparjan, menjelaskan bahwa berbagai strategi mitigasi telah dijalankan untuk memastikan pasokan air tidak terganggu secara signifikan.

Salah satu ikhtiar yang ditempuh adalah memaksimalkan seluruh pompa yang tersedia di instalasi pengambilan air. Selain itu, perbaikan pada komponen stang valve (batang pengatur katup aliran) juga dilakukan agar arus air menuju intake dapat mengalir secara penuh dan stabil.
“Saat ini, tiga unit pompa di intake baru sudah beroperasi. Masing-masing pompa memiliki daya 56 kW dan difungsikan untuk meningkatkan kemampuan pengambilan air baku,” ujarnya.
Optimalisasi tersebut mulai menunjukkan hasil. Di lokasi intake lama, kondisi elevasi air terpantau mengalami peningkatan. Berdasarkan pemantauan sekitar pukul 14.07 WITA, pompa berdaya 56 kW di titik tersebut kembali dapat dioperasikan untuk memperkuat pasokan. Dengan berbagai penyesuaian teknis itu, total debit air yang berhasil ditingkatkan kini mencapai 339 liter per detik. Angka tersebut melonjak cukup tajam dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 185 liter per detik.

“Peningkatan debit ini diharapkan bisa bertahan mengikuti siklus pasang surut. Apabila pola tersebut mampu bertahan selama 4 hingga 5 jam, maka peluang menambah pasokan air menjadi lebih besar,” kata Suparjan.
Menurut dia, kemampuan membaca pola pasang surut air menjadi salah satu strategi penting dalam menghadapi kondisi ekstrem. Melalui pemantauan tersebut, Perumdam dapat menentukan waktu yang tepat untuk memaksimalkan penyedotan air baku, sekaligus mengendalikan laju operasi ketika kondisi tidak memungkinkan.
“Jika pola ini dipertahankan, kita bisa tahu kapan tancap gas sedot air, kapan ngerem,” ujarnya saat meninjau Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kabo, Senin (27/4/2026).
Sementara itu, Direktur Teknik Perumdam Kutim, Galuh Boyo Munanto, menegaskan bahwa seluruh kekuatan teknis kini dikonsolidasikan untuk menjaga kesinambungan distribusi air kepada pelanggan. Pernyataan itu disampaikannya di Kantor Pusat Perumdam TTB, Kabo Jaya, Sangatta.

Data operasional terkini menunjukkan bahwa penurunan curah hujan mulai berdampak pada sejumlah wilayah pelayanan. Kaliorang dan Sangkulirang menjadi daerah pertama yang mengalami penyusutan debit air.
Galuh memperkirakan situasi tersebut berpotensi merambat ke wilayah Bengalon serta kecamatan lain secara bertahap apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
“Kami terus memantau fluktuasi level air sungai di setiap titik pengambilan (intake). Saat ini, penurunan debit sudah mulai dirasakan. Kami bergerak cepat mengantisipasi perluasan dampak ke wilayah operasional lainnya,” ungkap Galuh.

Untuk menghadapi fenomena yang kerap dijuluki El Nino “Godzilla”, sebutan populer bagi fase El Nino yang sangat kuat, manajemen Perumdam menetapkan tiga pilar mitigasi. Pertama, optimalisasi produksi, yakni memaksimalkan infrastruktur yang ada agar tekanan distribusi tetap terjaga meskipun sumber air baku menyusut. Kedua, respons cepat kebocoran, melalui pengawasan jaringan pipa secara lebih intensif guna menekan kehilangan air atau Non-Revenue Water (air yang hilang sebelum sampai ke pelanggan). Ketiga, sinergi operasional, yaitu memperkuat koordinasi antar-cabang serta unit kerja di lingkungan Perumdam.

Selain melakukan penyesuaian teknis, perusahaan daerah itu juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam menjaga ketersediaan air selama musim kering. Pelanggan diimbau menggunakan air secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan pokok serta menghindari pemborosan. Warga juga dianjurkan menyiapkan tandon atau wadah penampungan air sebagai langkah antisipatif jika sewaktu-waktu terjadi penurunan tekanan distribusi. Di sisi lain, masyarakat diharapkan proaktif melaporkan kebocoran pipa di area publik melalui kanal resmi Perumdam agar dapat segera ditangani.
“Kami berupaya maksimal demi menjaga pelayanan di tengah cuaca ekstrem ini. Kami memohon pengertian pelanggan jika nantinya terjadi kendala teknis akibat menurunnya debit air baku. Komitmen kami adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat Kutim,” pungkas Galuh. (*/kopi3)































