Beranda Kutai Timur Maestro Kuntau Kakek Oto Kembali Beraksi demi Warisan Leluhur di HUT Senambah 

Maestro Kuntau Kakek Oto Kembali Beraksi demi Warisan Leluhur di HUT Senambah 

21 views
0

Pesilat Kuntau, Oto (60) tampilkan jurus silat saat HUT 76 Desa Senambah. Foto:Bagus/Pro Kutim

MUARA BENGKAL – Gemuruh tepuk tangan membahana di Lapangan Sepak Bola Desa Senambah, Rabu (29/7/2026). Di tengah kemeriahan HUT ke-76 Desa Senambah dan Syukuran Listrik 24 Jam, perhatian ratusan pasang mata tertuju pada sosok pria sepuh namun terlihat masih bertenaga. Beliau adalah Oto, maestro seni beladiri tradisional Kuntau, yang kini menginjak usia 60 tahun.

Tampilnya Kakek Oto sapaan akrabnya menjadi momen istimewa. Pasalnya, sang maestro sebenarnya sudah menyatakan pensiun dan beristirahat total dari dunia persilatan selama lebih dari 20 tahun terakhir.

“Sebenarnya saya sudah tidak mau tampil lagi,” aku Mbah Oto jujur.

Namun, pendiriannya luluh setelah terus dibujuk oleh Kepala Desa Senambah, Akhmad Lamo. Bujukan itu bukan tanpa alasan kuat; Kakek Oto diakui sebagai satu-satunya sosok di Desa Senambah yang masih menguasai penuh ilmu beladiri warisan leluhur ini.

Alasan utama yang akhirnya menggerakkan hati Kakek Oto untuk kembali turun gelanggang adalah rasa tanggung jawab moril.

“Saya merasa bahwa silat ini harus dilestarikan. Saya mau tampil serta mengingat beladiri ini adalah budaya leluhur kami, agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya.

Gerakan Kuntau yang diperagakan Kakek Oto di hadapan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman, dan para tamu undangan lainnya, memperlihatkan keindahan sekaligus ketegasan teknik pertahanan diri khas Kalimantan Timur (Kaltim). Penampilannya menjadi pengingat kuat akan kekayaan budaya yang tersimpan di wilayah pedalaman.

Apresiasi tinggi datang langsung dari Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman. Dalam sambutannya, Bupati menyatakan kekaguman atas dedikasi Kakek Oto dan pentingnya menjaga warisan budaya seperti Kuntau.

“Saya berharap generasi selanjutnya, anak-anak muda di Desa Senambah dan Mulupan, dapat meneruskan seni beladiri tradisional Kuntau ini. Yang ditampilkan hari ini mungkin baru jurus basic, masih ada jurus-jurus lain yang harus dipelajari agar budaya ini tetap hidup,” harap Ardiansyah.(kopi5/kopi13/kopi3)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini