Beranda Kutai Timur Pemkab Kutim Dukung Penuh BEP, Investasi Batu Bara di Muara Wahau 

Pemkab Kutim Dukung Penuh BEP, Investasi Batu Bara di Muara Wahau 

70 views
0

Bupati Ardiansyah Sulaiman menerima audiensi PT BEP. Foto: Nasruddin/Pro Kutim

SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman menerima audiensi jajaran manajemen PT Bhakti Energi Persada (BEP) di ruang kerjanya, Jumat (17/7/2026). Pertemuan tersebut membahas rencana investasi sektor pertambangan di Kecamatan Muara Wahau.

Salah satu agenda utama yang dibahas ialah rencana pembangunan tempat penampungan sementara (stockpile) batu bara di Desa Jak Luay, Kecamatan Muara Wahau. Pembangunan fasilitas itu merupakan tindak lanjut atas arahan teknis Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur terkait pemenuhan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL).

Menanggapi rencana tersebut, Ardiansyah menyatakan dukungannya selama seluruh proses berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut dia, investasi yang masuk ke Kutim diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Silakan dilaksanakan sesuai prosedur. Saya senang karena investasi ini akan menambah lapangan kerja baru di Kutim,” kata Ardiansyah.

Ditemui setelah audiensi, Direktur PT BEP Murodi mengatakan, audiensi dilakukan untuk menyampaikan rencana uji coba penambangan di wilayah Muara Wahau. Menurut dia, perusahaan memiliki cadangan batu bara yang cukup besar, namun hingga kini belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena masih menghadapi sejumlah kendala.

“Yang kami sampaikan kepada Bapak Bupati adalah rencana memulai percobaan tambang di Muara Wahau. Cadangan kami cukup besar, tetapi masih ada kendala, terutama jalan hauling sepanjang sekitar 120 kilometer yang belum selesai,” ujar Murodi.

Ia menjelaskan, Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT BEP sebenarnya telah terbit sejak sekitar 2014. Namun, hingga pertengahan 2026 perusahaan belum dapat memulai operasi penambangan secara komersial.

“IUP kami sudah ada sejak 2014, tetapi memang belum beroperasi karena kendala tersebut,” katanya.

Selain infrastruktur jalan angkut, perusahaan juga menghadapi tantangan dari kualitas batu bara yang tergolong berkalori rendah, sekitar 3.200 kcal. Kondisi itu membuat biaya operasional menjadi lebih tinggi dan memengaruhi tingkat keekonomian proyek.

“Hauling kami jauh, sementara kalori batu bara hanya sekitar 3.200. Itu juga menjadi tantangan bagi kami,” tutur Murodi.

Menurut dia, kelayakan investasi pembangunan jalan hauling sangat bergantung pada perkembangan harga batu bara dunia. Perusahaan berharap harga komoditas tersebut meningkat sehingga proyek dapat berjalan lebih ekonomis.

“Kami berharap harga batu bara terus membaik agar investasi pembangunan jalan menjadi lebih layak secara ekonomi. Target kami, mudah-mudahan dalam tiga tahun ke depan sudah bisa beroperasi,” tutupnya. (kopi14/kopi13/kopi3) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini